Posted by: kualaclipping | June 6, 2009

Lingkungan Rusak: Kekeruhan Air Sungai Tamiang di Atas Ambang Batas

www.serambinews.com on 6 June 2009, 08:41

KUALA SIMPANG – Akibat rusaknya lingkungan di kawasan hutan lindung di sepanjang hulu Sungai Tamiang membuat kekeruhan air sungai di atas ambang batas normal mencapai 450 NTU (Nephelometric Turbility Units) atau banyaknya padatan terapung di dalam air dari batas normal 5 NTU. Untuk jangka panjang kondisi ini berdampak terhadap kesehatan warga dan punahnya makhluk hidup sungai.

Kabid Standarisasi Penataan dan Pengendalian Lingkungan, Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Aceh Tamiang, Said Mahdi SP kepada Serambi, Jumat (5/6), usai memperingati hari lingkungan hidup di lingkungan Pemkab Aceh Tamiang mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan Badan Lingkungan Hidup Tamiang sejak tanggal 5-8 Mei lalu di delapan lokasi, ternyata kualitas air Sungai Tamiang menunjukkan kekeruhan yang sangat tinggi yaitu 124-176 NTU.

“Sedangkan hasil uji yang dilakukan pada saat terjadinya hujan tanggal 12 Mei, kekeruhannya mencapai 450 NTU,” ujarnya. Delapan lokasi pemantauan yang dilakukan masing-masing di Jembatan Simpang Kiri Kecamatan Tenggulun, Jembatan Pulau Tiga Kecamatan Tamiang Hulu, Jembatan Gelondeng Seumadam Kecamatan Sungai Liput, Kota Kuala Simpang, Jembatan Lubuk Sidup Kecamatan Sekrak, Desa Babo Kecamatan Bandar Pusaka, Jembatan Alur Manis kecamatan Rantau, dan di Kecamatan Seruway.

Mahdi menduga, tingginya kekeruhan air Sungai Tamiang akibat terjadinya kerusakan hutan di daerah hulu khususnya di kawasan hutan lindung yang sudah sangat parah, sehingga tanah tidak menyerap air pada saat terjadi hujan. Permukaan tanah tergerus dan dibawa oleh air ke dalam sungai dan menyebabkan air sungai keruh.

“NTU maksudnya banyaknya padatan terapung di dalam air. Semakin banyaknya padatan tersuspensi dalam air, air terlihat semakin keruh dan semakin tinggi pula nilai NTU nya,” ujarnya. Jika terus berlangsung, kata Mahdi, akan banyak terjadi sendimentasi tanah yang menumpuk di dalam sungai dan menyebabkan sungai dangkal. “Dikhawatirkan pada saat hujan turun air sungai Tamiang akan mudah meluap ke pemukiman warga karena daya tampung sungai yang semakin hari semkain mengecil akibat tumpukan sendimentasi,” ujarnya lagi.

Dampak lain dari tingginya kekeruhan air, kata Mahdi, akan punahnya mahluk hidup di sungai karena tidak mampu berkembang biak lagi. Tingginya kekeruhan air juga mengancam kesehatan warga, jika air tidak diolah dengan baik. “Sampai saat ini sebagian warga yang tinggal di pinggir Sungai Tamiang masih menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari,” sebutnya.

“Untuk mengatasi kondisi tersebut dalam jangka pendek sendimentasi yang ada di Sungai Tamiang harus dikeruk agar air sungai Tamiang tidak mudah meluap ke pemukiman penduduk jika sewaktu-waktu terjadi hujan lebat. Sedangkan untuk jangka panjang harus dilakukan penghijauan di sepanjang kiri kanan pinggir Sungai Tamiang,” ujar Saih Mahdi.(md)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: