Posted by: kualaclipping | June 27, 2009

Terkait Penebangan Ilegal di Aceh Timur; Senin, Polisi Periksa Kadishutbun Aceh, 2.000 Kubik Kayu Sudah Diamankan

www.serambinews.com on 27 June 2009, 12:37

BANDA ACEH – Proses hukum terhadap kasus penebangan kayu secara ilegal di kawasan hutan produksi Desa Seuneubok, Kecamatan Indra Makmue, Aceh Timur terus dilanjutkan oleh Dir Reskrim Polda Aceh. Direktur perusahaan yang membersihkan lahan untuk areal perkebunan sawit di wilayah itu sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Bahkan, Kadishutbun Aceh, Senin (29/6) akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus itu. Kasus penebangan kayu secara ilegal di hutan produksi Seuneubok mulai ditangai Dir Reskrim Polda Aceh sejak awal 2009. Sedangkan proyek pembersihan lahan (land clearing) seluas 500 hektar di wilayah itu untuk pembukaan lahan sawit dimulai 2008.

Tim penyidik Dir Reskrim Polda Aceh kini menahan seorang laki-laki berinisial SD, direktur perusahaan yang memenangkan tender pembersihan lahan untuk pembukaan lahan sawit tersebut. SD ditetapkan sebagai tersangka penebangan 2.000 meter kubik kayu di hutan produksi Desa Seuneubok, September 2008. Kapolda Aceh, Irjen Pol Drs Adityawarman SH MH melalui Dir Reskrim Polda Aceh, Kombes Pol Drs Wahab Saroni menjelaskan, 2.000 meter kubik kayu ilegal bersama 10 unit alat berat kini diamankan di kawasan Desa Seuneubok, Kecamatan Indra Makmue, Aceh Timur.

Jenis kayu berkualitas kelas satu itu di antaranya meranti, semantok, dan sembarang merah. Sedangkan alat berat yang disita meliputi beko dan truk pengangkut kayu. “Setelah berstatus sebagai tersangka, SD kami tahan di Markas Brimob Polda Aceh sejak Kamis 25 Juni 2009,” kata Wahab kepada wartawan, Jumat (26/6). Menurut Wahab, tersangka mengaku tak sengaja menebang kayu di hutan produksi itu, tetapi hanya terjadi kesalahpahaman tentang batas hutan APL (areal penggunaan lain) yang berhak mereka bersihkan dengan hutan produksi yang berbatasan.

Didampingi Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Ahmad dan tim penyidik AKP Rahman Takdir Harahap, Wahab menilai alasan tersangka selaku kontraktor pemenang tender pembersihan 500 hektar hutan untuk pembukaan lahan sawit itu tak masuk akal. Menurut polisi, tersangka sengaja memanfaatkan situasi menebang kayu di hutan produksi karena status mereka sedang memiliki izin land clearing di hutan APL. “Apa mungkin kekeliruan tentang batas hutan APL dengan hutan produksi yang telah mereka tebang itu mencapai 100 hektar,” ujar Wahab dengan nada bertanya.

Wahab menambahkan, pihaknya kini telah memeriksa sembilan saksi yang terlibat dalam proyek itu. Di antaranya Kadishutbun Aceh Timur bersama bawahannya serta pegawai Dishutbun Aceh. Begitu juga pejabat yang berwenang di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Aceh. Mereka dimintai keterangan karena mengeluarkan surat izin pemanfaatan kayu (IPK) dari proyek land clearing di APL dimaksud. “Kadishutbun Aceh juga ikut kami periksa sebagai saksi. Berdasarkan surat panggilan, beliau (Kadishutbun Aceh) akan diperiksa Senin, (29/6). Status semua saksi ditentukan sesuai hasil pemeriksaan,” kata Wahab. Meski belum bisa menaksir kerugian negara atas perbuatan itu, Wahab mengatakan perbuatan tersangka dijerat pasal tentang penebangan hasil hutan tanpa izin.(sal)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: