Posted by: kualaclipping | November 25, 2009

YLI dan BPKEL Gagal Bangun Kesadaran Lingkungan Leuser

Laporan: M.Nizar Abdurrani │The Globe Journal | Rabu, 25 November 2009

Source: www.theglobejournal.com

Banda Aceh – Program Aceh Forest Enviroment Project (AFEP) yang sedang dilakukan oleh Yayasan Leuser Lestari (YLI) dan program yang dilaksanakan Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL) harus segera dievaluasi menyeluruh  dan tidak perlu dilanjutkan kembali. Demikian disampaikan oleh juru bicara Forum Masyarakat Tengah Tenggara Pedalaman Aceh (FORMATTDA) Nasrulzaman, kepada The Globe Journal, Kamis (25/11) di Banda Aceh.

Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan oleh Gubernur Aceh, Ketua BPKEL dan Direktur WALHI Aceh. Nasrulzaman yang baru saja mengunjungi wilayah pedalaman Aceh Tenggara mengatakan evaluasi menyeluruh itu perlu dilakukan untuk menghindari penolakan dan reaksi negative dari warga di lima kabupaten terluas yang bersinggungan dengan wilayah Leuser tersebut.  “Apa yang dilakukan oleh YLI dan BPKEL di wilayah kami sama sekali tidak berkontribusi positif bagi warga untuk melakukan pelestarian secara swadaya dan mandiri,”kritik Nasrulzaman.

Ia menambahkan seharusnya sudah ada keberanian dari setiap stakeholder yang akan bekerja di wilayah Leuser untuk menolak kerjasama dengan pihak manapun jika program yang akan dilakukan tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat atau tidak mampu mendorong keswadayaan warga pinggir Leuser untuk secara mandiri melakukan perlindungan bagi alam Leuser. “Coba lihat Kabupaten Aceh Tenggara dan Gayo Lues, warga dan tokoh di kedua kabupaten ini sangat keberatan dengan program-program yang mengatasnamakan Leuser tetapi warga sekitar sangat minim keterlibatannya pada program yang ada tersebut. Bukankah setiap program yang dilakukan nantinya pasti akan berdampak pada masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut?” gugat Nasrulzaman.

Hal inilah yang menyebabkan wajar rasanya jika warga semakin lama semakin besar penolakannya terhadap keberadaan kedua lembaga YLI dan BPKEL tersebut.  YLI dengan program AFEP-nya setelah bekerja sejak empat tahun yang lalu, menurutnya telah gagal membangun kesadaran warga Leuser untuk memberikan perlindungan terhadap lingkungan hutan di wilayahnya masing-masing.

Sedangkan BPKEL yang pembentukannya berdasarkan Pergub No. 52 tahun 2006 juga dirasakan warga kurang bermanfaat keberadaannya selain karena legitimasi massa dan yuridisnya yang lemah juga keberadaanya dianggap tumpang tindih dengan peran dan tugas yang dijalankan oleh lembaga negara lainnya seperti BTNGL, DISHUT,dan BKSDA.

Nasrulzaman juga mengimbau kepada Gubernur Aceh agar menjelang tahun 2010 ini dilakukan konsolidasi besar stakeholder Leuser untuk membicarakan arah dan sinergisasi gerakan penyelamatan Leuser agar tidak di dominasi oleh YLI dan BPKEL.[003]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: