Posted by: kualaclipping | September 1, 2009

Kelanjutan Pembangunan Jembatan Lambeuso: Pemerintah Aceh Ultimatum USAID; Jembatan Kartika Sudah Bisa Dilalui Truk

www.serambinews.com on 1 September 2009, 14:57

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh mengultimatum pihak USAID (United State Agency for International Develpment) selaku donatur yang membangun jalan di lintasan pantai Barat, agar kembali melanjutkan pembangunan jembatan Lambeuso di Lamno, Aceh Jaya, sampai akhir September ini. Jika tidak, maka Pemerintah Aceh akan mengambil alih kelanjutan pembangunannya.

“Jika sampai batas waktu tersebut, pihak USAID belum juga memberikan jawabannya, maka kita akan ambil alih kelanjutan pembangunan jembatan tersebut,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh, Muhyan Yunan, yang didampingi dua Kasubdinnya, Fajri dan Yusmadi, saat meninjau lokasi jembatan Lambeuso bersama Ketua Komisi D DPRA, Sulaiman Abda dan anggota Almanar SH, kepada pers, Senin (31/8).

Sikap tegas rencana mengambil alih kelanjutan dari pembangunan kembali jembatan Lambeuso itu, menurut Muhyan Yunan, didasari dari tuntutan masyarakat Pantai Barat-Selatan agar Pemerintah Aceh memberikan perhatian lebih serius lagi terhadap pelaksanaan pembangunan kembali ruas jalan negara Banda Aceh-Meulaboh, yang telah memasuki lima tahun pascatsunami 2004 lalu. “Khusus rute Lamno-Calang, sampai sekarang, belum juga tuntas dikerjakan,” katanya.

Menurut Muhyan, untuk menyelesaikan jembatan itu hanya dibutuhkan waktu enam bulan. Hal ini disebabkan, abudmen atau tempat duduk kerangka jembatan bajanya sudah selesai, kemudian tiang panjang tengah jembatan sudah dipasang dan hanya tinggal pengecorannya saja. “Bahkan, kerangka jembatan bajanya telah berada di lokasi. Kalaupun ada komponen yang hilang paling baut-bautnya saja,” ujarnya.

Seorang pengawas proyek jalan Banda Aceh-Calang yang dipercayakan USAID, Roy Ventura, ketika dimintai penjelasannya mengenai kelanjutan pembangunan jembatan Lambeuso mengatakan, pihaknya masih berkeinginan melanjutkannya. “Tapi kapan pekerjaannya bisa dimulai lagi, sampai sekarang kita masih menunggu persetujuan dari Kantor Pusat USAID di Amerika,” katanya.

Sikap tegas
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRA, Sulaiman Abda didampingi anggota Almanar mengatakan, Pemerintah Aceh sudah seharusnya mengambil sikap tegas terhadap kelanjutan dari pembangunan jembatan tersebut. “Harus berapa lama lagi, masyarakat Pantai Barat-Selatan yang ingin ke ibukota provinsi, Banda Aceh, harus menggunakan rakit di Lambeuso, karena jembatannya hingga kini belum juga dibangun kembali,” katanya.

Menurut politisi dari Partai Golkar itu, seharus pihak USAID selaku donatur bisa lebih bersikap gentlement dan harus segera merampungkan semua pembangunan infrastruktur yang sudah disanggupinya sebelumnya. “Tapi, sebaliknya jika memang sudah tidak ada keinginan melanjutkan pekerjaannya, termasuk pembangunan kembali jembatan Lambeuso yang amat vital itu, sebaiknya disampaikan secepatnya kepada Pemerintah Aceh untuk dapat dicarikan jalan keluarnya,” kata Sulaiman Abda.

Menurut hitungan pihak DPRA, sebut Almanar, untuk melanjutkan pekerjaan jembatan Lambeso itu dibutuhkan dana sekitar Rp 10 miliar hingga Rp 20 miliar lebih. Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh, Muhyan Yunan yang dimintai penjelasannya mengatakan, untuk melanjutkan kembali pembangunan jembatan rangka baja Lambeuso dibutuhkan dana sekitar Rp 25 miliar.

Kembali menurut Muhyan Yunan, kebutuhan dana itu, katanya, sudah pernah dibicarakan kepada Menteri PU, Joko Kirmanto, dan sudah disetujui untuk pengalokasian dananya. Alasannya, karena jembatan Lambeuso itu masuk dalam ruas jalan negara Banda Aceh-Meulaboh. Karena masuk dalam jalan negara, biaya pembangunannya lebih baik diusul melalui sumber APBN. “Jika APBN tidak sanggup membiayai sepeluruhnya, baru diambil dari alternatif untuk memenuhinya dari sumber APBA supaya pembangunan jembatan itu bisa cepat selesai,” ujar Muhyan.

Terkait dengan perbaikan jembatan bally Kartika milik TNI, di Sungai Lamdurian Lamno, Muhyan mengatakan, untuk sementara ini sudah bisa dilalui truk bermuatan 20 ton. Setelah tiang penyangga besinya selesai dipasang di bawah jembatan bally, jembatan itu mampu menahan beban sampai 40 ton. “Tapi, untuk menampung beban 40 ton, baru bisa dilakukan pekan depan,” kata Muhyan mengutip Indra selaku pelaksana lapangan penguatan jembatan belly Kartika, Lamdurian dari Zidam.(her)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: