Posted by: kualaclipping | June 3, 2009

Harga Coklat Kembali ke Rp 20.000/Kg

www.serambinews.com on 2 June 2009, 08:49

KUTACANE – Harga komoditas coklat di Aceh Tenggara (Agara) kembali beranjak naik, menyentuh level Rp 20.000 per kilogram setelah beberapa pekan sebelumnya sempat merosot di kisaran Rp 18.000 per kilo. Sementara itu, harga biji pinang kering justeru mengalami penurunan, dari sebelumnya Rp 4.000 sekarang menjadi Rp 3.000 per kilo.

Pengusaha hasil bumi di Kutacane, Muna, mengatakan, penurunan harga komoditas coklat tersebut telah terjadi sejak tiga hari terakhir, akibat meningkatnya permintaan di pasar Medan, Sumatera Utara. “Sedangkan stok yang tersedia menipis. Musim panen sudah mulai habis,” katanya kepada Serambi, Senin (1/6).

Sedangkan mengenai penurunan harga pinang, dia jelaskan kalau itu juga dipengaruhi oleh rendahnya permintaan yang tidak sebanding dengan persediaan yang ada. Selama ini, dia jelaskan, nai turunnya harga komoditas naik tergantung pada harga di pasaran. Seorang petani coklat di Desa Salem Pipit, Kecamatan Babul Rahmah, Tarmizi, juga mengakui hal serupa. Harga komoditas pertanian diakuinya memang tidak stabil karena tergantung Medan. “Kadang naik kadang turun,” ungkapnya. Seandainya, lanjut dia, investor mau membeli hasil pertanian langsung di Agara atau di kelola BUMN. Maka dia yakin harga komoditas akan terjaga, sehingga harga kebutuhan pokok dengan hasil panen yang didapat berimbang.

Di Aceh Utara
Merosotnya harga biji pinang juga dirasakan petani di Aceh Utara, dari sebelumnya Rp 5.300 per kilogram kini turun menjadi Rp 3.700. Selain itu, harga gabah (padi) juga ikut menurun. Dari Rp 5.300 per kilo menjadi Rp 3.700. Penurunan itu dilaporkan terjadi sejak tiga hari terakhir. Beberapa pedagang pinang di Panton Labu, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, mengatakan, penurunan harga tersebut terjadi karena Aceh masih bergantung pada Sumatera Utara. Padahal, Aceh merupakan daerah penghasil biji pinang terbesar. M Yunus bin Ibrahim, salah seorang penampung mengatakan, setiap tahunnya Aceh menghasilkan sekitar 125.000 ton pinang.

“Namun, karena pengusaha Aceh tidak dapat berhubungan langsung dengan negara luar, maka terpaksa melalui Medan. Akibatnya, Aceh punya pinang, Medan punya nama,” kata M Yunus. Di Pantonlabu sendiri, ia mengaku mampu mengumpul pinang sebanyak 50 ton per minggu. Lalu dijual ke Medan untuk diekspor ke India dan Banglades. Namun dalam beberapa pekan terakhir harganya merosot tajam. Penurunan ini dikatakannya dapat menjadi pukulan telak bagi petani di daerah. Karena itu, dia meminta Pemerintah Aceh agar dapat membangun pabrik pengolah pinang di Aceh Utara yang nantinya diberikan kepada orang yang telah mampu dan berpengalaman.(as/ib)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: