Posted by: kualaclipping | May 25, 2009

Bencana Lokal dan Kemiskinan

www.serambinews.com on 23 May 2009, 08:41

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Ada fenomena alam yang tidak biasa, sedang kita rasakan. Berita bencana banjir menghiasa media. Baik di Aceh maupun tingkat nasional. Nyaris tak ada lagi pertukaran musim. Di tengah hari-hari yang panas pada musim kemarau, seringkali hujan turun dengan lebat. Sebaliknya setelah hari-hari hujan yang deras, panas muncul dengan ukuran yang ekstrim. Kita juga melihat gejala lain, ada tanaman yang dahulu berbuah sekali setahun, kini berbuah sepanjang tahun. Apa sebenarnya yang tengah terjadi?

Ada dua hal yang sedang terjadi. Pertama, dunia sedang mengalami perubahan iklim global yang sangat hebat dalam sejarah umat manusia. Pemanasan global mengakibatkan meningkatnya temperatur bumi. Kedua, daya dukung alam kita di Aceh, terutama kemampuan hutan untuk menyimpan air ketika hutan terjadi semakin berkurang akibat deforestrasi. Kemerosotan serapan air oleh hutan berlaku juga di hampir seluruh Indonesia. Kedua hal ini kini sedang berjalan secara simultan.

Secara sederhana, peningkatan pemanasan global tidak lain dari peningkatan suhu rata-rata di bumi, laut, dan atmosfir sebagai akibat dari meningkatnya jumlah pengotoran karbon ke udara karena penggunaan bahan bakar industri dan transportasi. Karbon yang berasal dari pembakaran minyak bumi, gas alam, dan batubara di negara maju dan berkembang menjadi bertambah parah akibat semakin hilangnya hutan dan rawa yang merupakan penyerap utama karbon. Pembakaran hutan, pembakaran tempat akhir pembuangan sampah, dan proses dekomposisi pada bendungan skala besar juga membuang racun karbon ke atmosfir. Akibatnya, radiasi sinar matahari terjebak di dalam atmosfir yang mengakibatkan bumi semakin panas. Di sinilah proses perobahan iklim global berawal.

Di tingkat dunia, atasnama pertumbuhan ekonomi dan kenaikan laju konsumsi, banyak negara maju masih saja menggunakan bahan bakar fosil. Di negara-negara berkembang laju pembukaan hutan berjalan dengan cepat. Pada awalnya gejala lokal, lalu nasional, kemudian regional, dan akhirnya menjadi global. Ketika panas bumi semakin menjadi, maka musim menjadi terganggu, jenis penyakit menular baru muncul, dan bencana alam menjadi permanen.

Perubahan iklim global membuat kaedah-kaedah alam sebelumnya menjadi tidak berlaku lagi. Penghasil emisi karbon terbesar kini telah beralih dari negara maju ke negara berkembang. Amerika Serikat, Eropah, dan negara maju lainnya kini tengah mengambil langkah-langkah drastis untuk mengurangi emisi karbon, namun peran itu akan diambil oleh negara berkembang . Ada perhitungan yang menduga dalam beberapa tahun ke depan seluruh negara berkembang dunia akan menyumbang 75 persen terhadap kenaikan panas bumi (National Geographic 2008).

Kawasan lahan tropis sangat rentan terhadap kerusakan, terutama akibat campur-tangan manusia yang menebang dan menggunduli hutan tanpa terkendali. Khusus di kawasan tropis, setiap tahun sekitar 14,6 juta hektar hutan hilang. Tanah makin rentang baik fisik maupun kimiawi. Buktinya banyaknya daerah tandus, cepat jenuh, dan cepat kering ketika curah hujan berubah. Tanah kehilangan daya serap air hingga banjir mudah terjadi.

Pengrusakan hutan lokal bersama komponen produsen karbon lainnya, memberi andil besar bagi perubahan iklim global. Saat yang sama merusak daya dukung alam lokal, terutama penyerapan air dan pengaturan kelembaban. Banjir dan panas adalah konsekwensi logis jangka pendek yang sedang melanda berbagai kawasan. Masih banyak lagi ancaman alam lainnya yang segera datang, belum terdeteksi.

Kemiskinan.
Skenario pengakhiran pemanasan dan perubahan iklim global, dipastikan tidak bisa berlangsung cepat. Meskipun hampir semua negara maju, saat ini telah bersepakat mengambil langkah-langkah penting untuk mengurangi emisi karbon. Belum lagi ketidakpatuhan negara-negara industri baru seperti Cina, India, dan Brazil yang merupakan raksasa ekonomi dunia yang masih belum mau melepas diri dari ketergantungan kepada bahan bakar minyak, gas, dan batu bara. Yang lebih parah lagi banyak negara berkembang yang sekaligus menggunakan bahan bakar fosil. Pada saat yang sama juga memusnahkan hutan mereka karena kebutuhan pembangunan ekonomi.

Dampak iklim global akan dirasakan semua makhluk hidup yang ada di planet bumi. Manusia menjadi pihak yang paling merasakan berbagai fenomena destruktif akibat hilangnya keseimbangan alam. Dan akan terjadi perbedaan yang mencolok antara negara maju kaya dengan negara berkembang dan miskin. Yang kaya, tetap kaya dengan sedikit menderita. Sebaliknya yang miskin akan semakin miskin dan akan paling menderita. Hanya si miskin yang sadar dan bekerja keras, relatif dapat menjinakkan penderitaan yang akan terjadi.

Negara-negara maju yang memiliki persediaan sumberdaya melimpah, penegakan hukum yang baik, pemerintah yang efektif, dan mayoritas warga negara yang terdidik, relatif mudah mengambil langkah-langkah antisipasi. Misal, hampir semua kota-kota negara maju di dunia memiliki hutan kota dan prinsip pembangunan hijau yang cukup. Hukum-hukum yang mengurus pola “pembangunan hijau”, penggunaan “teknologi hijau”, dan “gaya hidup hijau” kini semakin menjadi trend yang terus menguat.

Di negara berkembang, terutama yang miskin, dampak perubahan iklim global makin berlipat-ganda. Produksi pertanian bahan makanan, ketersediaan air minum sehat, penyakit menular, dan kwalitas hidup warga semakin menurun. Saat ini sedang dialami negara-negara benua Afrika. Kekeringan yang terjadi dalam waktu yang lama telah menyebabkan matinya ternak dan gagalnya produksi pertanian. Kelaparan, kekurangan air minum, dan penyebaran penyakit menular kini menjadi berita sehari-hari di Afrika.

Ketika terjadi siklus El Nino menjelang tahun 2000, negara-negara Kenya, Tanzania, Mozambik, Somalia, dan Djobouti, disamping mengalami banjir yang parah, negara-negara itu juga mengalami kolera yang amat dasyhat (CS Monitor 2006). Kekeringan yang parah yang silih berganti dengan hujan lebat yang terus menerus dalam selang waktu yang pendek, telah memperparah kwalitas hidup warga di negara-negara itu. Akibatnya, pembangunan yang dilakukan tidak mampu menurunkan jumlah masyarakat miskin yang ada, bahkan perobahan iklim telah semakin memperburuk kemiskinan yang ada. Alih-alih mengurangi kemiskinan, jumlah penduduk miskin justeru semakin bertambah.

Pelajaran untuk kita
Pengrusakan hutan di Indonesia tergolong sangat besar. Pada tahun 2007 saja, seluas dua juta hektar hutan nasional rusak, dan bencana banjir yang terlaporkan mencapai 319 kasus dengan kerugian mencapai Rp 1 triliun (Koran Tempo 2008). Dalam keadaan seperti ini, maka peningkatan angka kemiskinan otomatis akan terjadi dengan sendirinya, karena sumberdaya potensial seperti tanah, air, dan berbagai infrastruktur produktif akan menjadi bahagian atau tertimpa bencana.

Angka kemiskinan akan terus naik secara linear seiring dengan kerusakan daya dukung ekologis yang parah. Kalau dahulu kita mengenal kemiskinan struktural sebagai sebagai lingkaran setan yang terus menerus mereproduksi kemiskinan secara berkelanjutan, maka dalam konteks kerusakan ekologis, akan hadir perangkap yang akan mereproduksi kemiskinan secara bergenerasi.

Di Aceh, laju pengrusakan hutan tanpa henti. Antara tahun 2000-2004 angka deforestrasi mencapai 200.000 hektar. Hampir separuhnya terjadi di kawasan hutan lindung. Prediksi spasial Greenomics (2006), deforestrasi dalam kawasan hutan Aceh yang terjadi antara tahun 2005-2006 mencapai sekitar 266.000 hektar. Jika ditambah dengan jumlah hutan Aceh yang telah rusak sebelumnya mencapai hampir dua juta hektar, dapatlah dibayangkan hampir separuh dari luas Aceh kini menyimpan potensi bencana yang permanen. Tanpa ada langkah-langkah nyata, maka berbagai tekad dan slogan hanyalah rekaman sejarah yang menjadi tertawaan dan cemeohan zaman.

Cerita kekeringan dan bencana banjir di negara-negara miskin Afrika dan Amerika Tengah, kini sedang terjadi di Indonesia, termasuk di Aceh. Dari beberapa kejadian terakhir bencana banjir, kini pemetaan wilayah bencana di seluruh Aceh semakin jelas. Hampir tidak ada daerah aliran sungai di Aceh kini yang aman dari praktik penggundulan hutan. Dari total deforestarasi hutan Aceh itu, sepertiganya terjadi di daerah aliran sungai. Dan kawasan langganan banjir itu umumnya pada kawasan hilir daerah aliran sungai-sungai besar di Aceh.

Tampak bahwa perubahan iklim global dan kesemrawutan pengelolaan hutan lokal, sedang mengubah paradigma air sebagai sumber kemakmuran menjadi paradigma air sebagai sumber penderitaan. Dulu, air adalah rahmat, terkendali, dan berkelanjutan. Pada yang Sekarang, air adalah bala, tidak terkendali, dan tidak berkelanjutan. Jika ini yang terjadi, maka kita akan menyaksikan kawasan-kawasan Aceh yang dahulunya makmur karena sumberdaya air, saat ini sedang berubah secara perlahan menjadi kawasan miskin, juga karena air yang terlalu banyak atau sedikit.

Kini semakin jelas, bahwa sumberdaya hutan yang kita miliki yang selama ini sebagai penyangga kehidupan ekonomi dan sosial, kini sedang memasuki masa-masa kritis. Semakin mengkhawatirkan, bahwa masa depan kita dan anak cucu saat ini berada di persimpangan jalan. Pengrusakan hutan telah menyumbang terhadap penderitaan global dan segera juga menghasilkan bencana lokal, banjir dan kemiskinan. Ketika kemiskinan kita masuk dalam perangkap ekologi yang rumit seperti kehilangan daya dukung hutan, maka sangat sukar membayangkan kesejahteraan akan datang untuk kita, bahkan anak cucu kita sekalipun.

Penulis adalah Sosiolog, dan Dosen pada Fakultas Pertanian Unsyiah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: