Posted by: kualaclipping | July 7, 2009

Percepat Pengaspalan Calang-Lamno: USAID Minta Dua Jembatan Direhab; Pemerintah Aceh Turunkan Tim

www.serambinews.com on 7 July 2009, 14:43

BANDA ACEH – Lembaga donor Amerika Serikat (USAID) selaku penyandang dana proyek jalan Calang-Banda Aceh, meminta bantuan Pemerintah Aceh untuk mendanai perbaikan atau rehabilitasi dua jembatan di lintasan itu. Yakni Jembatan Kartika dan Jembatan Lageun yang akan digunakan SSangyong dan PT Hutama Karya mengangkut aspal hotmix-nya untuk mengaspal badan jalan Lamno-Calang yang telah dilebarkan sepanjang 40-60 km.

“Permohonan ini disampaikan USAID dan kedua rekanannya yang mengerjakan ruas jalan Calang-Lamno dengan alasan dana untuk merehab jembatan yang akan dilalui untuk mengangkut aspal hotmix, tidak tersedia anggarannya,” ungkap Kabid Rehab Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh, Ir Yusmadi, kepada Serambi, usai Rapat Terpadu Percepatan Penyelesaian Jalan Calang-Lamno di lantai tiga Kantor Gubernur Aceh, Senin (6/7) kemarin.

Dikatakan, rapat terpadu itu dilaksanakan atas permohonan USAID. Penyandang dana proyek jalan Calang-Banda Aceh itu meminta supaya Pemerintah Aceh membantunya dalam merehab jembatan bailey bernama Kartika di Lamno dan jembatan bailey di Laguen. Kedua jembatan itu agar segera direhab, karena daya tahan jembatannya di bawah 10 ton. Mereka minta direhab supaya kedua jembatan itu bisa menahan beban 20-25 ton agar bisa dilalui truk pengangkut aspal hotmix milik SSangyong dan PT Hutama Karya selaku rekanan yang mengerjakan ruas jalan Calang-Lamno.

Jembatan Kartika dibangun pada masa tanggap darurat pascatsunami pada awal tahun 2005 oleh TNI. Jembatan itu milik TNI dan jika ada pihak yang ingin memerbaikinya, haruslah minta izin pada Bagian Zeni Tempur Kodam Iskandar Muda. Karena terkait dengan TNI, kata Yusmadi, maka dalam rapat terpadu kemarin pihak TNI juga diundang untuk dimintai penjelasannya.

Wakil TNI yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan Jembatan Bailey Kartika itu sampai kini masih dalam pengawasan TNI. Truk-truk barang bermuatan di atas 10 ton dilarang lewat di jembatan tersebut. Hal ini disebabkan kapasitas daya tahan jembatan hanya mampu menahan beban 8-10 ton. Sementara berat truk pengangkut aspal hotmix milik SSangyong dan PT Hutama Karya selaku kontraktor yang mengerjakan jalan Calang-Lamno antara 20-25 ton.

Karena itu, jika jembatan tersebut jadi digunakan untuk lintasan truk pengangkut aspal hotmix bermuatan 20-25 ton, maka jembatannya perlu diperbaiki atau diganti dengan konstruksi jembatan bailey yang baru. Setelah Pemerintah Aceh membeli komponen rangka baja jembatan bailey baru, maka barulah jembatan itu bisa dilintasi truk berkapasitas 20-25 ton.

Untuk menyikapi saran pihak TNI itu, kata Yusmadi dan anggota pengawas proyek jalan Calang-Banda Aceh dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh, Samsul, peserta rapat terpadu akan turun hari ini (7/7) ke Jembatan Kartika di Lamno dan Jembatan Laguen untuk melihat kondisi fisik kedua jembatan itu.

Dari hasil pengataman di lapangan nanti barulah Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh bisa membuat proposal untuk pengadaan komponen jembatan bailey yang baru guna dipasang di lokasi Jembatan Kartika yang lama. Sedangkan komponen Jembatan Kartika lama akan digunakan untuk memperkuat Jembatan Bailey Laguen, supaya daya tahannya terhadap kendaraan barang meningkat dari 10 ton menjadi 20-25 ton.

Ketua Komisi D DPRA, Sulaiman Abda, mengatakan saran yang disampaikan TNI dalam menyikapi permintaan USAID dan kedua rekanannya itu, merupakan hal yang masuk akal. Saran itu perlu secepatnya direspons untuk kelangsungan angkutan sembako ke Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Abdya. Apalagi bulan depan sudah masuk puasa Ramadhan.

Di sisi lain, ujar Sulaiman Abda, setelah Pemerintah Aceh menyahuti permintaan USAID untuk mengatasi kendala pengangkutan aspal hotmix milik SSangyong dan PT Hutama Karya, dengan cara merehab Jembatan Kartika dan Laguen, pihak USAID hendaknya menenderkan kembali pekerjaan Section IV jalan Lamno-Banda Aceh. Sebab, pengerjaan jalan itu telah distop sementara dari PT Wijaya Karya (Wika) pada Februari 2008.

Saat distop sementara pekerjaannya dari PT Wika oleh USAID, kata Sulaiman Abda, rangka baja Jembatan Lambeuso di Lamno telah terpasang 50 meter dari 100 meter panjang seluruhnya. Jembatan yang telah dipasang itu diletakkan di atas sungai. Tapi karena USAID menghentikan sementara pekerjaannya pada Februari 2008, sehingga jembatan itu sampai kini terbengkalai.

Project Manager USAID, Roy, pernah berjanji kepada Komisi D DPRA akan melanjutkan kembali pembangunan jalan tersebut dua bulan setelah penyetopan sementara proyek itu atau setelah pekerjaan PT Wika pada Section I, II, dan III selesai. Menurut laporan PT Wika ke DPRA, mereka telah menyelesaikan borongannya dari USAID mencapai 97 persen. “Tapi untuk paket proyek Section IV, termasuk pembangunan Jembatan Lambeuso, sampai kemarin belum ada tanda-tanda akan dilanjutkan USAID,” ujar Sulaiman Abda. (her)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: