Posted by: kualaclipping | November 26, 2009

Soal Proyek Lingkungan Hutan Aceh ; Yayasan Hirau Nanggroe Bantah BPKEL dan Walhi

Serambi Indonesia on 26 November 2009 – 09:36

BANDA ACEH – Persoalan proyek lingkungan hutan Aceh atau Aceh Forest Environment Project (AFEP) masih terus bergulir. Yayasan Hirau Nanggroe menilai program tersebut cukup berhasil. Sehingga tidak alasan untuk tidak memperpanjang proyek tersebut. Ketua Yayasan, H Muakhir Hasan, menyatakan hal tersebut kepada Serambi dalam pernyataan tertulisnya yang diserahkan, Rabu (25/11). Dia dengan tegas membantah pernyataan Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Louser (BPKEL) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh.

Sebagaimana pernah diberitakan koran ini, BPKEL mengatakan bahwa Gubernur akan memanggil seluruh pelaksana proyek hutan dan lingkungan Aceh untuk diminta pertanggungjawabannya, menyusul banyaknya komplain dari berbagai pihak bahwa proyek tersebut belum membawa manfaat untuk konservasi dan masyarakat Aceh. Pernyatan tersebut kemudian juga didukung oleh Walhi Aceh.

Menurut Muakhir, pernyataan itu mendiskreditkan Yayasan Lauser Internasional (YLI) dan Flora Fauna Internasional (FFI). Dia juga mengaku telah menanyakan hal ini kepada Gubernur Aceh. Muakhir tak yakin jika Gubernur tidak akan memperpanjang proyek tersebut. Alasannya, Gubernur telah menandatangani dua buah surat dukungan terhadap YLI dan FFI.

“Pernyataan yang dikeluarkan mengatasnamakan BPKEL sangat membingungkan masyarakat dan tendensius. Saya pikir, pernyatan itu tidak santun. Jika mereka tak mampu lagi mengelola BPKEL, sebaiknya serahkan saja ke PNS. Selama ini BPKEL dipegang oleh pihak swasta yang pimpinannya dipilih secara tidak transparan,” kata Muakhir.

Menurut dia, proyek AFEP ini dikerjakan secara profesional. Stering Commite AFEP yang diketuai T Said Mustafa selalu mengecek kinerja APEF setiap empat bulan sekali. Bank Dunia selaku donor juga mengecek setiap enam bulan sekali melalui konsultan lapangan. Selain itu, YLI dan FFI selalu diaudit oleh konsultan publik.

“Salah besar jika proyek ini dikatakan tak berhasil. Saya tahu persis keberhasilan proyek ini dan kinerja YLI. Yayasan kami pernah mendampingi YLI dalam penyadaran masyarakat di kawasan ekosistem Lauser,” pungkasnya. Dia juga menyesalkan pihak Walhi yang hanyut dan mendukung pernyataan BPKL. “Mereka mengatakan pelaksana AFEP tak berhasil, padahal BPKEL sendiri mengalami konflik internal. Saya menegaskan bahwa semua yang dikatakan BPKEL itu tidak beralasan. Saya berharap agar pemimpin dan masyarakat Aceh jangan cepat terpengaruh oleh pernyatan mereka yang membingungkan,” tandasnya.

Muakhir menambahkan, Gubernur Aceh perlu meninjau kembali orang-orang yang bekerja di BPKEL. Apalagi kinerja badan ini dinilai kurang maksimal, tak mampu bekerjasama dengan lembaga pemerintahan dan minim koordinasi dengan pelaku penting sektor kehutanan. “Gubernur harus mengecek kembali kompetensi mereka, jika perlu lembaga ini harus diisi oleh orang yang berkompeten melalui fit and proper test,” pungkas Muakhir Hasan.(gun)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: