Posted by: kualaclipping | June 6, 2009

Sabang

Opini Oleh: Taqiyuddin Muhammad

www.harian-aceh.com on Saturday, 06 June 2009 22:15

Seumur hidup, saya belum pernah menginjakkan kaki di Sabang. Pulau paling ujung Sumatera yang saya hafal namanya sejak masih ingusan itu, padahal, selalu dekat di hati dan sebenarnya tidak begitu jauh di mata. Apa boleh buat, belum ada langkah. Tapi suatu waktu, jika ada umur panjang dikandung badan, saya akan menyeberang ke sana, terutama untuk melengkapi buku album “Aceh dalam Dekapan Cinta” yang sedang saya persiapkan bahan-bahannya.

Beberapa hari lalu (1/6), Ahmad Humam Hamid lewat tulisannya di sebuah surat kabar: “Sabang, Pax Romana dan Kemakmuran”, mengguncang saya dengan persoalan Sabang yang tidak begitu saya pahami ujung pangkalnya. Aib bagi saya, memang, tapi mudah-mudahan Tuhan mengampuni.

Suatu hal yang amat jelas saya tangkap dari tulisan Humam, Sabang dengan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebasnya adalah tempat bergelayut harapan, mimpi, angan serta ragam khayal mengenai kemakmuran dan kesejahteraan di Aceh.

Lebih dari itu, tidak hanya kepentingan strategis perekonomian Aceh yang menjadi patokan, tapi juga sejarah dan budaya sebuah bangsa kosmopolit di masa lalunya. Dengan kata lain, lengkap dan sempurnalah sudah alasan mengapa persoalan pelabuhan bebas Sabang menjadi urusan yang tidak dapat dinomorduakan.

Tidak saja menyangkut isi perut dan rezeki hamba-hamba la’eh (lemah) di tanah pusaka ini tapi juga, dalam dimensi-dimensi yang lain, menyangkut pemupukan rasa percaya dan rasa diperlakukan dengan adil, yang amat mendukung kestabilan kondisi damai dan tenteram di Aceh, sekaligus menjadi motor semangat rakyat Aceh untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Humam memang “penembak jitu”. Uraiannya langsung mengenai biji hati; memecah kejumudan pikir dan rasa.
Aceh dengan sejarahnya yang panjang di dunia pelayaran dan kelautan, baik dalam bidang perdagangan, militer, perjalanan religius maupun lainnya, amat layak memperoleh sebuah bandar bebas yang “sesungguh hati”, bukan “setengah hati”.

Seperti kata Humam, meskipun tak ada kepustakaan yang menyebutkan bahwa Iskandar Muda telah mengadopsi gagasan Pax Romana-nya imperium Romawi, namun sebuah bandar internasional yang besar jelas memang pernah wujud di Aceh. Hakikatnya, Iskandar Muda pun tidak perlu mencontoh Romawi atau Yunani sebagaimana Ayah Hamid, tokoh pergerakan Islam terkemuka di Aceh—yang Humam mewarisi darahnya—tidak butuh “menghadapkan wajah” ke Eropa dan Amerika dalam gerak pembaruannya. Warisan pemikiran dan jejak yang ditinggalkan oleh para pendahulu mereka sudah lebih dari cukup untuk menjadi landasan sekaligus teladan dalam memberi inovasi baru bagi kerja-kerja demi kepentingan bangsa sesuai konteks aktual zaman mereka masing-masing.

Dalam kurun-kurun dominasi Islam sebelum imperialisme Eropa menemukan jalannya ke Timur Jauh (abad VII-XV), di sekujur tanah pesisir Aceh telah berdiri bandar-bandar besar dunia yang ramai: dari bandar Samudra Pasai (Aceh Utara), Pulau Maharaja (Jaziratul Maharaj, yang saya perkirakan adalah Pedir atau Pidie sekarang), Asyi (Banda Aceh sekarang), Lamuri (kawasan Aceh Jaya atau Lamno, menurut dugaan saya), Fanshur (kawasan Trumon sekarang, menurut saya), Surairah (Singkil, menurut saya), Barrus (Barus), sampai beberapa pelabuhan lainnya yang dibangun dalam abad-abad kemudian.

Di kota-kota pelabuhan itu tidak hanya komoditi perdagangan yang diturunkan dari kapal-kapal, tapi juga pemikiran, budaya dan manusia dari berbagai penjuru dunia. Begitu pula isi yang diangkut dari dermaga-dermaga Aceh ke berbagai pelosok dunia. Pelabuhan-pelabuhan itu telah mengangkat nama negeri ini hingga nun jauh di sana, dikenal, dipuji dan dihormati oleh berbagai masyarakat dunia. Namun, barangkali masih perlu dipertegas bahwa hal ini bukanlah semata-mata hipotesis, tapi adalah fakta-fakta historis yang didukung oleh bukti-bukti yang terdapat di berbagai kawasan peninggalan sejarah di Aceh!

Bandar-bandar besar itu telah berhasil bertahan sedikitnya sampai dengan abad XIX masehi, salah satunya Samudra Pasai. Hal ini dibuktikan dengan beberapa mata uang asing kuno yang ditemui di pantai laut Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Termasuk di antaranya koin-koin Straits Settlement yang diterbitkan oleh East India Company (Victoria, 1845, 1 cent), British India Government (Victoria, 1862, 1 cent), sampai Colonial Issues (Victoria, 1873, 1/2 cent). Menurut sebuah info, koin serupa juga ditemui di pantai Pidie dan pesisir barat Aceh.

Sekali lagi, sebuah bandar bebas memang amat layak bagi Aceh. Tidak saja sebagai salah satu tumpuan pertumbuhan ekonomi masyarakat Aceh tapi juga sebagai sebuah penghargaan bagi sejarah tanah air, Indonesia, yang kita banggakan.

Saya kira, pemerintah Aceh dan Sabang masih dipercaya mampu melewati berbagai aral lintang menyangkut persoalan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang ini. Walikota Sabang, saya yakin, masih kerap dilamuni kenangan-kenangan tentang Port Said, sebuah kota pelabuhan bebas di ujung utara kanal Suez, yang berkali-kali dikunjunginya ketika masih berstatus penuntut ilmu di negeri seribu menara, Mesir. Dan saya tahu, orang seperti dia, berkunjung ke daratan paling tepi benua Afrika dari sebelah timur itu, bukan cuma untuk membeli pakaian “impor” dari Eropa untuk keperluan musim dingin di sana. Rasa ingin tahunya yang tinggi, yang terkadang malah sangat berlebihan, tentu telah membuahkan pengetahuan dan wawasan yang cukup berarti, dan yang lebih penting dari itu adalah mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan untuk kota pujaan yang sedang dikawalnya sekarang.

Sungguh, semua itu ternyata tak semudah dan semenarik saya menghitung kesalahan orang lain. Banyak batu sandung yang harus disingkirkan untuk meratakan jalan di depan mimpi-mimpi yang mengisi lamunan Walikota dan juga rakyat Aceh.

Cuma saja, dan ini tidak hanya terkhusus untuk Sabang, pemerintah perlu berusaha sedapat mungkin untuk membina rakyat agar berempati dengan gerak pembangunan Aceh sehingga kemudian apapun partisipasi, barangkali, dapat diharapkan. Bagaimanapun awamnya rakyat seperti saya, perlu ditarik kesadarannya untuk mengikuti proses pembangunan yang sedang dijalankan pemerintah—kalau memang benar sedang dijalankan; kalau tidak, berarti masalah besar. Na’uzubillah!

Dengan kata lain, pemerintah tidak begitu perlu memuji-muji dirinya secara sepihak tentang suatu capaian dan keberhasilan dalam pembangunan, dan juga tidak perlu menuduh setiap kritikan lahir dari olahan politis. Yang perlu, menurut pikiran paling cerdas yang ada pada saya, rakyat mesti diberi pemahaman dan pengertian; apa persoalan, di mana kendala, apa hal-hal yang mungkin didialogkan bersama dengan hati tulus dan jujur.

Terus terang, dalam kondisi setegang apapun antara pemerintah dan rakyat akibat “ulah nakal” sejumlah oknum pejabat yang semakin memperdalam kecurigaan rakyat akan kekotoran sementara penguasa negeri ini, dan di pihak lain, pemerintah selalu mengeluhkan tidak kooperatif-nya rakyat dalam pembangunan. Dalam kondisi yang bagaimanapun kalutnya ini, kita masih memimpikan suatu saat kita, dan juga orang lain, dapat mengatakan: rakyat dan pemerintah Aceh telah berhasil menemukan jalan untuk membangun. Satu hati, satu tujuan, meski dengan berbagai jalan berbeda yang mungkin didialogkan. Memang untuk sekarang, hal ini seperti seratus persen mimpi. Tapi, adakah tantangan yang lebih memikat dan menarik selain dari mewujudkan mimpi?!

Untuk mewujudkan mimpi itu, menurut takar saya, ada satu syarat mutlak. Syarat utama yang menentukan itu adalah sejauh mana pemerintah mampu merakyat. Untuk dapat merakyat, pemerintah mesti menempuh jihad akbar; melawan rongrongan nafsu dan kepentingan pribadi mereka sendiri, apapun wujudnya. Sehingga, sekalipun disadari jalan menuju kebaikan bangsa masih tetap tidak segampang berteori tapi cukuplah itu merupakan langkah awal yang benar, dan paling tidak mengurangi kerunyaman kondisi.

Ketika Ahmad Humam Hamid berseru selamat berjuang di akhir tulisannya, saya merasa ia juga mengatakan itu untuk dirinya sendiri, dan juga untuk saya serta orang-orang awam seperti saya. Dan apabila seruan ini diartikan dengan kata-kata lain, maka kata-kata itu adalah harapan: “Jadilah pahlawanku!”

“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu.” (At-Taubah: 105)[]

*Peneliti pada Yayasan Waqaf Nurul Islam-Lhokseumawe.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: