Posted by: kualaclipping | May 25, 2009

Nelayan Harus Dorong Sampan Hingga ke Laut

www.serambinews.com on 20 Maret 2009, 09:33

BANDA ACEH – Ratusan nelayan di Gampong Glee Bruek, Kecamatan Lhong, Aceh Besar, meminta Pemerintah Aceh dan DPRA untuk mengalokasikan anggaran pengerukan muara sungai Glee Bruek dalam tahun anggaran 2009.

“Permintaan ini, kami sampaikan karena setiap air laut surut, ketika hendak pergi melaut, kami harus mendorong sampan, karena muara sungai sudah dangkal,” ujar beberpa nelayan Glee Bruk, saat bertemu Komisi D DPRA yang melakukan kunjungan ke desa tersebut, Kamis (19/3).

Menanggapi permintaan itu, Ketua Komisi D DPRA, Sulaiman Abda didampingi Wakil Ketua Almanar mengatakan, masalah yang disampaikan nelayan Gle Bruk adalah masalah klasik yang sudah sekian lama dialami masyarakat di daerah aliran sungai yang dekat dengan muara laut. Setelah meninjau ke lapangan, Komisi D melihat sendiri muara Sungai Glee Bruk yang sudah cukup dangkal.

Menurut laporan nelayan Gle Bruek kepada Ketua Komisi D DPRA, Sulaiman Abda dan Almanar, pendangkalan muara sungai itu disebabkan pengaruh stunami dan banjir. Sejak terjadi tsunami empat tahun lalu, muara sungai tersebut belum pernah dikeruk, sedangkan penimbunan pasir laut dan lumpur banjir di muara sungai terus bertambah.

“Pengerukan muara sungai adalah salah satu dari program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Maksudnya setelah muara sungai di keruk, nelayan sudah bisa dengan mudah ke luar masuk dari muara sungai, dan tidak perlu menunggu air laut pasang baru pergi melaut,” ujar Sulaiman Abda.

Sementara para petani sawah yang hadir dalam pertemuan dengan Komisi D meminta supaya sawah mereka yang terkena ekses tsunami direhab kembali. Padahal, kata beberapa pertani, sawah di daerah tsunami lainnya yang terkena bencana tsunami telah direhab.

Petani sawah Desa Gle Bruek, juga meminta supaya Komisi D yang membidangi pembangunan irigasi, menyarankan kepada Dinas Sumber Daya Air (SDA) memprogramkan pembangunan irigasi. Permintaan ini, karena luas sawah yang layak untuk dialiri irigasi di Desa Gle Bruek mencapai 400 hektare. “Karena itu, layak untuk dibangun irigasi sekala sedang di desa ini,” ujar seorang petani sawah.

Dalam kunjungan kerjanya ke Kecamatan Lhong, Aceh Besar, Komisi D juga mengunjungi Desa Pudeung. Masyarakat Desa Pudeung, meminta Komisi D memprogramkan pembangunan tangul sungai Krueng Pudeung. Akibat ketiadan tanggul sungai, setiap musim hujan pemukiman penduduk dan masjid terendam luapan air sungai.

Permintaan pembangunan tanggul sungai, kata Ketua Komisi D DPRA, Sulaiman Abda, juga diutarakan oleh masyarakat di semua daerah aliran sungai (DAS) yang dikunjungi Komisi D. Karena banyaknya permintaan, kata Sulaiman, maka sebelum pembangunan dilaksanakan, perlu dilakukan survei investigasi detil (SID). Survei ini perlu dilakukan untuk pembuatan detail engeenering design (DED).

Tanpa dua kegiatan itu, menurut Sulaiman, pembangunan tanggul pengaman sungai akan sia-sia alias tidak berguna bagi perlindungan pemukiman penduduk. “Daerah-daerah yang mengusul pembangunan tanggul, kami harap bisa bersabar. Komisi D akan mengusulkan pembuatan SID dan DED nya lebih dulu ke Dinas Sumber Daya Air (SDA) baru anggaran kegiatan diusul dalam RAPBA murni atau perubahan,” ujar Sulaiman Abda.(her)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: