Posted by: kualaclipping | September 2, 2009

Inflasi di Banda Aceh Kembali ke Posisi Tertinggi

www.serambinews.com on 2 September 2009, 08:56

BANDA ACEH – Tren kenaikan harga barang dan jasa (inflasi) di Banda Aceh yang sebelumnya sempat menurun, Agustus kemarin kembali melonjak mencapai 1,45 persen. Kondisi ini sekaligus kembali menempatkan Banda Aceh sebagai daerah dengan inflasi bulanan tertinggi di Sumatera, bahkan secara nasional yang hanya 0,56 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menunjukkan, inflasi yang terjadi Agustus 2009 hampir menyamai inflasi yang terjadi pada September 2008 yang sebesar 1,67 persen. Kepala BPS Aceh, Syech Suhaimi, menyebutkan angka inflasi Agustus tersebut merupakan yang tertinggi dari 16 kota di Sumatera.

Setelah Banda Aceh, inflasi tertinggi berikutnya terjadi Pematang Siantar (1,38%), Bandar Lampung (1,33%), Lhokseumawe (1,06%), Pangkal Pinang (0,92%), Medan (0,91%), Padang Sidempuan (0,57%), Pekan Baru (0,57%), Bengkulu (0,54%), Sibolga (0,49%), Padang (0,45%), Batam (0,33%), Dumai (0,24%), dan Tanjung Pinang (0,11%).

“Hanya satu daerah di Sumatera yang mengalami deflasi (penurunan harga barang dan jasa) yaitu Palembang sebesar 0,14 persen,” kata Syech saat membacakan berita resmi statistik, Selasa (1/9). Dia jelaskan, inflasi di Banda Aceh terjadi karena kenaikan harga pada kelompok barang. Kelompok bahan makanan inflasi sebesar 3,52 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 2,81 persen. kelompok kesehatan 0,67 persen, dan kelompok pendidikan rekreasi dan olahraga 0,15 persen.

Inflasi tertinggi terjadi pada antara lain pada kelompok bumbu-bumbuan sebesar 8,63 persen, diikuti kelompok sayur-sayuran 7,93 persen, dan subkelompok ikan segar 6,23 persen. “Kelompok yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain tongkol dengan andil sebesar 0,2409 persen, cabe merah 0,2338 persen, udang basah 0,2068 persen, tomat, telur ayam ras, daging ayam ras, cabe hijau, kerapu, bandeng, rambe, dan emping mentah,” sebut Syech Suhaimi.

Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi yaitu kelompok perumahan, air, listrik, ikan, gas, dan bahan bakar. “Ikan yang diawetkan, buah-buahan, dan subkelompok lemak dan minyak juga mengalami penurunan harga,” imbuhnya. Ia menambahkan dari 66 kota di Indonesia yang dipantau harga dan dihitung IHK-nya, 63 kota mengalami inflasi dan tiga kota mengalami deflasi. “Inflasi tertinggi terjadi di kota Manokwari dengan inflasi sebesar 2 persen, Palu 1,56 persen, dan Banda Aceh 1,45 persen. Sementara tiga kota yang mengalami deflasi adalah Sorong sebesar 0,76 persen, Kupang 0,30 persen, dan Palembang 0,14 persen.(ami)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: