Posted by: kualaclipping | July 4, 2009

Bangkai Paus Terdampar di Pusong

www.serambinews.com on 4 July 2009, 11:15

LHOKSEUMAWE – Bangkai ikan paus ditemukan terdampar di pesisir pantai Pusong, Kota Lhokseumawe, Jumat (3/7). Diperkirakan, paus biru yang panjangnya 7,5 meter dan lebar 2,5 meter itu mati di tengah laut dan terseret arus ke pantai Pusong. Sejumlah nelayan mengaku melihat bangkai ikan yang bernapas dengan paru-paru itu terapung dalam posisi telentang pada Kamis (2/7) sekitar pukul 21.30 WIB, tak jauh dari tempat nelayan biasanya menjemur ikan.

Seorang warga, Maimunah, mengatakan sempat melihat benda mirip perahu kosong yang sedang diseret air terapung-apung. Tak lama kemudian benda itu terdampar dan ternyata bangkai ikan paus yang sudah membusuk. Diperkirakan, ikan yang termasuk bangsa Ketasea –seperti halnya ikan lumba-lumba– ini sudah mati tiga hari sebelum bangkainya terdampar ke pinggir pantai Pusong.

Menurut warga, bangkai paus tersebut menjadi ancaman ekologis/polusi udara bagi warga Pusong dan sekitarnya. Sebab, kalau bangkai itu pecah, maka akan mengeluarkan bau busuk menyengat yang diperkirakan tercium sampai radius dua kilometer. “Untuk menghindari bau busuk, kami berencana menyeret bangkai itu ke laut dan dagingnya bisa langsung dimangsa oleh biota laut lainnya,” kata Sulaiman, warga Pusong, Lhokseumawe.

Diambil minyaknya
Para ilmuwan menyatakan, populasi ikan paus dari waktu ke waktu terus berkurang. Bukan saja karena ikan berbadan bongsor ini sering terdampar dan mati di pinggir pantai, tapi juga karena sering diburu dan dibantai untuk diambil minyak dan dagingnya. Kedua zat itu dapat dimanfaatkan sebagai pemanas dan bahan pangan bagi sebuah desa selama musim dingin.

Beberapa ilmuwan merasa prihatin dan memperkirakan bahwa kurang dari 200 tahun mendatang ikan paus akan punah dari muka bumi. Itu sebab, beberapa dari sembilan jenis paus dilindungi oleh peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional dan di atas kertas segala kegiatan perburuan paus telah diatur dengan undang-undang. Menurut Ensiklopedi Ilmu Pengetahuan Populer, sebenarnya ikan paus bukanlah ikan, melainkan mamalia yang berdarah panas, menghirup udara, dan merupakan keturunan makhluk berkaki empat dan berambut tipis yang hidup di tanah kering.

Sekitar 70 juta tahun silam, nenek moyang paus secara bertahap kembali ke laut dan sedikit demi sedikit tubuhnya menjadi seperti gelendong dan mempunyai ciri-ciri khas yang memungkinkannya bertahan di lingkungannya yang baru. Makhluk raksasa ini berubah menjadi mamalia yang hidup di dalam air, tapi dalam banyak hal masih berfungsi dan berperilaku sebagaimana lazimnya hewan-hewan darat. Misalnya, ikan paus melahirkan anak, membesarkannya, dan bernapas dengan paru-paru. Oleh karenanya, ikan paus harus muncul ke permukaan air ada waktu tertentu untuk menghirup udara, seperti halnya mamalia darat. (ib)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: