Posted by: kualaclipping | July 9, 2009

Kita Harapkan USAID Serius Tangani Jalan

Salam Serambi

www.serambinews.com on 9 July 2009, 08:03

Ekses penghentian pembangunan jalan Lamno-Calang pada section IV, termasuk jembatan Lambeusoi di Lamno sejak Februari 2008 oleh USAID selaku penyandang dana telah memunculkan persoalan serius dalam hal transportasi darat dari dan ke pantai barat-selatan tersebut. Butiknya, pemandangan memprihatinkan seperti armada angkutan harus merenangi sungai terlihat di jalur ini.

Salah satu dampak yang ditimbulkan akibat terhentinya pembangunan jembatan Lambeusoi adalah truk pengangkut barang maupun bus penumpang berbadan lebar harus melewati jalan dan jembatan bailey yang dibangun pada masa tanggap darurat pascatsunami. (Serambi edisi, Rabu (7/7).

Dan, salah satu jembatan yang harus dilewati itu adalah jembatan Kartika di Desa Lamdurian, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Namun, sejak beberapa waktu lalu, pihak TNI melarang angkutan bertonase tinggi melewati jembatan tersebut. Alasannya memang masuk akal, yakni dikhawatirkan jembatan itu ambruk. Tetapi, akibatnya angkutan yang muatannya di atas 10 ton harus melewati sungai.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang keberedaan jembatan tersebut, Selasa lalu, Ketua Komisi D DPRA Sulaiman Abda, Sekretaris Komisi D Almanar, Kabid Rehab Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh Ir Yusmadi, seorang konsultan dan anggota monitoring pelaksanaan jalan Calang-Banda Aceh, Samsul meninjau kondisi jembatan bailey Kartika di Desa Lamdurian, Kecamatan Jaya.

Untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan kembali jembatan Lambeusoi yang telah diterlantarkan selama 14 bulan, Ketua Komisi D DPRA Sulaiman Abda berjanji akan menyurati Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta guna mempertanyakan kapan pekerjaan jembatan Lambeusoi tersebut dilanjutkan.

Menurut Sulaiman, kebijakan itu dilakukan Komisi D DPRA karena Proyek Menajer Jalan Calang-Banda Aceh dari USAID, Roy Ventura, pernah berjanji kepada DPRA akan melanjutkan proyek jembatan itu setelah dua bulan dihentikan sementara dari kontraktornya, PT Wijaya Karya.

Tapi faktanya, hingga 14 bulan terhenti ternyata belum ada tanda-tanda proyek itu akan dilanjutkan. “Akibat terhentinya penyelesaian jembatan Lambeusoi, juga menghambat pelaksanaan pengaspalan jalan Calang-Lamno,” kata Sulaiman Abda. Kita tentu saja mendukung langkah Ketua Komisi D DPRA tersebut guna mempertanyakan keseriusan Amerika (USAID) dalam menangani jembatan tersebut. Pasalnya, Amerika memang terkesan tidak serius lagi menangani jalan tersebut. Pemerintah Aceh harus berani mengambil langkah lain guna menyelesaikan kasus yang telah berlarut-larut itu. Kita juga berharap USAID tidak memposisikan diri seperti “bing bak babah bubue”, dimana orang lain tak bisa masuk, sementara dia sendiri tidak mau keluar. Kalau ini yang terjadi tentu saja sangat menyakitkan masyarakat!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: