Posted by: kualaclipping | June 6, 2009

Akibat Maraknya Pemakaian Strum ; Penghasilan Nelayan Sungai Singkil Berkurang

www.analisadaily.com on 6 June 2009

Singkil , (Analisa)

Ribuan warga di sejumlah kawasan daerah aliran sungai (DAS) Singkil terancam kelangsungan sumber penghasilan sebagai nelayan akibat masih maraknya pemakaian setrum untuk menangkap ikan.

Walaupun praktek menangkap ikan dengan menggunakan setrum ini dilarang karena merusak lingkungan, namun beberapa warga secara sembunyi tetap melakukan penangkapan ikan dengan setrum. Warga berupaya menangkap pelaku penyetruman namun karena keterbatasan waktu dan peralatan warga tidak berdaya menghadapinya.

Relawan Pakpahan tokoh masyarakat Rantau Gedang Kecamatan Singkil bersama warga lainnya kepada Analisa, Rabu (3/6) menjelaskan, keresahan mereka akibat praktek penyetruman yang dilakukan oleh pihak tertentu menangkap ikan di sejumlah sungai di Aceh Singkil.

Mereka telah berkali-kali menangkap pelaku dengan merusak alat penyetruman ikan namun praktek itu masih marak.  Akibatnya warga yang mengandalkan sungai sebagai sumber penghasilan dengan menangkap ikan, terpuruk karena tangkapan mereka semakin berkurang bahkan untuk ikan tertentu mulai menghilang, kata Pakpahan.

Disebutkan, ikan batang dan simerah yang merupakan ikan mahal di sungai Singkil sudah mulai langka akibat penyetruman. Biota sungai dan anak-anak ikan menjadi mati dan diperkirakan beberapa tahun ke depan berbagai jenis ikan akan punah akibat penyetruman yang masih berlangsung.

Pakai Genset

Tidak tanggung-tanggung ujarnya, penyetruman yang lazim dilakukkan dengan batre basah (accu) dengan kapasitas besar, bahkan dengan menurunkan mesin genset sehingga yang mati tidak hanya ikan tetapi juga buaya sungai. “ Tidak tanggung-tanggung mereka membawa genset (mesin pengbangkit listrik) sehingga buaya yang kena setrum pun akan mati,” kata Relawan Pakpahan resah.

Ditambahkan, pihaknya telah menyurati kepolisian dan dinas perikanan namun langkah-langkah pemusnahan alat penyetrom ikan itu tidak berjalan. Pernah dilakukan pemusnahan alat dimaksud oleh pemda setempat dengan mengganti rugi dan sosialisasi tentang kerugian  menggunakan alat penyetrom ikan, memang sempat berhenti tetapi marak kembali.

Mereka  sangat resah dengan sumber penghasilan nelayan sungai beberapa tahun ke depan semakin berkurang dan ikan tertentu akan punah kalau hal itu masih terus berlangsung. “Puluhan ribu jiwa menggantungkan harapan penghasilannya dengan sungai yang ada di Aceh Singkil. Mereka berharap aparat terkait segera tanggap dan mengambil langkah nyata untuk membantu mengatasi keresahan masyarakat,” pintanya.

Dari pihak Bapedalda Aceh Singkil diperoleh informasi bahwa praktek penyetruman menangkap ikan sangat berbahaya bagi kerusakan lingkungan. Keresahan masyarakat itu sangat beralasan karena berbagai biota sungai sumber makanan ikan dan anak-anak ikan mati dengan penangkapan ikan menggunakan setrum.

Memang dengan penangkapan itu memperoleh hasil yang banyak tetapi hanya keuntungan sesaat. Beberapa tahun ke depan berbagai jenis ikan tertentu akan lenyap, bahkan mungkin ikan akan punah di sungai-sungai Aceh Singkil, kata pihak Bapedalda.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Aceh Singkil, H. Rosman Hasmy yang ditemui Analisa, Kamis (4/6) di Singkil telah mendengar hal itu namun belum mendapat laporan. Dia berjanji akan berkordinasi dengan aparat terkait agar dapat dilakukan langkah-langkah nyata seperti yang diharapkan nelayan sungai Singkil.(sjp)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: