Posted by: kualaclipping | June 18, 2009

Dampak Penambangan Emas di Gunong Ujeun; Kandungan Merkuri Mulai Mengkhawatirkan, Pemprov Segera Turunkan Tim

www.serambinews.com on 18 June 2009, 14:11

BANDA ACEH – Aktivitas penambangan emas di kawasan Gunong Ujeun, dilaporkan mulai mengkhawatirkan terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia. Sebab, kadar merkuri di kawasan Panggong, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya, itu telah berada pada tahap yang perlu diwaspadai. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bappedalda) Provinsi Aceh kini sedang membentuk tim khusus ke kawasan tersebut. Sementara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat juga telah mengambil sikap. Di Aceh Jaya, pemerintah berupaya menertibkan kegiatan penambangan dimaksud, termasuk tempat pembuangan limbah.

Menurut keterangan warga setempat, aksi penambangan hingga kini masih terus berlangsung. Seratusan orang terlibat dalam penambangan tersebut. Bahkan, usaha pengolahan atau penggilingan batu, kian menjamur. Wartawan Serambi di Aceh Jaya melaporkan, kilang-kilang pengolahan emas mencapai 100 titik lokasi. Secara spatial, lokasi-lokasi tersebut tersebar di beberapa desa di pinggiran Krueng Sabe. Desa tersebut antara lain Panggong (Genie), Gabuh, Bunta, Ranto Panjang, Lingkang, Kulam Beude, Gunung Kruet, dan Keude Krueng Sabe. Kilang-kilang tersebut berada dari hulu hingga ke hilir di bantaran Krueng Sabe.

Akibatnya, Krueng Sabe yang merupakan salah satu sumber air warga sekitar, serta-merta menjadi tempat pembuangan limbah pengolahan emas. “Setiap hari limbah pengolahan emas dibuang ke sungai, sehingga kondisi airnya sudah mulai berbeda dari sebelumnya. Dikabarkan, sungai itu juga sudah mulai mengandung merkuri,” kata seorang warga Kecamatan Krueng Sabe kepada Serambi, Rabu (10/6).

Selama ini ujarnya, warga masih memanfaatkan sungai tersebut sebagai sumber air, baik untuk mencuci, mandi, dan sebagainya. Bila kondisi ini terus dibiarkan, dia khawatir berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan warga yang menetap di daerah aliran sungai (DAS) tersebut. Kekhawatiran warga tersebut sangat beralasan. Bila memperhatikan angka estimasi produk, air buangan mengandung merkuri yang dihasilkan dari kilang-kilang mencapai 14.400 liter per hari. Karena itu, Kecamatan Krueng Sabe merupakan wilayah berpotensi terjadi pencemaran merkuri. Kondisi ini sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat setempat.

Merkuri merupakan salah satu unsur kimia yang biasa digunakan pada proses pemisahan emas dengan unsur logam ikutan lainnya. Logam berat itu dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya beracun (B3). Dampak yang ditimbulkan pada tubuh manusia sangat luas, mulai dari cacat fisik, kangker, kelumpuhan hingga kematian. (Baca: Bahaya Merkuri)

Anggota DPRK Aceh Jaya, Fauzi, mengatakan sudah menerima laporan mengenai tercemarnya Sungai Krueng Sabe akibat pengelohan batu emas. Ia meminta pemerintrah setempat menertibkan lokasi tersebut mencari lahan yang tepat untuk pengolahan emas. Tujuannya, agar pencemaran tidak kian parah. “Kita berharap Pemkab tidak tinggal diam. Hal ini harus segera ditangani,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Jaya, Zamzami A Rani, mengaku pernah menurunkan tim ke lokasi tambang emas Gunong Ujeun dan lokasi usaha pengolahan batu emas. Kata dia, Pemkab kini mencari lokasi yang layak untuk pengolahan batu emas itu. “Kalau untuk pencemaran saya belum terima laporan, tetapi kami akan turunkan tim guna memastikan itu,” jelas Wabup.

Hasil riset
Hasil riset sementara dari sebuah lembaga yang diperoleh Serambi, perkiraan total merkuri yang berputar di kawasan Krueng Sabee per harinya mencapai 600 kilogram. Estimasi tersebut diperoleh dari kebutuhan merkuri dalam sekali penggilingan yang mencapai 0,7 kilogram. Bila dalam sehari semalam sebuah kilang dapat melakukan delapan kali penggilingan, total kebutuhan merkuri per hari mencapai enam kilogram. Angka tersebut selanjutnya dikalikan dengan 100 titik penggilingan, sehingga keluar angka 600 kilogram merkuri per hari.

Mengingat sebuah kilang memerlukan 18 liter air dalam setiap proses penggilingan, total perkiraan air yang bercampur dengan merkuri setiap harinya mencapai 14.400 liter per hari. Jumlah tersebut yang setiap harinya dibuang ke Krueng Sabee. Selain dibuang ke sungai, sebagian merkuri juga ada yang menetes ke tanah atau menguap ke udara saat pemanasan.

Mengkhawatirkan
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bappedalda) Aceh, Husaini Syamaun, mengungkapkan kadar kandungan merkuri di wilayah penambangan Gunong Ujeun sudah pada tahap mengkhawatirkan. Namun, dia belum berani menyebutkan persentase cemaran merkuri di wilayah itu. “Kami belum berani ekspose karena datanya belum otentik. Tapi, dari studi awal, kandungan merkuri di Gunong Ujeuen sudah pada tahap mengkhawatirkan,” ujar Syamaun, yang kemarin mengaku berada di Jakarta.

Kata dia, dalam waktu dekat Bapedalda Aceh segera menurunkan tim khusus ke kawasan tersebut. Selain itu, pihaknya juga sudah menyampaikan kepada Pemkab setempat, agar bahaya pencemaran mercuri ini perlu dicermati dan perlu diberikan pengertian ke masyarakat akan dampak ditimbulkan.

Selain itu, pihaknya juga berupaya memburu dalang intelektual yang memasok merkuri ke pengolahan emas Gunong Ujeun. “Merkuri ini bahan berbahaya. Nggak perlu banyak, sedikit saja mengendap dalam tubuh, dia akan permanen. Tidak akan hilang-hilang,” tandas Husaini.(riz/yos/aza)


Responses

  1. sampe skrg pemasok air raksa nya belum jelas,, atau sengaja ditutup2in x ya… atau jangan2….????
    hmmm….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: