Posted by: kualaclipping | June 3, 2009

Jalan Calang – Banda Aceh: Realisasi Fisik Proyek Jauh di Bawah Target

www.serambinews.com on 3 June 2009, 15:41

BANDA ACEH – Realisasi fisik proyek jalan Calang-Lamno yang dikerjakan sejak Juli 2007 oleh kontraktor Samyong, Korea Selatan, bersama PT Hutama Karya, sampai 2 Juni 2009 kemarin hasilnya belum menggembirakan, bahkan jauh di bawah progress target yang semestinya. “Mestinya progress realisasi fisik proyeknya sekarang ini sudah mencapai 70 persen dari yang diborong sepanjang 110 kilometer, tapi sampai kemarin baru mencapai 35 persen yang telah diaspal,” ungkap Tim Monitoring Proyek Jalan Calang-Banda Aceh dari Departemen Pekerjaan Umum, Bastian S Sihombing, kepada Serambi, Selasa (2/6), melalui telepon selularnya.

Bastian mengatakan, masih rendahnya realisasi fisik proyek jalan Calang-Lamno, disebabkan banyak faktor. Antara lain, proses pembebasan tanah penduduk tidak bisa diselesaikan serempak dalam waktu singkat. Buktinya, sampai kini masih ada beberapa persil tanah warga yang belum dibayar, karena pemiliknya tidak diketahui atau masih dalam sengketa keluarga, atau bahkan salah bayar.

Selain itu, sering terjadi perubahan desain dan pergeseran badan jalan yang akan dibuat, karena berbagai pertimbangan keselamatan kendaraan dari Parson selaku konsultan perencana jalan Calang-Banda Aceh. Kecuali itu, resistensi masyarakat setempat di beberapa lokasi proyek cukup berat. Misalnya, ada aksi premanisme, pemblokiran badan jalan, dan lainnya. Gangguan jenis ini, frekuensinya sekarang sudah menurun, terutama setelah intensifnya aparat keamanan melakukan pengamanan di lokasi proyek.

Terkait masih lambannya realisasi fisik proyek jalan Banda Aceh-Calang bantuan dari USAID itu, Ketua Komisi D (Bidang Pembangunan) DPRA, Sulaiman Abda bersama anggota Zainal Arifin kemarin meninjau lokasi jalan yang belum selesai dikerjakan di Leupung dan Lhoong, Aceh Besar. Sulaiman Abda melakukan pertemuan dengan Manajer Konstruksi PT Hutama Karya, Setio, dan Manajer Engineering, Satoto, di Basecamp PT Hutama Karya. Kedua manajer perusahaan itu melaporkan, dari 62 kilometer (km) yang dikerjakan PT Hutama Karya, baru 31 km yang selesai diaspal. Sisanya yang 31 km lagi dan empat buah jembatan, sedang dikerjakan dan akan diselesaikan pada Juli 2010.

Kecewa pada USAID
Sulaiman Abda mengatakan komisi yang dipimpinnya kecewa pada USAID yang telah berjanji akan melaksanakan kembali pekerjaan Section IV yang telah ditinggalkan pekerjaannya oleh PT Wijaya Karya pada Maret 2008, setelah kontraknya diputus oleh lembaga donor Amerika Serikat itu. Ketua Komisi D DPRA itu mengatakan, USAID boleh saja belum berkenan menyelesaikan pekerjaan jalan sepanjang 13 km pada Section IV di Lamno, karena belum tuntasnya pembebasan tanah atau faktor lain. Tapi untuk pembangunan jembatan kerangka baja Lambeuso sepanjang 100 meter yang kerangka bajanya sudah dirakit PT Wijaya Karya (Wika), harusnya dilanjutkan, supaya masyarakat yang ingin menuju ke Calang, tidak lagi naik rakit melalui sungai Lambeuso.

Pemikiran, saran, dan usul tersebut, kata Sulaiman, dia sampaikan kepada USAID, karena abudment atau tempat duduk jembatan kerangka baja itu telah dibuat PT Wika selaku kontraktor pertama. Kini, tinggal lagi pekerjaan pembangunan tiang dan beton penyangganya di tengah sungai. Untuk membangunnya cuma butuh waktu sekitar tiga bulan. “Untuk itu, kita berharap, Pak Roy dari USAID yang pernah berjanji kepada Komisi D tahun lalu akan menyelesaikan tunggakan pekerjaan di Section IV Lamno pada awal tahun ini bisa memenuhi janji yang pernah diucapkannya,” tukas Sulaiman Abda.

Terkait dengan kelanjutan pekerjaan Section IV itu, Tim Monitoring Jalan Calang-Banda Aceh dari Departemen PU, Bastian S Sihombing mengatakan USAID tetap akan melanjutkan pekerjaan Section IV yang pekerjaannya sejak Maret 2008 telah terhenti, karena saat itu gangguan proyek di lokasi cukup seru dan jalan sepanjang 13 km yang hendak dibangun, pembebasan tanahnya belum tuntas.

Tapi, kata Bastian, kepada siapa pekerjaan itu akan diberikan USAID, saat ini masih dipertimbangkan. Misalnya, pekerjaan lanjutan Section IV itu diberikan USAID kepada Samyong dan PT Hutama Karya, sedangkan progress pekerjaan pokok dari kedua perusahaan itu masih jauh dari progres yang semestinya telah ia selesaikan sampai kini.

Menurut Bastian, diberikan kembali kepada PT Wijaya Karya, yang progress fisik proyeknya telah mencapai 90 persen, belum tentu mereka mau menerima, karena telanjur tersinggung akibat pemutusan kontrak kerja sebelumnya. “Inilah yang menjadi pertimbangan pihak USAID, sehingga lokasi pembangunan jalan pada Section IV itu sampai kini belum dikerjakan,” ujar Bastian. (her)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: