Posted by: kualaclipping | May 28, 2009

Peluang dan Tantangan Wisata di Pulo Aceh

Opini Oleh: Umri Praja Muda, S.Hut

www.serambinews.com on 27 May 2009, 10:50

Pariwisata bukan merupakan kegiatan baru di kalangan masyarakat, namun pada hakekatnya kegiatan-kegiatan perjalanan (wisata) sudah dilakukan orang sejak zaman dahulu, meskipun perjalanan tersebut dengan berbagai macam tujuan. Kegiatan wisata saat ini makin banyak dilakukan orang mengingat dengan adanya pertambahan penduduk, serta ditunjang pula dengan kemajuan teknologi. Ini mengakibatkan pariwisata merupakan subsektor kegiatan tersendiri yang bergerak seirama dengan perkembangan zaman. Selain itu, pariwisata merupakan salah satu kegiatan yang memberi kontribusi persentuhan budaya dan antaretnik serta antarbangsa. Oleh karenanya, penekanan dalam sosial budaya lebih kepada ketahanan budaya, integrasi sosial, kepuasan penduduk lokal, keamanan dan keselamatan, kesehatan publik.

Kata wisata (tourism) pertama kali muncul dalam Oxford English Dictionary tahun 1811, yang mendeskripsikan atau menerangkan tentang perjalanan untuk mengisi waktu luang (Hakim, 2004). Konsepnya ini bisa dilacak lagi dari budaya nenek moyang Yunani dan Romawi yang sering melakukan perjalanan menuju negeri-negeri tertentu untuk mencari tempat-tempat indah di Eropa atau Mediterania.

Ketika kita melihat sekilas pemahaman perjalanan tersebut, Aceh yang sebagiannya diluluhlantakkan gempa bumi dan tsunami 2004 menarik perhatian. Sehingga Aceh didatangi banyak orang dari penjuru dunia. Kedatangan mereka ternyata membawa berkah. Selain peningkatan perekonomian masyarakat terbentuk kembali, tak lupa pula secara fisik Aceh telah dihias dengan berbagai macam gedung, jalan, dan fasilitas umum lainnya yang membuat kagum para pengunjung, termasuk lokasi eks-tsunami.

Lalu, bagaimana dengan Pulo Aceh? Akankah seperti Bali? Pulo Aceh merupakan satu-satunya kecamatan kepulauan di Provinsi Aceh. Secara administrasi Pulo Aceh berada di Kabupaten Aceh Besar. Posisi geografis Kecamatan Pulo Aceh terletak di ujung Barat Pulau Sumatera berbatasan langsung dengan Selat Malaka dan Lautan Hindia. Sesuai dengan sebutannya yang besar, Kabupaten Aceh Besar mempunyai potensi alam yang besar dimana memerlukan penanganan serius, antara lain, potensi wisata dari laut sampai daratan/pengunungan. Salah satunya yang sangat menarik dan mempunyai keunikan tersendiri, yaitu Pulo Aceh sangat potensial untuk dikembangkan wisata terutama ekowisatanya (ecotourisme). Selain memiliki potensi alam, di Pulo Aceh juga terdapat sejarah yang besar sebagai benteng pertahanan masa Kerajaan Sultan Iskandar Muda, yang terkenal pada saat itu adalah Kerajaan Kandang. Kerajaan Kandang tunduk di bawah Kerajaan Sultan Iskandar Muda.

Kondisi potensi Pulo Aceh yang sangat kompleks dapat dilihat dari panorama alam pantai yang berpasir putih seperti di Pantai Balu. Di sini ada lahan terumbu karang dan terdapatnya Penyu Belimbing, yang di Indonesia hanya ada di Pulo Aceh dan Papua. Dan yang tak kalah penting untuk pengembangan wisata adalah terdapatnya dua menara mercusuar. Walaupun bagi orang yang berdomisili di Aceh hal tersebut mungkin sudah biasa, namun bagi orang lain atau orang luar Aceh, hal ini menjadi daya tarik tersendiri yang luar biasa. Lalu. keindahan laut seperti ombak yang sangat baik digunakan untuk berselancar dan menyelam. Bila ada yang ingin melihat dan menikmatinya dapat ditempuh dari jalur manapun, baik dari Pantai Barat Selatan maupun Pantai Timur. Dari Ibukota Provinsi Aceh sendiri dapat dilakukan melalui Pelabuhan Uleu Lheue dengan jarak tempuh ± 30 km. Sedangkan waktu tempuh dari Pelabuhan Uleu Lheue 1,5 sampai 2 jam dengan mengunakan transportasi laut seperti boat/fery.

Pulo Aceh menjadi salah satu peluang dalam mengembangkan wisata. Memang tidak bisa dipungkiri akan ada pula dampak negatif. Namun, bila semua pihak saling kerja sama dan ada komitmen yang kuat tentunya yang negatif bisa positif. Terlepas dari semua itu, ada beberapa upaya yang kiranya dapat dilakukan, antara lain: pengembangan paket-paket jalur wisata, penataan lingkungan untuk meningkatkan kualitas obyek dan daya tarik wisata yang ditawarkan, pengembangan atraksi-atraksi wisata, peningkatan pelayanan kepada wisatawan yang berkunjung ke tiap obyek wisata dan daya tarik wisata, peningkatan kerja sama antardinas instansi dan pengelola kawasan wisata, peningkatan kesadaran masyarakat akan manfaat kunjungan wisatawan ke wilayahnya, dan peningkatan penyediaan tenaga kepariwisataan yang terlatih cukup baik untuk melayani kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut.

Dari semua itu, ada satu yang menjadi dasar atau pokok kunci keberhasilan adalah good government (pemerintahan yang baik). Bila hal ini kacau balau maka jangan heran wisata di Aceh hanya wacana saja. Sehingga dengan banyaknya wacana maka masyarakat pun akan menjadi bulan-bulanan pengaruh budaya negatif. Salah satu kebijakan pemerintah untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan pemilahan pada barang-barang yang masuk ke Aceh seperti pakaian ukuran kecil yang digunakan oleh orang dewasa dan sebagainya. Memang sangat indah kalau dilihat oleh siapa pun. Tentunya ini bukan budaya orang Aceh. Masalah ini menjadikan sebagian dari dampak negatif lainnya yang saat ini luput dari pandangan kita, seperti peraturan-peraturan yang sudah dianggap kuno. Padahal peraturan-peraturan atau adat tersebut semestinya dilestarikan dan dipertahankan sehingga membentengi kaula muda. Anehnya, kenapa pemerintah kesannya membiarkan, apakah pemerintah lalai atau ada unsur kesengajaan atau mungkin sudah tidak sanggup lagi mengatasinya? Solusinya adalah melakukan paradigma baru dalam mengelola masyarakat terutama wisata yang berbasis masyarakat. Pemahamannya, memberikan kekuasaan kepada masyarakat dalam mengelola dirinya. Artinya, bukan pemerintah tidak malakukan apa pun, tetapi dilakukan berdasarkan keinginan masyarakat.

Secara mendetail keberhasilan pengembangan wisata dapat terlaksana apabila seluruh instansi/dinas/lembaga/badan, pengusaha dan masyarakat yang terkait dalam kepariwisataan dapat bekerja sama secara terpadu dalam semangat tenggang rasa. Perlu diketahui bahwa daerah kita akan dikunjungi banyak orang. Jadi, kesiapan terutama masyarakat sangat berpengaruh besar dalam pengembangan wisata. Tapi komitmen tersebut sampai saat ini masih sebatas wacana saja. Apalagi selama ini kondisi memajukan wisata di Aceh tidak berhasil disebabkan konflik yang berkepanjangan. Lalu, mau dijadikan apa potensi sumber daya alam yang ada di Aceh, apa hanya untuk mengambil kayu atau membuka lahan pertanian, perkebunan dan pertambangan? Perlu disadari bahwa memajukan wisata memang memerlukan waktu lama, karena banyak hal yang harus dilakukan.

Pendekatan pengembangan pariwisata pada dasarnya ada 2 (dua) yaitu market oriented dan product oriented. Jika melihat kecenderungan perkembangan kebutuhan wisatawan yang ada sebaiknya market oriented merupakan pilihan pertama dan pilihan kedua baru produk oriented. Yang dimaksud market oriented adalah penataan dan pembangunan sarana dan fasilitas pariwisata yang disesuaikan dengan kehendak pasar (konsumen). Sedangkan produk oriented adalah kegiatan penataan dan pembangunan sarana dan fasilitas yang cenderung disesuaikan dengan rencana/kebijakan.

Secara khusus permasalahan yang saat ini terjadi di kawasan wisata adalah penggunaan potensi yang belum maksimal sesuai kebutuhan, kewenangan lahan, dan apa targetnya. Permasalahan ini terjadi karena perencanaan yang masih belum detail dilakukan terutama kegiatan yang berbasis masyarakat. Artinya, pemanfaatan potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat dimana salah satu peranan masyarakat adalah menjaga lingkungan.

Permasalahan lainnya adalah apa yang harus dilakukan untuk memajukan wisata di Pulo Aceh. Ada beberapa strategi yang perlu dilakukan walaupun ada beberapa yang tidak dapat dilakukan di Aceh, antara lain, pemberian bantuan dana untuk usaha ukiran atau sejenisnya secara bergilir, pemberian ternak (sesuai kondisi) secara bergilir, penyuluhan tentang bencana alam, penyuluhan pembudidayaan tanaman, pemberian dana untuk jahit menjahit atau bordiran bergilir, latihan berbahasa asing, pelatihan tata krama (norma), promosi mulut ke mulut, kerja bakti bersama (Gotong Royong), pemberian bantuan dana dan pelatihan membuat kue, sharing informasi seminggu sekali supaya permasalahan atau penyelesaian masalah terkini, pembuatan lahan lain (Budidaya) agar masyarakat tidak bergantung di daerah wisata satu tempat saja, pemberian hadiah/nobel sadar konservasi dan lainnya, study banding tentang pendidikan di sekitar kawasan konservasi. Memang tidak semua yang di atas bisa terwujud di Pulo Aceh, tapi kalau sudah berkomitmen kuat tentunya bisa diwujudkan.

Selain masalah potensi yang belum maksimal dimanfaatkan, faktor lainnya adalah kesiapan masyarakat sendiri terutama sumberdaya manusia. Faktor ini sangat penting dalam mengelola wisata berbasis masyarakat. Bila tidak dilakukan dengan perencanaan yang baik maka potensi yang ada akan sia-sia saja. Walaupun beragam kegiatan dilakukan seperti beberapa waktu lalu yang dilakukan penataan sarana dan prasarana di Pantai Balu, apa hasilnya sekarang? Kesannya sekarang yang terlihat adalah sama-sama cuci tangan.

Oleh karena itu, disamping peranan masyarakat, perhatian dan peranan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menjadi kunci utama dalam memanfaatkan potensi di Pulo Aceh. Kita harus tegas dan berkomitmen kuat agar dapat terlaksana. Apalagi letak geografis Pulo Aceh sangat strategis dengan segi tiga pulau yang terdiri atas Pulo Aceh, Kotamadya Sabang, dan Pemerintah Provinsi Aceh/Banda Aceh.

* Mahasiswa Sekolah Pascasarjana IPB Bogor Program Mayor Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan Fakultas Kehutanan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: