Posted by: kualaclipping | June 13, 2009

Ancaman Global, Respons Lokal

Opini oleh Ahmad Humam Hamid

www.serambinews.com on 13 June 2009, 10:59

TANGGAL 5 Juni lalu, seluruh masyarakat dunia mengingat dan diingatkan tentang pentingnya makna lingkungan hidup dalam perjalanan kehidupan manusia kini dan di masa depan. Ketika ideologi dan ekonomi menjadi perseteruan, hanya satu simpul yang tersisa untuk membuat semua pihak berada dalam persatuan, yakni ancaman masa depan. Di simpul lingkungan, semua pihak menjadi luluh dan tak berdaya, karena jika alam tak bersahabat lagi, apalagi menjadi ganas, maka lambat atau cepat, nasib semua anak manusia akan terancam. Berbagai fakta, teori, dan prediksi masa depan lingkungan, dengan berbagai skenario, pada umumnya memberikan gambaran yang memaksa semua pihak untuk menyerah. Pada akhirnya, seluruh manusia harus bersatu menghadapi ancaman kepunahan akibat ulah mereka sendiri.

Kenapa lingkungan menjadi ancaman bersama? Meskipun sebagian persoalan lingkungan lebih berhubungan dengan dampak lokal, sebagaian besar yang lainnya tidak mengenal batas administratif, apalagi geografis. Ketika hutan Sumatera dan Kalimantan terbakar misalnya, maka asap yang berangkat menutupi airport Singapura dan Kuala Lumpur adalah asap yang tidak masuk lewat pintu imigrasi dengan menggunakan paspor. Ketika terjadi penggunaan energi fosil yang luar biasa di negara industri, maka terjadilah emisi karbon. Lapisan ozon di atmosfir yang terganggu akibat emisi karbon, membuat panas matahari langsung masuk ke bumi, dan itu membuat perubahan iklim bumi.

Manusia satu bumi
Ketika iklim bumi berubah, bencana alam menjadi lebih sering dan terjadi dimana-mana, semua manusia menderita. Negara miskin akan sangat susah membiayai dan membangun dalam suasana bencana berkelanjutan. Negara kaya di samping mengurus diri sendiri juga berkewajiban menolong negara miskin, sehingga anggaran bantuan luar negeri akan bertambah. Pengrusakan alam dan perubahan iklim juga mengganggu keseimbangan rantai alami makhluk. Timbul wabah penyakit baru yang mematikan. Sekali lagi ketika wabah berjangkit, ia berpindah dari satu negara ke negara lain juga tak perlu menggunakan paspor.

Virus SARS, ebola, sapi gila, malaria strain baru, flu burung, flu babi, berbagai hama dan penyakit baru hewan dan tanaman adalah produk alam yang terbaru.Kelahiran dan kedatangannya sangat berkaitan dengan kecerobohan manusia mengeksplotasi alam. Semua penyakit itu bukan tantangan individu, kelompok, satu atau dua negara. Ini adalah tantangan manusia dan kemanusian, dan bahkan tantangan keberlangsungan kehidupan manusia terbesar di planet bumi yang pernah terjadi dalam sejarah ummat manusia.

Ketika bencana alam terjadi, terutama yang berkaitan dengan iklim, menjadi sebuah fenomena umum negara berkembang, maka penderitaan dan kemiskinan masyarakat adalah produk yang akan terus berkelanjutan. Kemiskinan kawasan seringkali bermuara pada konflik perebutan sumber daya, dan berujung pada perang baik sesama saudara, ataupun antar negara. Ketika perang dan kemiskinan bersatu, maka sangat sulit mencari mata rantai konflik yang sebenarnya. Perang saudara di banyak tempat di Afrika dapat bermula dari lingkungan yang rusak, dan selanjutnya perang itu sendiri juga membuat lingkungan bertambah rusak. Kerusakan hutan dan pertambangan minyak, dan mineral membuat masyarakat lokal menjadi miskin, dan pemberontakan sering di mulai dari titik ini. Ketika perang terjadi seringkali eksplotasi sumberdaya menjadi perebutan para pihak, dan kerusakan lingkungan semakin menjadi-jadi.

Ketika perang sipil, pemberontakan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terjadi secara sekaligus, maka kasus lokal segera menjadi kasus global. Ketika harapan untuk tinggal di suatu kawasan menjadi nol, apalagi kawasan yang lingkungannya telah hancur, maka migrasi ke tempat lain adalah alternatif yang tertinggal. Dalam banyak kasus, negara-negara maju, terutama Eropah, Amerika, dan Autralia adalah tujuan utama para migran negara-negara yang telah kehilangan harapan. Beban lanjutan akan diterima oleh negara itu, baik beban keuangan, sosial, dan politik.

Keterkaitan lingkungan lokal,regional, dan global semakin lama semakin meningkat. Persoalan keamanan kawasan, kwalitas sumberdaya manusia, pembangunan ekonomi, hukum, sosial, semakin lama semakin terkait dengan kemampuan membangun visi masa depan yang bertumpu pada peradaban yang mengedepankan hubungan yang semakin harmonis antara manusia dan alam. Kegagalan membangun peradaban baru umat manusia secara kolektif sama dengan kegagalan mempertahankan keberlanjutan spesies manusia untuk terus hidup di bumi secara bermakna.

Peradaban baru yang semakin mendekatkan manusia dengan alam kian hari semakin menemukan momentumnya. Salah satu ciri utama awal abad XXI, bahkan milenium baru ini adalah semakin sadar dan bersatunya umat manusia untuk secara bersama meyakini ancaman yang sedang menanti terhadap kehidupan kolektif. Hampir seluruh lembaga multilateral keuangan dunia, dan hampir semua negara maju kini menempatkan persyaratan lingkungan yang ketat dalam hibah atau pinjaman pembangunan kepada negara berkembang. Amerika Serikat dan Australia yang pada tahun-tahun sebelumnya adalah negara bandel dan sombong yang tidak perduli dengan pemanasan global telah berubah, dan bahkan kini menjadi kampiun untuk pencarian energi alternatif.

Kesiapan Aceh
Pemanasan iklim global kini terasa di mana-mana. Panjangnya hari-hari panas di seluruh pelosok bumi, kenaikan temperatur yang sangat mencolok, musim yang labil, punahnya berbagai satwa adalah sirene akhir dari gelombang ancaman yang akan terjadi.

Fenomena topan di beberapa tempat di Aceh, ekstrim panas dan hujan dalam waktu yang sama, dan berkembangnya kembali secara meluas penyakit tradisional dengan strain baru seperti malaria, demam berdarah, dan berbagai ancaman baru yang belum terdeteksi, adalah salam pendahuluan pemanasan global yang sedang terjadi. Masih banyak lagi yang akan datang yang telah terjadi di tempat lain, yang kita belum mengetahuinya saat ini.

Dalam satu prediksi (Rich Deem 2008), disebutkan Indonesia di antara dari delapan kandidat kawasan di dunia yang akan mengalami perubahan besar curah hujan akibat dari pemanasan bumi di tahun-tahun mendatang. Bagi Aceh, khususnya, kini semakin terang benderang, tidak ikut merusak lingkungan pun, dampak pemanasan global akan dirasakan. Dapat pula kita bayangkan seandainya bersamaan dengan perobahan iklim global itu, kita juga sangat rajin merusak alam lokal kita. Konsekwensi yang akan kita hadapi makin jelas. Ketika iklim global berubah secara bersamaan terjadi penghancuran daya dukung alam lokal, maka nilai bencana menjadi berganda. Dan yang paling menyedihkan, ketika bencana itu terjadi, kelompok masyarakat yang pertama menerimanya adalah kelompok miskin, marginal, dan tersebar di berbagai kawasan pedesaan dan perkotaan.

Perencanaan kita ke depan semestinya memasukkan “analisa ekonomi bencana” untuk setiap program dan gagasan pembangunan yang diajukan. Aceh kemudian akan mempunyai perbandingan setiap keuntungan jangka pendek yang diperoleh dari mengorbankan lingkungan dengan nilai yang harus dibayar ketika panen bencana terjadi. Topografi Aceh yang relatif di dominasi oleh pergunungan yang curam seharusnya dengan cepat disadari sebagai variabel dominan dalam perencanaan pembangunan.

Di antara sekian banyak persiapan untuk antisipasi terhadap ancaman lingkungan yang semakin besar, maka penyelesaian tata ruang Aceh adalah suatu hal yang tidak dapat ditunda lagi. Saat ini ada kelalaian kolektif berkelanjutan yang menimpa semua pelaku pembangunan di Aceh. Ketika kita semua berbicara tentang prinsip pembangunan berkelanjutan, menggunakan pendekatan hijau, dan mengeluarkan berbagai jargon ramah lingkungan, kita masih saja abai membangun satu prinsip bersama, satu produk hukum yang memberi batasan-batasan ruang terhadap kegiatan pembangunan yang dilaksanakan.

Kesalahan pertama terjadi ketika pembangunan pasca tsunami mulai dilakukan. Hancurnya kawasan pesisir Aceh dengan berbagai perangkat ikutannya; manusia, infrastruktur, dan alam, yang dilanjutkan dengan investasi lebih dari 60 trilliun oleh BRR, haruslah disadari tidak dipandu oleh perencanaan tata ruang baru. Memang benar, ada limit waktu yang sangat pendek diberikan oleh pemerintah pusat kepada BRR untuk bekerja dengan anggaran yang begitu besar. Adalah juga dapat dimengerti kalau BRR memasuki wilayah penataan ruang dalam bentuk Qanun, maka BRR akan terperangkap dalam pergumulan politik tata ruang yang rumit yang dapat menyita energi yang sangat besar dan bahkan dapat menggagalkan kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi.

Keseriusan pemerintah daerah menggunakan prinsip pembangunan Aceh hijau akan memasuki “ujian pertama” dengan cepat tidaknya lahir produk tata ruang baru yang memang mencerminkan kerangka acuan pembangunan hijau. Hal ini menjadi sangat mendesak seiring dengan pertambahan jumlah kabupaten kota dari sepuluh menjadi dua puluh tiga. Kelipatan jumlah ini memberi konsekwensi baru terhadap perencanaan kawasan, dan seringkali nilai ekonomi kawasan dilihat oleh politisi dan pejabat publik kita dalam keuntungan jangka pendek dan tidak integratif. Padahal Aceh satu kesatuan sistem, terkait sesamanya, terkait dengan kawasan nasional, regional, dan mondial. Maka sangat prinsipil ketika isu pembangunan hijau kita laksanakan.

Waktu yang tersedia tinggal sedikit, agenda pembangunan hijau sangat mulia adanya untuk dilaksanakan. Ide pembangunan hijau telah hampir dua tahun berkembang. Ide ini tidak boleh mengapung, apalagi menguap. Rencana pembangunan ke depan, sangat baik untuk 2010, mampu memasukkan prinsip pembangunan hijau dalam setiap proyek pembangunan, baik di provinsi maupun kabupaten kota. Dan bukti awal keseriusan itu adalah rencana tata ruang Aceh yang baru disegerakan.

Penulis adalah Sosiolog, Dosen pada Fakultas Pertanian Unsyiah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: