Posted by: kualaclipping | November 25, 2009

Kasus Pukat Trawl di Nagan, 10 Nakhoda Kapal Jadi Tersangka; Kapolres: Mereka Kini Ditahan

Serambi Indonesia on 25 November 2009 – 14:34

SUKA MAKMUE – Aparat Kepolisian Resor (Polres) Nagan Raya, Senin (23/11), resmi menetapkan status tersangka kepada sepuluh nakhoda (kapten) kapal nelayan yang menggunakan trawl (pukat harimau) dalam menangkap ikan. Semua mereka warga Labuhan Haji, Aceh Selatan, yang ditangkap di peraian Desa Babah Lueng, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, pekan lalu. Kesepuluh nakhoda itu kini mendekam di tahanan Mapolres Nagan Raya untuk menjalani pemeriksaan intensif. Selain itu, aparat kepolisian Nagan Raya menduga masih banyak nelayan yang beroperasi di pantai Nagan dan kabupaten tetangganya menggunakan pukat trawl dalam menguras biota laut. Terkait dengan itu, Kapolres Nagan Raya, AKBP Drs Ari Soebijanto, menyatakan pihaknya tetap akan menciduk para nelayan lainnya yang kedapatan menggunakan trawl untuk menangkap ikan. “Mereka pasti akan kita tindak,” tegas Kapolres Nagan Raya kepada Serambi, Selasa (24/11) kemarin.

Menurut Ari, kesepuluh nakhoda itu ditetapkan sebagai tersangka setelah polisi melakukan pemeriksaan maraton terhadap ke-29 orang nelayan yang ditangkap sejak Jumat hingga Senin (20-23/11) lalu. “Mereka semua masih kita tahan, karena terbukti melanggar Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan,” ungkap Ari.

Kata Ari, pihaknya hingga kini masih terus mendalami kasus tersebut guna mengungkap fakta terbaru di balik kasus itu. Bahkan untuk mendukung penyidikan, pihaknya juga telah mengamankan sejumlah barang bukti, berupa sepuluh unit kapal, sepuluh unit pukat trawl, serta beberapa bukti lainnya untuk memudahkan proses hukum.

Bahkan, Kapolres Ari Soebijanto menduga sejauh ini masih ada sejumlah nelayan di perairan setempat yang menggunakan pukat trawl untuk menangkap ikan di laut lepas. Aksi itu dia nilai bisa merusak kehidupan biota laut dan lingkungan, apalagi pukat tersebut sudah lama dilarang beroperasi oleh negara. Berdasarkan UU Perikanan, kata Ari Soebijanto, para tersangka diancam kurungan penjara di atas lima tahun.

Berbahaya
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nagan Raya, Bustami Harun SP kepada Serambi, Jumat (20/11) lalu, menyatakan penggunaan pukat trawl oleh nelayan saat menangkap ikan di laut lepas sangat membahayakan lingkungan dan biota laut, termasuk terumbu karang. Sebab, pukat jenis ini memang tidak ramah lingkungan dan main sapu bersih. Ikan-ikan kecil yang tidak komersial pun terjaring.

Karenanya, ia berjanji akan melakukan penyaluran pukat ramah lingkungan untuk nelayan di Nagan Raya supaya tak lagi menggunakan pukat trawl. Diakuinya, hingga saat ini puluhan nelayan di wilayah itu masih menggunakan trawl saat melaut. “Kami melarang penggunaan trawl di wilayah ini, karena penggunaan pukat trawl dilarang oleh negara,” kata Bustamai.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tim Polres Nagan Raya, Kamis (19/11) sekitar pukul 17.00 WIB, menangkap sepuluh boat yang menggunakan trawl yang selama ini sering beroperasi di kawasan pantai Desa Babah Lueng, Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya. Aparat kepolisian yang bersenjata lengkap juga berhasil menciduk 27 anak buah kapal (ABK) dan dua orang pimpinan dari kelompok tersebut yang sebagian besar warga Labuhan Haji, Aceh Selatan. Kini mereka ditahan di sel Mapolres Nagan Raya guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. (edi)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: