Posted by: kualaclipping | June 1, 2009

Sabang, Pax Romana, dan Kemakmuran

Opini Oleh: Ahmad Humam Hamid

www.serambinews.com on 1 June 2009, 07:59

BEBERAPA hari terakhir ini, isu tentang akan hilangnya status Sabang sebagai pelabuhan bebas dan kawasan bebas ekonomi sangat mencuat. Tidak kurang pimpinan daerah, baik eksekutif maupun legislatif menyampaikan kekecewaan dan keprihatinannya bila rencana UU kawasan ekonomi khusus terwujud. Pasalnya, bila UU itu menjadi hukum baru, maka segala impian tentang Sabang akan sirna. Setidaknya, sebagian besar akan sirna.

Kekecewaan terhadap ancaman itu sesungguhnya tidak hanya datang secara personal dari kedua petinggi Aceh itu. Ungkapan itu sesungguhnya lebih mencerminkan perasaan dari hampir seluruh masyarakat yang mengimpikan tentang kemajuan, pembangunan, dan terobosan untuk mempercepat kemakmuran Aceh dan bagian barat wilayah nusantara. Seandainya status Sabang sekarang benar-benar akan tergusur, maka mimpi buruk tentang pencabutan Free Port Sabang pada akhir tahun 80-an oleh rezim Orde Baru kini terjadi lagi. Kali ini, implikasi dari pencabutan status itu menjadi sangat serius, karena prospek mesin pertumbuhan ekonomi Aceh pasca era gas dan minyak bumi hampir tidak ada.

Kecuali kucuran dari dana DAU, dan remah sisa dana migas yang semakin menyusut, dana pembangunan Aceh ke depan masih menjadi tanda tanya besar. Ini akan lebih serius, karena arah pembangunan kita yang masih belum terfokus. Secara jujur kita harus mengakui bahwa skenario pembangunan kita selama ini masih belum tuntas. Lokomotif ekonomi daerah yang hendak diandalkan juga masih samar-samar, dan hal tentu saja membuat kita tidak nyaman. Karenanya, ketika status Sabang yang berpotensi menjadi lokomotif ekonomi kawasan jangka menengah dan panjang, terancam, maka asa kita menjadi tergantung.

Pax Romana
Perihal kawasan ekonomi bebas sebenarnya bukanlah barang baru. Dalam khazanah kepustakaan sejarah perdagangan klasik, Yunani dan Romawi telah menggunakan sistem kawasan bebas lebih dari 2000 tahun yang lalu.Konsep Pax Romana, adalah sebuah sistem yang diperkenalkan oleh imperium Romawi yang memberi kebebasan ekonomi, terutama kebebasan perdagangan kepada wilayah-wilayah yang ada dalam kekuasaannya (Leigh Goeesst 2009). Sistem ini kemudian membuat banyak kota-kota pelabuhan di kawasan Laut Tengah, Afrika Utara, dan Timur Tengah menjadi tumbuh dan berkembang secara otonom, namun tetap menjadi bagian dari Romawi.

Pax Romana rupanya memberi dampak budaya dan politik yang luar biasa untuk tiga benua wilayah kekuasaan Romawi. Dan sampai hari ini para turis mengunjungi kota Korinthos dan Thessaloniki di Yunani, mereka akan merasa aura sisa-sisa Pax Romana lebih dari 2000 tahun yang telah lalu. Sistem ini pula yang dicatat oleh para ahli sejarah sebagai praktik kecanggihan politik Romawi yang membuat hampir seluruh wilayah kekuasaannya menjadi makmur hingga mengalami kejatuhan lebih dari dua abad lamanya.

Ada dua pelajaran penting dari konsep Pax Romana. Pertama, kemakmuran dan kesetaraan membuat persatuan menjadi langgeng. Kedua, kemakmuran yang berasal dari perdagangan sering berjalan dengan budaya egaliter, kerja keras, pluralisme, kosmopolit, dan kreativitas berkelanjutan.

Tidak ada kepustakaan yang menerangkan apakah Iskandar Muda atau penasehatnya membaca ide-ide besar Pax Romana ketika ia memimpin kerajaan Aceh. Yang pasti ketika ia berkuasa, maka kedua sisi selat Melaka ditumbuhkannya menjadi kawasan-kawasan perdagangan melalui pelabuhan laut. Johor, Perak, Pahang, dan Kedah di semenanjung Malaysia dan Banda Aceh, Deli, dan Bintan adalah kawasan perdagangan bebas rezim Iskandar Muda. Ia menempatkan para panglimanya untuk memerintah kawasan-kawasan strategis itu.

Ketika hari ini para ahli sejarah menulis tentang kejayaan Iskandar Muda, sesungguhnya yang mereka tulis adalah kemajuan sebuah kawasan yang dihasilkan dari sebuah rezim ekonomi bebas yang canggih. Konsep ekonomi Iskandar Muda menjadi lengkap ketika ia secara sengaja memperbesar peran negara dalam merancang dan menguasai dua komoditi strategis perdagangan awal abad XVII, yakni timah dan lada. Ia mengontrol pertambangan timah di negeri Perak, Malaysia, dan perkebunan Lada di kawasan Simpang Ulim, Idi, dan kawasan-kawasan pedalaman lainnya di Aceh. Sulit membayangkan pergaulan Iskandar Muda dengan raja Inggris, James I, raja Siam, Ratcha I dari dinasty Ayuthia, dan Sultan Selim II dari Turki jika Aceh adalah negara yang kere dan tidak mempunyai kemakmuran ekonomi yang melimpah. Kemakmuran ekonomi perdagangan dan pelabuhan laut lah yang sesungguhnya membuat Aceh mampu mengirim duta besar Abdul Hamid ke Eropah, mendirikan perwakilan di Istambul, dan saling menukar duta besar secara reguler dengan kerajaan Siam.

Sabang, tagedi kecambah kemakmuran
Kematian pelabuhan bebas Sabang pada rezim Orde Baru menjadi terobati, ketika Presiden BJ.Habibie pada tahun 1999 menerbitkan kebijakan drastis yang mengembalikan statusnya. Kewenangan yang diberikan pada Sabang juga melebihi apa yang pernah dimilki, yakni kawasan ekonomi bebas, sebuah otonomi ekonomi yang sangat besar. Kewenangan itu disusul dengan kucuran dana, dan cukup memberikan harapan baru kepada Aceh untuk memiliki satu kawasan pertumbuhan ekonomi yang strategis.

Kehadiran pelabuhan dan ekonomi bebas, sesungguhnya telah memberi peluang baru bagi Aceh untuk menciptakan “mesin uang” dan penghela ekonomi daerah. Sayangnya, sekalipun telah hampir 10 tahun status itu diberikan, Sabang masih belum menunjukkan tanda-tanda sedang bergeliat. Saat ini tiga hal yang sangat sering berasosiasi dengan Sabang; impor mobil bekas, impor gula, dan kucuran dana dari pemerintah pusat yang sudah melampaui 1 triliun rupiah.

Ada yang belum tuntas tentang skenario Sabang. Undang-undang sebelumnya telah memberikan kesempatan kepada Sabang untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, namun kemampuan mengembangkan diri masih sangat terbatas. Kini setelah peluang itu berusia 10 tahun dan menghabiskan dana kurang dari 2 triliun, kewenangan itu akan diciutkan. Momentum yang ada selama tahun-tahun yang panjang telah terlewatkan.

Memang sulit mengatakan,k salah siapa atas keterbatasan pengembangan Sabang. Struktur kelembagaan dekonsentris yang setengah hati agaknya menjadikan Sabang hidup seperti kerakap tumbuh dibatu. Keterlambatan PP Sabang yang berlarut-larut adalah signal jelas tentang betapa pada aras kelembagaan saja Sabang masih menyimpan tanda tanya besar. Kebijakan akrab pasar yang tak kunjung jelas dari pemerintah pusat, dan kucuran dana yang tertatih-tatih sesungguhnya semakin menampakkan bahwa proyek politis mantan Presiden BJ Habibie menjadikan Sabang sebagai bagian dari solusi perdamaian Aceh nyaris terdampar. Setelah berjalan lebih dari 10 tahun, proyek politis itu ternyata belum terkonversi dengan menjadi proyek ekonomi yang menjanjikan.

Suatu hal yang mesti diingat bahwa setiap kawasan ekonomi bebas selalu mempunyai tujuan spesifik. Lalu akan menentukan pula terhadap strategi pengembangannya. Dari 3000 kawasan perdagangan bebas internasional di 100 negara, semua kawasan mempunyai tujuan dan andalan spesifik(Viswanadham 2006). Amerika Serikat yang saat ini mempunyai lebih dari 230 kawasan mendesain kawasan bebasnya sebagai pintu penerobos kuota perdagangan untuk kebutuhan impor kebutuhan domestik. Cina merancang kawasan bebas perdagangan mereka untuk penanaman modal asing yang tinggi dengan instrument kebijakan sangat ramah. Diharapkan akan berujung kepada aplikasi teknologi tinggi pada kegiatan industri.

Di kawasan-kawasan lain, tujuan dan strategi spesifik itu dilihat pada potensi dan lingkungan strategis yang dimiliki. Kawasan Jebel Ali dan Sharjah di Dubai misalnya, dirancang sebagai upaya diversifikasi ekonomi terhadap mono ekonomi migas Uni Emirat Arab. Di Polandia, karena cukup tinggi angka pengangguran, kawasan bebas dirancang untuk menyerap tenaga kerja. Penekanan kawasan bebas Polandia lebih kepada alternatif industri padat karya, ketimbang tehnologi tinggi. Singapura mempunyai strategi yang lebih komprehensif. Singapura memang dirancang untuk menjadi simpul perdagangan kawasan, simpul pelayaran dan logistik, simpul pengadaan barang, simpul jasa keuangan dan investasi, dan kini bahkan sedang menjadi simpul perdagangan maya (e-commerce).

Ketika kawasan bebas Sabang kita tempatkan dalam prespektif perdagangan internasional dan sebagai jalan pintas menuju kemakmuran, maka kita kembali terperangkap dalam ketidakjelasan status dan perangkat lengkap kelembagaan. Hal ini menjadi lebih rumit ketika status yang kini dimiliki bahkan terancam akan dicabut. Oleh karena itu penjelasan otoritas BPKS baru-baru ini tentang pengajuan draft PP kawasan sekali lagi harus menjadi super prioritas, sama nilainya dengan prioritas mencegah UU Kawasan Ekonomi Khusus menggerus status Sabang.

Kejelasan perangkat hukum secara tuntas, di samping berbagai komponen pendukung lainnya memang menjadi syarat utama pintu masuk investasi ke Sabang. Tanpa hal itu, maka Sabang akan menjadi proyek dari “sendiri” untuk “sendiri”. Dan memang, bila melihat kepada proses ketidaktuntasan PP Sabang selama 10 tahun terakhir, sepertinya ada sesuatu yang tidak akan terselesaikan. Energi politik daerah sudah sepatutnya dimaksimalkan untuk menyelesaikan masalah Sabang.

Yang diperlukan sekarang adalah kombinasi kecanggihan lobi politik daerah, kesiapan draft yang komprehensif dan argumentatif, dan kecakapan birokrat-teknokratis untuk dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dapat mengubah proyek politis itu menjelma menjadi proyek ekonomi yang membawa sebesar-besar kemakmuran untuk rakyat. Sabang kini, bak satu kecambah kecil pohon kemakmuran yang masih sangat rapuh. Tersebab momentum yang hilang maupun ketidakmampuan ketakmampuan mengembangkan diri. Atau pun kebijakan UU yang tidak sensitif terhadap makna politis kawasan bebas itu. Ujian besar itu datang lagi, dan kapal berikut navigasi perjalanan kawasan Sabang itu kini ada di tangan elit Aceh. Selamat berjuang.

* Penulis adalah Sosiolog, dosen pada Fakultas Pertanian Unsyiah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: