Posted by: kualaclipping | September 3, 2009

Dies Natalis Ke-48 Unsyiah: Guru Besar Universitas Leiden Paparkan Hikayat Aceh, Gubernur Tantang Peneliti Ungkap Sejarah Aceh

www.serambinews.com on 3 September 2009, 13:52

BANDA ACEH – Guru Besar Univesitas Leiden, Belanda, Prof Dr Teuku Iskandar mengatakan, Hikayat Aceh merupakan catatan yang membuka tabir tentang asal-usul Kerajaan Aceh Darussalam. Tapi, sayang naskah yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (Belanda) dengan nomor CordOr 1954 dan Perpustakaan Nasional di Jakarta sudah banyak halamannya yang hilang.

“Karena itu, untuk mengungkap sejarah Aceh yang lebih jelas perlu dilakukan penelitian lebih mendalam lagi,” kata Prof Dr Teuku Iskandar, yang sekarang menjadi Guru Besar di Universitas Leiden Belanda, dalam orasi ilmiahnya di depan Rapat Senat Terbuka Dies Natalis Ke-48 Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), di Gedung ACC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Rabu (2/9).

Pada acara yang dipimpin langsung oleh Rektor Unsyiah, Prof Dr Darni M Daud MA dan turut dihadiri Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, serta para civitas akademika Unsyiah, Teuku Iskandar yang merupakan putra Aceh kelahiran Pidie itu memaparkan pidato ilmiahnya berjudul: “Hikayat Aceh Mencatat Fajar Menyingsing Kerajaan Aceh Darussalam, Bustanussalatin Senjakalanya”. Menurut Teuku Iskandar, setelah dirinya mengeluarkan teks tentang Hikayat Aceh tersebut banyak orang yang menaruh minat, sehingga memunculkan berbagai pendatang tentang karya sastra tersebut. Misalnya, H Pent yang menterjemahkan teks Hikayat Aceh itu dalam bahasa Jerman dengan judul: Hikayat Aceh, cerita mengenai asal-usul dan masa kecil Sultan Iskandar Muda.

“Judulnya yang mengangung masa kecil Iskandar Muda saja sudah menyeleweng dari dari konsep asli karya ini,” kritik pria berperawakan kecil kelahiran, 14 Oktober 1924 yang mantan Dekan Fakultas Ekonomi Unsyiah pertama tahun 1959. Sedangkan, AH Johns dalam artikelnya: The Turnig Image; Myth & Reality in Malay Perceptions The Past, berpendapat bahwa –naskah hikayat Aceh yang berasal dari abad ke-17 itu– strukturnya dipengaruhi oleh akbar namah (biografi akbar) tidak tepat. Johns lebih cendrung menilai karya tersebut sebagai cerita pelipurlara atau cerita hikayat. Hal ini bila dibandingkan dengan Bustanu’s-Salatin karya Nurudin ar-Raniry.

Hubungan hikayat Aceh, katanya, dengan biografi Timur Lank abad ke-14 dinilai agak dicari-cari walaupun dengan terjemahannya dari abad ke-17 sekalipun. “Menurut Braginsky, Hikayat Aceh bukan dikarang pada zaman Sultan Iskandar Muda melainkan pada zaman pemerintahan puterinya Sultanah Taju’l-Alam Safiatuddin Syah (1641-1675 M),” katanya. Dalam hikayat Aceh dijumpai sejumlah alim-ulama atau pembesar istana Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda, seperti Seri Raja Khatib yang menikahkan ayah-bunda Sultan Iskandar Muda, Fakih Khoja Manassih. Fakih merupakan guru mengaji Mansyur Syah (ayah Iskandar Muda).

Dari sejumlah nama alim-ulama yang dekat dengan Sultan Iskandar Muda hanya Syaikh Syamsuddin Pasai dan Syaikh Ibrahim bin Abdullah asy-Syami yang dianggap memenuhi syarat sebagai pengarang hikayat Aceh –yang dalam naskah aslinya tidak dicamtumkan nama pengarang. Menurut sisilah segala raja-raja yang jadi Kerajaan Dalam Aceh Bandar Darussalam. Sultan Johan Syah yang datang dari barat telah mengislamkan Aceh pada hari Jumat 1 hari bulan Ramadhan 601 H atau tanggal 22 April 1205 M. Sisilah dalam dokumen ini belum seluruhnya dapat disahkan. “Maka untuk itu perlu diadakan penelitian di sekitar makam-makam Kandang, Meurah Sa dan Meurah Dua,” saran T Iskandar yang juga mantan Dekan Fakultas Hukum Unsyiah pertama pada tahun 1960.

Menantang peneliti
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dalam kesempatan itu mengajak para dosen dan pakar sejarah yang ada di Unsyiah untuk kembali menulis dan meneliti tentang kebenaran sejarah Aceh. Karena selama ini buku tentang sejarah Aceh sangat sedikit, sehingga banyak generasi Aceh yang tidak mengetahui tentang sejarah negerinya sendiri.

“Saya meminta para peneliti dan ahli sejarah di Unsyiah untuk melakukan penelitian tentang sejarah Aceh. Apa pun yang diperoleh tentang fakta sejarah itu harus ditulis dengan benar dan tidak boleh diputarbalikkan. Siapa yang mau melakukan ini akan saya biayai dengan dana dari APBA 2010 mendatang,” katanya yang mendapat aplusan panjang dari para hadirin.

Rektor
Sementara itu Rektor Unsyiah, Prof Dr Darni M Daud MA dalam laporannya pada sidang senat terbuka mengatakan, jumlah mahasiswa Unsyiah saat ini mencapai 25.758 orang terdiri dari mahasiswa program sarjana 20.561 orang, diploma 3.028 orang, pascasarjana 2.272 orang. “IPK rata-rata mahasiswa tahun 2008 adalah 3,1 dan tahun 2009 ditargetkan bisa mencapai 3,2. Jumlah lulusan yang telah dihasilkan sampai saat ini 47.598 orang. Jumlah ini tidak termasuk lulusan diploma,” kata ektor Unsyiah itu.(sup)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: