Posted by: kualaclipping | June 15, 2009

Letak Terumbu Karang Buatan tak Diberi Tanda; Nelayan di Pidie dan Pijay Mengeluh

www.serambinews.com on 15 June 2009; 09:02

SIGLI – Sejumlah nelayan di Pidie dan Pidie Jaya (Pijay) mengeluhkan terumbu karang buatan (tempat bermain ikan-red) yang diletakkan sekitar 25 meter di dalam laut. Pasalnya, karang buatan tersebut kerap merusakkan pukat ikan nelayan saat menjaring ikan di laut lepas. Menurut pengakuan nelayan di lokasi diletakkan terumbu buatan bantuan LSM CDI Pidie yang telah diletakkan beberapa bulan lalu, tidak diberi tanda, sehingga nelayan tidak mengetahuinya. Imbasnya, jala nelayan sering rusak saat berlabuh pukat (jala-red), di lokasi karang buatan tersebut.

“Pukat kami mengalami kerusakan akibat tersangkut terumbu karang buatan yang diletakkan di dasar laut. Sehingga kami harus membetulkan jala tersebut, dengan menelan kerugian mencapai Rp 5 juta,” tutur Syarbaini, nelayan warga Gampong Pasi Langcang, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie kepada Serambi, Minggu (14/6).

Selain kerugian material, kata Syarbaini, anak buah kapal (ABK) terpaksa tidak bisa melaut alias nganggur, lantaran pukat rusak. “Kadang-kadang kami sepuluh hari tidak bisa melaut, karena harus memperbaiki pukat yang mengalami kerusakan,” tutur Syarbaini yang dibenarkan nelayan lainnya.

Untuk itu, lanjutnya, CDI diminta memberi tanda di laut tempat di mana terumbu itu diletakkan. “Sebenarnya terumbu karang buatan yang diletakkan di dasar cukup elok bagi nelayan yang memancing ikan, karena karang tersebut tempat bermain dan istirahat ikan. Tapi, peletakkan terumbu buatan tanpa dilengkapi tanda, menyebabkan pukat nelayan rusak saat berlabuh ikan di laut lepas,” kata Syarbaini menambahkan.

Hal senada diungkapkan H Nazar nelayan dari Panteraja, Pijay bahwa pukatnya mengalami rusak akibat tersangkut dengan terumbu karang buatan yang diletakkan di laut. Karena ketika pukat berlabuh, ABK tidak mengetahui lokasi tersebut telah dilaetakkan terumbu karang buatan. “Kami sering tidak bisa pergi melaut, lantaran pukat rusak,” kata H Nazar via telepon kemarin.

Direktur Yayasan CDI Pidie, Muharizal yang dihubungi Serambi, Minggu (14/6) menjelaskan, pihaknya mengakui telah meletakkan tanda di lokasi terumbu karang buatan. Bahkan tanda tersebut telah dipasang dua kali. “Kami telah memasang tanda di lokasi terumbu karang buatan. Namun, karang tersebut acap kali dipotong oleh pihak-pihak tertentu,” kata Muharizal sembari menyebutkan terumbu karang buatan manfaatnya cukup banyak dirasakan masyarakat nelayan.(naz)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: