Posted by: kualaclipping | July 8, 2009

USAID Telantarkan Jembatan Lambeusoi: Lintasan Lamno-Calang Masih ‘Renangi’ Sungai

www.serambinews.com on 8 July 2009, 14:14

BANDA ACEH – Ekses penghentian pembangunan jalan Lamno-Calang pada section IV, termasuk jembatan Lambeusoi di Lamno sejak Februari 2008 oleh USAID selaku penyandang dana telah memunculkan persoalan serius dalam hal transportasi darat dari dan ke pantai barat-selatan. Pemandangan memprihatinkan seperti armada angkutan harus merenangi sungai terlihat di jalur ini.

Salah satu dampak yang ditimbulkan akibat terhentinya pembangunan jembatan Lambeusoi, truk pengangkut barang maupun bus penumpang berbadan lebar harus melewati jalan dan jembatan bailey yang dibangun pada masa tanggap darurat pascatsunami. Salah satu jembatan yang harus dilewati adalah jembatan Kartika di Desa Lamdurian (Kecamatan Jaya). Namun sejak beberapa waktu lalu, pihak TNI melarang angkutan bertonase tinggi melewati jembatan itu karena khawatir ambruk. Akibatnya, angkutan yang muatannya di atas 10 ton harus melewati sungai.

Pada Selasa (7/7), tim dari Pemerintah Aceh yang terdiri dari Ketua Komisi D DPRA Sulaiman Abda, Sekretaris Komisi D Almanar, Kabid Rehab Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh Ir Yusmadi, seorang konsultan dan anggota monitoring pelaksanaan jalan Calang-Banda Aceh, Samsul meninjau kondisi jembatan bailey Kartika di Desa Lamdurian.

Sopir truk angkutan barang yang ditemui tim di lokasi jembatan mengeluhkan persoalan yang mereka hadapi. Mereka tak punya pilihan kecuali harus mengarungi sungai karena jembatan bailey Lamdurian yang dibangun TNI pada masa tanggap darurat pascatsunami tahun 2005 tidak mampu menahan beban di atas 10 ton. Kondisi begini telah berlangsung lama.

Mustika, seorang sopir bus PMTOH didampingi Abdullah, sopir truk barang asal Calang, mengatakan, penyebab lain terjadinya kendala transportasi di jalur Banda Aceh-Calang karena terhentinya pembangunan jembatan Lambeusoi oleh USAID. “Hingga kini belum ada tanda-tanda pembangunannya akan dilanjutkan,” lapor Mustika kepada Ketua Komisi D (Bidang Pembangunan/Transportasi) DPRA, Sulaiman Abda.

Harus secepatnya
Sulaiman didampingi Wakil Ketua Basrun Yusuf SH, dan Sekrtaris Komisi D DPRA, Almanar SH mengatakan, persoalan transportasi di lintas Banda Aceh-Calang perlu secepatnya tindaklanjuti. Solusi pertama adalah memperkuat kapasitas jembatan bailey Kartika dan jembatan bailey Lageun, Aceh Jaya. Kedua jembatan itu sekarang ini hanya mampu menahan beban 10 ton dan harus ditingkatkan menjadi di atas 20 ton.

Untuk program itu, kata Sulaiman Abda dan Almanar, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh bersana bagian jembatan bailey Kodam Iskandar Muda, sudah membuat program dan usulan pembiayaan penguatan kedua jembatan akan disampaikan kepada Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.

Menurut perkiraan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh, untuk memperkuat daya tahan kedua jembatan itu dari 10 ton menjadi 20-25 ton, membutuhkan dana Rp 1 miliar lebih. Banyak komponen jembatan bailey yang harus diganti dan ditambah. “Untuk perbaikan kedua jembatan itu, pihak Zeni Kodam Iskandar Muda menyatakan telah bersedia membantu,” kata Sulaiman Abda.

Perbaikan kedua jembatan itu, lanjut Sulaiman harus segera dilakukan, apalagi bulan depan sudah masuk puasa, di mana permintaan kebutuhan bahan pokok semakin tinggi. Kecuali itu, pada bulan depan kemungkinan terjadi hujan besar, sehingga Sungai Lamdurian, tidak bisa direnangi lagi oleh angkutan.

“Karena itu pihak terkait yaitu USAID selaku donor, SSangyong dan PT Hutama Karya selaku kontraktor pelaksana jalan Calang-Lamno maupun Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh serta Zeni Kodam Iskandar Muda, perlu mengambil tindakan penanganannya secara terpadu,” tandas Sulaiman Abda.

Surati Dubes AS
Menyangkut upaya percepatan pelaksanaan pembangunan kembali jembatan Lambeusoi yang telah diterlantarkan selama 14 bulan, Ketua Komisi D DPRA, Sulaiman Abda, bersama wakil ketua dan sekretarisnya, minggu depan akan menyurati Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta untuk mempertanyakan kapan pekerjaan jembatan Lambeusoi itu dilanjutkan.

Menurut Sulaiman, kebijakan itu dilakukan Komisi D DPRA karena Proyek Menajer Jalan Calang-Banda Aceh dari USAID, Roy Ventura pernah berjanji kepada Komisi D akan melanjutkan proyek jembatan itu setelah dua bulan dihentikan sementara dari kontraktornya, PT Wijaya Karya. Tapi faktanya, hingga 14 bulan terhenti ternyata belum ada tanda-tanda akan dilanjutkan. “Akibat terhentinya penyelesaian jembatan Lambeusoi, juga menghambat pelaksanaan pengaspalan jalan Calang-Lamno,” kata Sulaiman Abda.

Karena itu, tegas Sulaiman, pihaknya merasa perlu melaporkan kondisi di lapangan kepada Kedubes AS di Jakarta untuk disampaikan ke Kantor Pusat USAID di Amerika. “Tujuannya supaya DPRA mendapat jawaban pasti dari Dubes AS mengenai solusi percepatan pelaksanaan kembali pembangunan jembatan Lambeusoi itu untuk kelancaran transportasi ke pantai barat-selatan Aceh,” demikian Sulaiman Abda.(her)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: