Posted by: kualaclipping | May 11, 2009

Pendidikan Perempuan Aceh

Opini – Serambi Indonesia – Mon, May 11th 2009, 08:17

Oleh: Jhon Kurien )*

DUA puluh tahun lalu, saya pernah mengikuti presentasi seorang ahli ekonomi dari Turki di provinsi asal saya di Kerala, India. Katanya, ada beberapa unsur penting bagi pengembangan ekonomi di suatu negara. Ketita itu seorang peserta mengajukan satu pertanyaan, “Jika dana yang tersedia untuk suatu negara sangat terbatas, dua jenis investasi yang paling penting apakah yang akan anda rekomendasikan guna menjamin kesinambungan pembangunan ekonomi dan sosial?”

Sang ahli ekonomi itu menjawab, “Jika dana yang tersedia sangat terbatas kita hanya bisa melakukan investasi di dua area dan saya akan memilih pendidikan bagi perempuan dan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama.” Kombinasi tersebut, masa itu, memang terlihat sedikit asing. Namun melalui pertimbangan selama bertahun-tahun dan mengamati proses pembangunan di beberapa negara membuktikan bahwa ini merupakan suatu kombinasi investasi yang sangat menarik. Dan saya berkeyakinan bahwa dua hal ini memiliki relevansi yang cukup kuat untuk Aceh sekarang.

Hasil riset dan analisa sosial ekonomi yang dilakukan di beberapa negara diketahui bahwa kualitas hidup dari suatu komunitas sangat terkait pada tingkat kemampuan baca-tulis dan pendidikan kaum perempuannya. Pada umumnya, di suatu negara dan provinsi dimana kaum perempuannya mampu baca tulis ditemui angka kematian bayi rendah. Bila kemampuan baca tulis kaum perempuannya tinggi, maka secara alami pertumbuhan penduduk akan menurun meskipun tanpa disertai kampanye keluarga berencana secara besar-besaran.

Seorang ibu yang terpelajar tidak akan membeda-bedakan perlakuannya terhadap anak laki-laki maupun perempuan, keduanya sama-sama berharga didalam keluarganya. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi anak perempuan akan meningkat secara dramatis pula jika ibunya mampu baca-tulis. Perempuan berpendidikan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga mereka. Ini menciptakan pengaruh berlipat ganda melintasi generasi kegenerasi. Oleh karena itu, investasi di bidang pendidikan bagi perempuan berarti investasi bagi kemajuan generasi dan ekonomi di masa yang akan datang – tidak hanya untuk keluarga saat ini saja. Kendati pandangan ini masih memerlukan pendalaman di banyak daerah bagian India. Namun sepertinya masyarakat Aceh sudah memahami hal ini.

Investasi di bidang infrastuktur – jalan, saluran pengairan, jaringan komunikasi, jaringan transportasi, pembangkit listrik, irigasi dan air bersih, serta fasilitas fisik lainnya seperti sekolah, rumah sakit, pelabuhan dan sebagainya – sangat diperlukan agar sektor ekonomi dapat bergerak dinamis. Pembangunan sektor pertanian dan perikanan; industri, aktivitas konstruksi, perdagangan, keuangan dan layanan lainnya, keseluruhannya bergantung secara krusial pada fasilitas infrastruktur yang kondisinya baik dan juga berfungsi. Dengan kata lain, kemajuan ekonomi yang “riil” di suatu negara atau provinsi – tidak hanya untuk sekarang namun juga dimasa depan – sangat bergantung pada kualitas infrastruktur yang tersedia. Tanpa adanya investasi yang memadai di bidang infrastruktur maka seluruh investasi yang dialokasikan untuk sektor ekonomi lainnya akan sia-sia.

Dapat dibayangkan apa yang terjadi jika traktor tanpa irigasi; boat penangkap ikan tanpa pelabuhan ikan; pabrik tanpa listrik; perdagangan tanpa jalan dan fasilitas transportasi; bank tanpa jalur komunikasi. Karena itu, investasi di bidang infrastruktur merupakan suatu investasi di masa depan, bukan hanya kegiatan ekonomi untuk hari ini. Kami belajar dengan cepat tentang hal ini di India. Untuk Aceh mungkin diperlukan pemikiran lebih serius, yang dicurahkan dalam waktu yang cepat.

Link– Hal menarik dari pendidikan bagi perempuan dan infrastruktur, bahwa keduanya membutuhkan investasi masyarakat yang cukup besar, perencanaan matang, visi jelas dan kemauan politik yang kuat. Investasi swasta di bidang pendidikan bagi perempuan dan pembangunan infrastruktur sangat penting, namun kedua investasi tersebut agaknya tidak akan pernah bisa menjadi pengganti investasi yang harus dilakukan oleh pemerintah. Keduanya bisa berstatus menjadi milik pribadi atau umum pada waktu yang bersamaan tergantung pada jangka waktu investasi yang dibutuhkan.

Anda tidak akan bisa mengembangkan pendidikan bagi perempuan tanpa adanya fasilitas sekolah dan perguruan tinggi bagi mereka. Satu kota tanpa aliran listrik yang memadai untuk rumah sakit tidak akan dapat membantu ibu yang bisa baca-tulis dari pedesaan yang berharap dapat melahirkan anaknya dengan selamat di rumah sakit.

Kita telah membuat kemajuan yang berarti di bidang pendidikan bagi perempuan di Aceh saat ini. Sepanjang sejarah dan nilai budayanya, peran pendidikan bagi perempuan telah membawa Aceh ke arah persamaan gender yang lebih luas dan peranserta perempuan lebih tinggi di sektor ekonomi. Perempuan di Aceh juga telah memiliki peran yang cukup besar dalam formasi dan pengambilan keputusan di dalam rumah tangga. Di kabupaten-kabupaten dimana lebih banyak kaum perempuannya mempunyai kemampuan baca tulis ditemui bahwa angka kematian bayi lebih rendah, jumlah anggota keluarga yang lebih sedikit serta jumlah anak-anak mampu baca tulis lebih besar. Kemungkinan besar hal ini terkait dengan peran historis perempuan dalam masyarakat Aceh dan kenyataan sejarah bahwa nvestasi di bidang pendidikan yang telah dilakukan oleh berbagai lembaga keagamaan dahulu, dan yang dilakukan oleh negara selama ini. Berbeda dengan sektor infrastruktur di Aceh. Sektor ini tercatat sangat memprihatinkan. Ini tercermin dari stagnasi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi riil – sektor pertanian, perikanan, industri, perdagangan, konstruksi dan pelayanan publik.

Bagi siapa saja yang tinggal di Banda Aceh mungkin tidak terlalu memperhatikan hal ini, Kehidupan di sini nampaknya layak dan nyaman bagi mayoritas penduduk. Tentu saja kadang-kadang tidak adanya pasokan air dan listrik. Stok barang di Pante Pirak tersedia dengan sangat baik, pasokan sayur-mayur dan ikan sangat banyak meskipun sebagian dipasok dari tempat yang jauh. Banyaknya toko ponsel yang ada mengindikasikan bahwa tidak ada kendala di bidang komunikasi. Masyarakatnya melakukan banyak pembicaraan. Partai politik dan KPU sering mengirimkan pesan melalui SMS. Persediaan air yang cukup di doorsmeer sehingga kendaraan pribadi selalu bersih. Tersedianya berbagai infrastruktur yang memadai seperti jalan-jalan di area Banda Aceh yang terawat dengan baik. – bahkan lebih baik dari kampong halaman saya di India, Di sini terdapat banyak rumah sakit, tersedianya universitas, dan banyak sekolah- sekolah dan berbagai fasilitas pendidikan lainnya, terdapat pelabuhan ferri dan terminal kontainer.

Anda harus tahu, terjadi kondisi yang jauh berbeda di tempat lainnya di Aceh, khususnya di sepanjang wilayah pantai barat yang saya kenal dengan baik. Sekarang saya akan membahas tentang satu aktivitas di wilayah Aceh bagian barat yang hidup sangat menderita akibat buruknya fasilitas infrastruktur – sektor perikanan laut. Tak diragukan lagi, kita tidak bisa berbicara tentang infrastruktur di sepanjang pantai barat tanpa mempertimbangkan kerusakan yang diakibatkan oleh tsunami. Namun setelah empat tahun kemudian banyak pembicaraan tentang jalan yang dibangun oleh USAID yang masih jauh dari impian. Memang, begitu banyak alasan yang menyebabkan tertundanya penyelesaian jalan ini. Kenyataan yang harus diterima adalah dengan belum selesainya jalan menjadi kendala besar untuk perikanan laut di wilayah barat Aceh. Tanpa adanya jalan,dan listrik menjadi rintangan terbesar bagi perikanan laut di wilayah tersebut. Tanpa listrik maka es tidak bisa diproduksi. Tanpa es maka tak akan ada harga untuk ikan, Hal ini secara tidak langsung berdampak bagi ribuan nelayan dan keluarganya. Banda Aceh sangat kekurangan ikan, sebagian besar dipasok dari Medan. Tetapi nelayan di sepanjang pantai barat – bahkan yang berasal lebih dekat ke Banda Aceh seperti Lamno – tidak dapat mengangkut ikannya ke pasar ikan di Banda Aceh akibat kurangnya jumlah es dan kondisi jalan yang belum baik.

Perempuan pengolah ikan di Patek, Aceh Jaya, tidak bisa memperoleh ikan karena kondisi jalan yang masih rusak dan kurangnya es. Mereka tidak dapat menjual produk ikan kering yang sudah dikenal luas oleh masyarakat karena kurangnya akses ke pasar kota di Banda Aceh dimana permintaan akan produk tersebut masih tinggi. Hal ini berdampak pada rendahnya pendapatan mereka dan akibatnya mereka tidak dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah yang bagus. Lebih lagi bahwa fasilitas pendidikan di wilayah tersebut masih sangat memprihatinkan. Bagi sebagian kecil masyarakat yang mampu harus pergi ke Banda Aceh lalu tinggal di rumah kos atau di rumah saudaranya.

Para nelayan tidak bisa melaut ketika mesin rusak karena lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan suku cadang. Sejumlah pabrik es dan tempat pendaratan ikan yang telah dibangun pasca tsunami tidak berfungsi karena tidak ada pasokan listrik. Nelayan harus mengurangi tangkapan karena harga jual yang rendah dan tidak ada es untuk menyimpan ikan yang tidak terjual. Meskipun pedagang dapat mengetahui harga pasar grosir untuk berbagai jenis ikan yang bernilai tinggi seperti tuna dan lobster melalui telpon selluler mereka, namun tetap saja harus dijual dengan harga yang sangat rendah karena transportasi yang tidak memadai untuk mengangkut ikan tersebut ke pasar tepat pada waktunya.

Sektor perikanan di pesisir barat Aceh akan meningkat hanya jika realisasi infrastruktur yang memadai – terutama jalan yang dibangun oleh USAID – telah dilaksanakan sepenuhnya. Boat dan jaring yang telah diberikan kepada nelayan pasca tsunami tidak akan memberikan perubahan secara signifikan terhadap kondisi ekonomi mereka saat ini tanpa disertai fasilitas infrastruktur yang memadai. Investor swasta tidak akan menanamkan modalnya di wilayah tersebut apabila jalan belum selesai dibangun.

Perempuan dan Perikanan telah sangat dirugikan akibat infrastruktur yang kurang memadai. Kurangnya investasi publik dalam infrastruktur mencegah datangnya investor swasta potensial. Perempuan di Aceh tidak melaut, tetapi sebagian besar dari mereka mengelola usaha perikanan skala kecil dan usaha perikanan milik suami mereka. Beberapa perempuan yang mampu baca-tulis sedang memulai usaha bersama’ namun karena keterbatasan infrastruktur dasar yang memadai menghalangi mereka untuk memperluas jaringan pasar mereka ke kecamatan-kecamatan lainnya. Investasi swasta yang dilakukan oleh keluarga nelayan individu untuk pendidikan bagi perempuan dan perikanan tidak dapat berfungsi sesuai dengan efisiensi yang optimal. Hal ini akan sangat sia-sia karena kurangnya investasi publik di bidang infrastruktur.

Konfigurasi politik baru di Aceh harus benar-benar melihat isu ini dan mendorong mempercepat penyelesaian jalan yang dibuat oleh USAID. Juga harus diciptakan kondisi yang baik untuk “good governance” dan kerangka kerja resmi harus diciptakan guna memastikan realisasi proyek infrastruktur lainnya dapat dilaksanakan sepenuhnya. Ini merupakan satu-satunya cara agar usaha investasi awal dibidang pendidikan bagi perempuan dan upaya pembangunan perikanan saat ini menghasikan buah yang manis di Aceh.

)* John Kurien adalah Profesor Centre for Development Studies, Trivandrum, India and Coordinator, International Collective in Support of Fishworkers

Original-link: http://www.serambinews.com/news/view/4531/pendidikan-perempuan-aceh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: