Posted by: kualaclipping | September 3, 2009

Getirnya Hidup Petani Garam

www.serambinews.com on 3 September 2009, 09:12

ADI dan Ilyas, dua petani garam di Kelurahan Blang Paseh Kecamatan Kota Sigli, Pidie, tampak berjalan menyelusuri pematang tambak garam mereka di areal lancang garam di Kelurahan Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. Meskipun harga garam sedang menukik turun, keduanya tersenyum melihat butir garam yang mulai mengkristal setelah sehari dijemur di panas mata hari. Sudah sebulan harga garam rakyat ini turun drastis. Garam halus yang prosesnya di masak harga sebelumnya Rp 1.900/kg, kini di tengah-tengah kenaikan harga gula dan barang pokok menjelang hari raya, turun jadi Rp 1.500/Kg, dan garam kasar turun dari Rp 900 jadi Rp 500. Membuat hidup petani garam susah berat.

Di Kabupaten Pidie saat ini terdapat sekitar 200-an petani garam. Mereka tersebar di Kelurahan Blang Paseh Kecamatan Kota Sigli, dan kawasan lancang sira di Peukan Sot, Cebrek, Sukon Kecamatan Simpang Tiga. Selruhnya terdapat 250 lancang sira yang menghasilkan garam putih sekitar 1.200 ton setahun.

Selama ini garam yang diproduksi petani garam ini disuplai ke kota-kota di pesisir timur Aceh, dan untuk keperluan industri perikanan dan es di Medan. Harga garam tradisional ini lebih murah dibanding garam impor dan garam yang dipasok dari tempat lain. Meski harga garam anjlok, namun petani garam setempat tetap memproduksi garam tradisional untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Guna menyiasati kebutuhan hidup yang semakin hari semakin bertambah, sementara harga jual garam menurun, petani garam mengaku terpaksa melakukan efisiensi biaya hidup agar tidak banyak menambah modal. “Kecuali harga naik dan ada pesanan dalam jumlah besar,” kata Adi yang menyewakan lancang sira miliknya kepada tetangganya.

Dalam tahun 2009 ini ada program Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam. Program ini dikelola oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Aceh, dengan cara pemberian peralatan produksi garam yang lebih efisien. Kalau selama ini petani garam menggunakan belanga pemasak garam sebanyak 4 buah yang terbuat dari drum dibelah dua, kini kepada seluruh petani garam rakyat ini akan diberikan peralatan baru yang akan dibagikan cuma-cuma, terbuat dari bahan steel anti karat berkuran 2 kali lebih besar maka hasil produksi juga menjadi 2 kali lebih banyak dari yang dihasilkan dapur lama. ika dapur lama tiap kali masak yang menelan waktu enam jam, diperoleh hasil 60 kg garam, kini dengan dapur baru dan belanga steel yang berukuran 180 CM x 120 CM X 025 CM diperoleh hasil 120 kg per belanga sekali masak dalam waktu yang sama.

Di Peusangan
Berbeda dengan di Pidie, petani garam di Tanoh Anow, Peusangan masih menghadapi masalah turunnya zat garam kalau musim hujan akibatnya lahan dan air di lahan garam menjadi tawar. Tapi petani tak hilang akal. Mereka menggunakan garam Madura yang kadar garamnya tinggi untuk campuran garam lokal. Modal memang bertambah lagi karena pembelian garam Madura. Cara itu mau tidak mau harus mereka tempuh, dari pada menghentikan produksi sama sekali.

Tanoh Anow Kabupaten Bireun merupakan produsen garam tradisional terbesar di Aceh. Ada 292 unit usaha garam rakyat dengan pekerja tetap di lancang siranya adalah para wanita dan anak-anak remaja. Kawasan yang dalam setahun menghasilkan 3.000 ton garam atau sekitar 25% dari kebutuhan Aceh setahun, merupakan pemasok garam ke seluruh Aceh. Saat ini garam lokal tidak lagi menjadi komoditas ekspor yang menguntungkan, hingga tak ada yang memonopolinya lagi. Sementara garam impor bebas membanjiri pasar dalam negeri dari Sabang sampai Meurauke memukul produk garam sendiri. Akibatnya garam memang tetap asin, tapi hidup petaninya bertambah getir bukan. (basri daham)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: