Posted by: kualaclipping | July 19, 2009

DKA, IKA dan PKA V

Opini oleh: Jauhari Samalanga

www.serambinews.com on 19 July 2009, 08:15

ADA tiga lembaga kesenian yang menyeret profesionalisme pemerintahan Aceh, yaitu Dewan Kesenian Aceh (DKA), Institut Kesenian Aceh (IKA) dan event Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Lewat lembaga dan even itulah sebenarnya upaya membangun seni dan budaya Aceh diusung. Sayangnya ketiga hal ini tak bisa diharapkan.

Kita sebut saja DKA, sebagai representati dari pemerintah Aceh, seharusnya mengakomodir seniman di Aceh, namun cenderung hanya sebagai underbow pemerintah Aceh sejak dulu. Sedangkan IKA sebagai bentukan pemerintahan Aceh setali tiga uang. Malahan sempat diperdebatkan lantaran ‘kebodohan’ atau tak profesionalnya lembaga itu setelah memberikan wewenang itu kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bukan pada Dinas Pendidikan layaknya sebuah lembaga pendidikan.

Sekarang yang lagi anyar dibicarakan tentang pelaksanaan PKA yang menurut Barlian AW dinilai sebagai event “pekan kedai Aceh” atau menurut plesetan Ampuh Devayan (baca Serambi, red) sebagai “peukaten” Aceh” dengan menender bak proyek bisnis, tidak ada satu yang bisa diproyeksikan sebagai gerakan kebudayaan Aceh. Event itu hanya diukur secara fisik, misal panggung kayu, sound toa, Ligthing handscraf dan iming-iming ‘wah’ yang menjadi tolak ukur keberhasilannya. Jika begitu jadinya, maka ini akan lebih gawat. Pemerintah Aceh harus menanggung ‘malu’ yang luar biasa, lantaran kabupaten/kota di Aceh telah membeli produksi murahan dengan harga yang begitu mahal.

Lewat tulisan singkat ini, saya mengingatkan kita agar tak usah berkeluh kesah. Kita lihat saja apa yang akan dilakukan pemerintah Aceh yang menjadi sutradaranya. Kita hanya bisa berharap bagaimana memformat seni dan budaya Aceh menjadi satu ikon perubahan dalan tatanan sosial masyarakat di Aceh. Bila itu gagal harus disambut baik, karena asumsi awal memang dinilai gagal, kecuali aspek bisnis dari event tersebut.

Sejatinya, pemerintah menyadari kekeliruan selama ini, terutama melakukan rehabilitasi terhadap tiga hal (DKA, IKA, dan event PKA) dengan program-program mereka yang tidak memiliki frame secara jelas. Apalagi DKA yang hanya main tunjuk, seharusnya diserahkan kepada forum kesenian lewat DK di tingkat kabupaten/kota. Karena merekalah yang lebih tahu kapasitas kepengurusan DKA.

Selama ini DKA hanya melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat musiman. Ini berarti, DKA telah mengfungsikan dirinya sebagai Event Organizer, bukan organizer pencairan kegiatan untuk kabupaten kota, layaknya sebuah lembaga dewan. Pemerintahg Aceh seharusnya mengambil-alih kepengurusan DKA, dengan mengeluarkan surat perintah dilaksanakan musyawarah besar yang memang sudah lewat dari masa kepengurusan mereka. Demikian juga niat baik mendirikan Institut Kesenian Aceh (IKA) harus dikaji ulang. Bagaimana mungkin lembaga itu bisa berkreatif, jika sampai saat ini tim perumus yang dibentuk tidak bekerja sama sekali. “Seharusnya sudah renstra apa yang akan dilakukan,” gugat Sulaiman Juned SSn.,M.Sn, pelaku seni dan Dosen tetap STSI Padang Panjang.

Sementara event PKA V, tak lebih sebagai moment pembodohan masyarakat yang dikemas dengan seni budaya. Seperti tulisan saya sebelumnya, PKA kali ini cenderung sebagai event mumpungi alias bagi-bagi ‘jatah’ proyek. Dimana seluruh dinas yang ada di Aceh terlibat mengurusi PKA, padahal sebenarnya keberadaan itu tidaklah efektif, kecuali memunculkan kecurigaan. Semestinya PKA diundurkan dan dilaksanakan dengan waktu yang tepat. Apalagi EO yang di SK kan Gubernur, sama sekali tidak professional dalam menuyiapkan event yang memakan dana miliaran rupiah itu. Kita berharap bisa mengakhiri pembodohan ini, Kita mesti berani menuding diri untuk membuka lembaran budaya Aceh yang baru. Jika tidak maka bersiaplan menjadi keledai yang mengulang-ulang pekerjaan dan selalu terperosok pada lubang yang sama.

* Penulis adalah Direktur Forum Seni dan Budaya Aceh (SeBA) dan aktivis seni.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: