Posted by: kualaclipping | July 10, 2009

Prospek Komoditas Karet Menjanjikan

www.serambinews.com on 10 July 2009, 09:12

TANAMAN-karet merupakan komoditias andalan perkebunan selain kelapa sawit di Kota Subulussalam. Bahkan, prospek usaha karet ini dinilai jauh lebih menjanjikan dibanding kelapa sawit dan lebih stabil sehingga petani dapat lebih sejahtera. Sayangnya, di Subulussalam tanaman karet yang merupakan komoditi unggulan belakangan ini mulai terlupakan oleh kilauan kelapa sawit.

Kelapa Sawit sungguh menjadi primadona para petani di Subulussalam. Di lapangan, pengembangan perkebunan kelapa sawit ini dapat ditemui di hampir seluruh penjuru daerah hasil pemekaran dari Aceh Singkil itu. Padahal, faktanya tanaman kelapa sawit nyaris tidak dapat diandalkan untuk peningkatan ekonomi petani lantaran komoditas tersebut sangat ketergantungan. Sehingga, program pembangunan perkebunan kelapa sawit di Subulussalam bukanlah langkah yang tepat untuk meningkatkan perekonomian rakyat di sana.

Seperti yang disampaikan Sarbika SP, seorang petugas perkebunan kepada Serambi beberapa waktu lalu menuturkan betapa rumitnya pengembangan kelapa sawit. Dikatakan, mulai dari pemelihan bibit yang wajib berasal dari benih besertifikat. Jika tidak, maka bagaimanapun perawatan yang dilakukan tanaman tersebut tidak dapat berproduksi secara maksimal. Selain itu, kata Sarbika, untuk pengembangan kelapa sawit juga tidak terlepas dari pemupukan yang terus menerus ditambah perawatan lainnya.

“Wajib dipupuk, kalau tidak akan berpengaruh pada kualitas dan produksi buahnya,” kata Sarbika Belum lagi ditambah dengan rendahnya harga jual Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang menjadikan petani tetap berada di wilayah kemiskinannya. Ini belum lah cukup, TBS yang telah dipanen akan mudah menyusut dan membusuk apabila tidak segera dijual ke pihak pabrik. Karena itu, kata Sarbika, bagi masyarakat pekebun karet, sebenarnya jauh lebih menguntungkan, karena mempunyai kemandirian. Sebab, lanjut dia, karet bisa disadap, diproses secara tradisional, dan disimpan untuk kemudian dijual kapan diinginkan. “Sementara kelapa sawit dalam sehari saja setelah dipanen sudah membusuk,” ujarnya

Selain itu, biaya perawatan yang harus dikeluarkan oleh petani perkebunan kelapa sawit dua kali lipat lebih tinggi dibanding dengan komoditas karet. Sehingga, di segi memberdayakan masyarakat dengan kebun karet dinilai lebih menguntungkan. Keuntungan lain, tambah Sarbika, pengembangan komoditas karet tidak begitu berpengaruh terhadap kelestarian alam.Karena itu, seiring dengan semakin membaiknya harga karet di pasaran, semestinya komoditi karet perlu dikembangkan kembali oleh masyarakat sebagai sumber mata pencaharian.

Oleh sebab itu, Sarbika menyarankan kepada pemerintah baik propinsi maupun pemko Subulussalam untuk menggalakkan perkebunan karet dengan memotivasi masyarakat menggeluti usaha tersebut. Apalagi teknologi pembudidayaan dan penyadapan serta pengolahan karet sudah banyak dikuasai masyarakat, ditambah lahan di Subulussalam cukup ideal untuk tanaman tersebut sehingga sudah sewajarnya pembangunan perkebunan di arahkan ke sektor tersebut.

“Karena bagaiamanapun prospek kelapa sawit namun di lapangan petani tetap saja mengeluh oleh harga TBS yang berbanding terbalik dengan biaya perawatan seperti pupuk,” tandas Sarbika. Terobosan-terobosan terhadap sektor perkebunan karet ini, kata Sarbika misalnya mengenai peremajaan karet, karena saat ini pohon-pohon karet milik rakyat atau petani karet sudah banyak yang tua-tua sehingga tidak produktif lagi, bahkan tak sedikit pula yang mati. Sementara penanaman baru sangat minim. Karena diiakuinya, usia tanaman karet mampu berproduksi hingga umur 25 hingga 30 tahun, namun harus didukung dengan pemeliharaan dan pengelolaan tanaman yang baik. Sehingga dengan adanya upaya peremajaan, di masa yang akan datang, sektor karet tetap menjadi primadona bagi masyarakat kota “Sada Kata” itu.

Intinya, pemerntah diharapkan dapat menggiatkan kembali petani karet dengan memberikan bantuan permodalan. Alasannya, jika usaha karet dibangun kembali, kesejahteraan dan keterlibatan masyarakat semakin dapat ditingkatkan. Pemerintah harus berusaha membangun perkebunan sebagai penyangga utama perekonomian masyarakat di sana seperti yang pernah dijalankan pada era 1990-an dalam program Unit Pengembangan Perkebunan (UPP). (khalidin)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: