Posted by: kualaclipping | June 11, 2009

Aceh belum miliki informasi bencana terkoordinasi

www.waspada.co.id on Thursday, 11 June 2009 13:27 WIB – WASPADA ONLINE

BANDA ACEH – Provinsi Aceh belum memiliki metode yang sistematik untuk pengumpulan informasi tentang bahaya dan dampak bencana alam yang terkoordinasi.

“Tidak ada data yang siap dan terkoordinasi sehingga akhirnya saat kejadian kita sulit mendata,” kata Programmer Associate UNDP Crisis Prevention and Recovery Unit (CPRU), Ridwan Yunus di Banda Aceh, siang ini.

Ridwan dalam sosialisasi data dan informasi bencana Indonesia (DiBi) menyatakan, secara internasional Indonesia menduduki peringkat pertama yang paling sering mengalami bencana alam dan dalam kurun waktu sepuluh tahun sejak 1974 hingga 2003 mengalami kecenderungan meningkat.

Sedangkan dari sisi dampak bencana, Indonesia juga berada di posisi teratas dan cenderung meningkat. Dalam kurun waktu yang sama tercatat korban jiwa sebanyak 11 juta dan kerugian secara ekonomi juga naik sekitar 22 miliar dolar AS.

Hal tersebut menurutnya karena belum ada metode yang sistematik dan kebanyakan informasi tersebar di berbagai lembaga tanpa koherensi dan terkoordinasi.

Akibatnya tidak ada analisa berarti untuk dapat memahami kecenderungan, dampak ruang dan waktu sehingga terbatas pemahaman tentang potensi risiko dan dampaknya. Akhirnya tidak ada integrasi dengan perencanaan pembangunan karena ketiadaan bukti.

Menurutnya, mengapa perlu belajar dari masa lalu karena sejarah kerugian bencana merupakan indikator wakil risiko dan kerugian bencana yang lalu memperlihatkan dampak kumulatif dari bencana atas bangunan.

“Kita tidak pernah memperhitungkan berapa besar kerugian akibat bencana seperti banjir. Tapi jika dihitung dalam sepuluh tahun misalnya puskesmas mengalami kerusakan dan setiap tahun diperbaiki berapa besar dana yang harus dikeluarkan,” katanya.

Dengan adanya data bencana dan kerugian serta dampaknya, secara historikal bisa diprediksi dalam beberapa tahun bencana serupa akan terjadi lagi karena biasanya berulang, tambahnya.

Maka diperlukan DiBi yaitu metodologi pengumpulan data dan analisa pendahuluan berupa perangkat lunak sebagai database sejarah bencana dan alat bantu pengumpulan data kerusakan serta kerugian setelah bencana.

Perangkat statistik dan analisa (DiBi) secara nasional telah diluncurkan pada 29 Juli 2008 oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) didukung UNDP.
(dat02/ann)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: