Posted by: kualaclipping | July 9, 2009

Di Aceh Utara Hancur Berat

www.serambinews.com on 9 July 2009, 11:30

LSM SILFA menilai bahwa sejauh ini program pemberantasan penebangan liar (illegal logging) yang digiatkan Pemerintah Aceh tidak membawa hasil. Bahkan LSM peduli lingkungan itu mengklaim kalau hutan Aceh sekarang ini sudah tahap hancur berat, termasuk di Aceh Utara. “Hal ini sangat marak terjadi pasca-MoU yang mengakibatkan kehancuran pada alam dengan sangat beragam, mulai dari longsor, banjir, konflik satwa, hingga kesenjangan ekonomi,” papar Direktur LSM Silfa Irsadi Aristora, kepada Kontras, Selasa (30/6).

Dikatakan, hingga kini penebangan liar di Aceh Utara masih berlangsung. Bila terjadi hujan dua hari saja, sejumlah titik akan banjir. Contohnya di kawasan Lhoksukon, Matang Kuli, dan Panton Labu. “Sebenarnya, faktor paling menentukan terjadinya illegal logging adalah ekonomi. Karena sekarang ini hampir semua masyarakat di pinggiran hutan akan selalu berpikir memotong kayu untuk bertahan hidup. Soalnya, di sana tidak ada lain lapangan pekerjaan yang mudah dan bisa menghasilkan uang,” paparnya.

Akibat lainnya, menurut Irsadi, kerusakan hutan Aceh Utara telah membuat bencana tanah longsor, seperti yang terjadi di Kecamatan Langkahan pada bulan Desember tahun 2008 yang lalu. Dampak lainnya, meningkatnya eskalasi konflik gajah dengan manusia saat ini. Dijelaskanya, di saat hutan dirambah, maka gajah ataupun harimau akan turun ke permukiman penduduk. Fenomena ini terjadi di kawasan Kecamatan Langkahan, Cot Girek, Paya Bakong, Nisam Antara dan Meurah Mulia. Warga di kawasan itu selalu diganggu gajah.

Harimau yang turun ke pemukiman banyak memangsa ternak warga, seperti yang terjadi di kawasan Kecamatan Tanah Luas pada awal Juni 2009 lalu dan Nisam Antara. “Pastinya, bila perambahan terus terjadi tanpa ada yang bisa menghentikan, maka bencana yang diterima umat manusia akan lebih parah lagi dari sekarang ini. Makanya, bila tidak ingin itu terjadi, harus ada sikap dan kebijakan yang pasti untuk menghentikan illegal logging,” tandasnya.

Peraturan yang pasti
Sementara itu, Wakil Ketua DPRK Aceh Utara Ridwan Yunus berpendapat lain. Malah, sebut wakil rakyat ini, bila peraturan larangan memotong pohon tetap ditonjolkan, maka perambahan hutan tidak akan berakhir. Soalnya, jelasnya, manusia butuh kayu untuk berbagai keperluan, termasuk untuk menopang kebutuhan hidup kebutuhan sehari-hari. “Ya, kayu juga bernilai ekonomi,” kata wakil rakyat ini.

Namun, menurutnya, seharusnya pemerintah Aceh juga harus mengambil sebuah kebijakan agar hutan tetap bisa ditebang, namun regenerasi pohon tetap berlangsung. Diumpamakannya, pohon dengan diameter dan umur tertentu yang diperbolehkan ditebang. Tapi, untuk menegakkan aturan ini tentu perlu adanya kesadaran oleh para penebang, agar mau menanam kembali di lokasi yang ditebang. “Bila aturan seperti selama ini, tentunya yang namanya illegal logging akan terus terjadi. Ini untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap kayu,” ujarnya. (bah)


Tabloid KONTRAS Nomor: 496 | Tahun 2 – 9 Juli 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: