Posted by: kualaclipping | May 25, 2009

KRI Sultan Iskandar Muda Kawal Selat Malaka

www.serambinews.com on 20 Maret 2009, 08:02

BANDA ACEH – Panglima TNI, Jenderal Djoko Santoso mengukuhkan nama Sultan Iskandar Muda untuk Kapal Perang Republik Indonesia (KRI)-367. Selain itu, dikukuhkan juga KRI Alkura-830 sebagai kapal patroli cepat (PC) 40 untuk wilayah Indonesia Timur.

Pengukuhan kedua kapal perang itu ditandai dengan penekanan tombol oleh Panglima Jenderal TNI Djoko Santoso, di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar, Kamis (19/3).

Menurut Panglima TNI, penambahan kapal perang seperti KRI Sultan Iskandar Muda itu dimaksudkan untuk memperkuat armada patroli laut di Selat Malaka yang sering terjadi gangguan tindakan kriminal, seperti perompakan kapal niaga dan penyelundupan.

“KRI Sultan Iskandar Muda itu akan dioperasikan untuk patroli di perairan Selat Malaka mulai dari perairan Aceh-Jakarta. Tapi kapan operasinya dilakukan, itu sangat rahasia dan Kasal TNI-lah yang mengetahui kapan dilaksanakan,” kata Panglima TNI kepada pers, usai acara pengukuhan.

Panglima mengatakan, KRI Sultan Iskandar Muda yang merupakan keluaran tahun 2008 itu, termasuk empat kapal perang baru TNI AL yang berteknologi mutakhir, dilengkapi meriam, torpedo, combat system, search radar, sonar, radar navigasi, dan komponen strategis lainnya. Kapal ini akan ditugaskan untuk mengawal dan mengawasi perairan Selat Malaka.

Bobot KRI Sultan Iskandar Muda bernomor lambung 367 ini mencapai 1.819 ton, panjang bodi 90,71 m, dan lebar 13,02 m, berawak kapal 87 orang lebih. Kapal ini termasuk jenis kapal perang Corvet Sigma yang memiliki banyak keunggulan dari produk kapal perang yang pernah dibuat di Belanda dan negara lain yang telah dimiliki TNI AL sebelumnya.

Kecepatan maksimumnya mencapai 28 knot. Kapal ini dibuat sejak Mei 2006 di Galangan Kapal Damen Naval Shipbuilding, Belanda. KRI ini adalah kapal ketiga dari empat kapal perang milik TNI AL yang dibangun di galangan kapal Belanda dan satu lagi akan masuk tahun ini juga.

Empat tambahan kapal perang baru itu, kata Panglima TNI, untuk menambah kekuatan 264 armada kapal perang dan patroli yang telah dimiliki TNI AL guna menjaga keutuhan wilayah, menegakkan hukum dan kedaulatan NKRI di wilayah perairan Nusantara. “Selain itu, kita juga akan membuat kapal selam,” kata Panglima TNI.

Sejak dilakukan patroli bersama dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand, ungkap Panglima, dunia internasional memberikan apresiasi positif dan memuji Indonesia. Kapal-kapal dagang internasional yang melintas di Selat Malaka setiap hari mencapai 140 unit atau setahun mencapai 5.000 unit, saat ini sudah merasa lebih aman, dari sebelumnya banyak gangguan.

Dari 5.000 kapal yang melintas di Selat Malaka, sebesar 50 persen mengangkut minyak. “Oleh karena itu, jika Selat Malaka tidak dijaga secara rutin dengan patroli kapal perang, maka pendistribusin minyak termasuk ke Aceh bisa terganggu,” kata Panglima TNI.

Penambahan kapal perang, kata Panglima TNI, terus dilaksanakan selama tersedia anggaran untuk membelinya.

Acara pengukuhan nama Sultan Iskandar Muda untuk KRI baru itu diawali dengan militer, kemudian dilanjutkan dengan acara adat. Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, memakaikan kupiah meukeutop dan baju kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda kepada Komandan KRI Sultan Iskandar Muda, Letkol Laut (P) Ariantyo Condrowibowo. Acara adat pengukuhan KRI Sultan Iskandar Muda itu juga dimeriahkan dengan tarian Saman Gayo.

Gubernur Irwandi bersama istrinya, Darwati A Gani, sangat gembira karena TNI AL menggunakan nama Sultan Iskandar Muda untuk nama KRI yang baru dan canggih tersebut. Panglima Kodam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Walikota Sabang, Walikota Banda Aceh dan Bupati Aceh Besar, serta kepala Staf TNI AL, dan perwira tinggi TNI AL, AD, dan Polri turut hadir dalam acara pengukuhan nama Sultan Iskandar Muda untuk KRI yang baru itu. Sedangkan T Zainoel Arifin Panglima Polem yang masih punya garis keturunan dengan Sultan Iskandar Muda menyerahkan foto Sultan Iskandar Muda dalam ukuran besar kepada Gubernur Irwandi Yusuf untuk diteruskan kepada Kepala Staf Angkatan Laut TNI Laksamana, Tedjo Edhy Purdijatno.

Selain KRI Sultan Iskandar Muda yang diresmikan Panglima TNI Djoko Santoso kemarin, masih ada satu unit KRI lagi yang dikukuhkan namanya, yaitu KRI Alkura. Nama itu diadopsi dari nama seekor ular paling berbisa di hutan Ternate.

KRI Alkura, kata Panglima TNI, lebih kecil dari KRI Sultan Iskandra Muda. Kapal tersebut merupakan kapal patroli cepat yang ditempatkan untuk mengawasi perairan wilayah Indonesia Timur. Armada kapal laut yang dimiliki TNI AL saat ini sudah cukup jika pengoperasiannya diatur dan dilakukan dengan baik dan tepat sasaran. Kapal perang itu mampu menjaga wilayah perairan NKRI dari aksi kejahatan laut, seperti perompak dan penyelundupan. “Kenapa itu perlu dilakukan, karena kejahatan laut bisa menghancurkan ekonomi rakyat dan nasional. Karena itu, perlu terus dipantau dan dicegah serta ditindak tegas pelakunya,” tegas Djoko Santoso

Ketika ditanya mengenai kondisi keamanan di Aceh, Pamglima TNI, Djoko Santoso mengatakan, status Aceh saat ini tertib sipil. Untuk pengamaman status daerah tertib sipil di depannya adalah polisi.

Untuk mendukung tugas polisi di Aceh dalam pengamanan pemilu legislatif, 9 April 2009, Polda Aceh telah mengajukan permintaan personel TNI sebanyak 1.000 orang ke Kodam Iskandar Muda. “Seandainya Kapolda Aceh minta 10.000 orang personel TNI untuk membantu tugasnya, kita juga siap menyediakan,” tegas Panglima.

Ke Pulau Rondo
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno kemarin mengunjungi Pulau Rondo yang merupakan pulau terluar di ujung utara Pulau Weh, Provinsi Aceh.

Kunjungan tersebut dilakukan KSAL usai pengukuhan KRI Sultan Iskandar Muda-367 dan KRI Alkura-830 oleh Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso di Pelabuhan Malahayati.

Kunjungan tersebut hanya untuk memberi pengarahan dan motivasi kepada aparat TNI AL yang bertugas menjaga pulau terluar yang berbatasan langsung dengan India dan Thailand itu.

Saat ini puluhan prajurit marinir ditempatkan untuk mengamankan Pulau Rondo sebagai upaya untuk mengamankan pulau terluar paling barat Indonesia.

Letak Pulau Rondo sangat strategis, pada 6 derajat Lintang Utara (LU) dan 95 Bujur Timur (BT), yaitu di ujung barat Indonesia dan dilalui jalur pelayaran internasional.

Pulau yang memiliki luas tiga kilometer persegi dan berjarak 15,6 kilometer dari Kota Sabang ini dapat dicapai dengan menggunakan kapal motor dengan waktu tempuh sekitar 1,75 jam. (her/fs)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: