Posted by: kualaclipping | November 29, 2008

Kapal Nelayan Dibajak Perompak Bersenjata Api, Satu Nelayan Hilang, Kerugian Rp10 Juta

www.harian-aceh.com on Saturday, 29 November 2008 05:46

Bireuen | Harian Aceh—Sebuah kapal motor (bot langga) dengan nomor lambung 1625 dibajak lima perompak bersenjata api laras panjang di perairan Jambo Aye, Aceh Utara, Rabu (26/11) sekira pukul 15.00 WIB. Satu dari delapan orang awak bot dilaporkan hilang, kerugian diperkirakan Rp10 juta.

Kapal motor bernama ‘Samudera Mandiri Jaya’ itu baru dilepas perompak setelah semua barang berharga milik delapan nelayan dikuras. Kapal tersebut kemudian melanjutkan perjalanan ke Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Peudada, Bireuen, dan melaporkan peristiwa itu ke Pos TNI-AL Peudada, Kamis (27/11) malam.

Tekong kapal nelayan yang dirompak, Way San, 32, warga Batam kepada personil Polres Bireuen di PPI Peudada mengisahkan, kapal yang ditekonginya sedang memancing ikan tuna di perairan Jambo Aye, Aceh Utara. Mereka berangkat sejak Senin (24/11) dari Peudada.

Saat berangkat, selain dirinya, tujuh pekerja kapal motor masing-masing  Rudi, Mualim, Joko, Tarmin, Raman, Udin dan Daniel, semua warga luar Aceh. Dua anak buahnya sempat hilang yakni Daniel dan Raman setelah ditendang perompak ke laut saat akan merapat di pantai Jambo Aye. Keduanya disebutkan tidak bisa berenang.

“Daniel kemudian ditemukan masyarakat pesisir Jambo Aye, sementara Raman belum diketahui keberadaannya,” sebut Way.

Diceritakan Way San, kejadian itu berawal kala pekerjanya sedang memancing ikan tuna, lalu muncul sebuah kapal motor lainnya (boat langga) merapat ke kapal mereka. Kala itu letak kapal korban pada LU 0.5:11 an LT 96:34. Karena yang merapat diketahui milik nelayan, awak Samudera Mandiri Jaya milik Basrun Yusuf, warga Banda Aceh, itu tak menaruh curiga.

“Tiba-tiba lima orang bersenjata langsung naik ke kapal kami dan menodongkan senjata laras panjang. Kami tak berkutik dan ketakutan, mereka menyerbu kapal kami,” kata Way San.

Menurut dia, sebagian perompak menggunakan bahasa Indonesia dan Aceh. “Semua perompak berpakaian sipil dan pakai jaket hitam,” katanya.

Setelah kelima perompak yang menggunakan dua senjata AK-47 dan tiga senjata pelontar itu naik, lanjutnya, kapal motor nelayan yang ditumpangi perompak langsung kabur.  Ia menduga, kapal itu hanya ditumpangi perompak untuk mencari sasaran, bukan milik kawanan perompak.

Setelah kapal berhasil dibajak, perompak meminta semua anak buah Way San berkumpul, sementara dirinya diminta perompak untuk tetap mengemudikan kapal menuju daratan dengan tujuan pantai Jambo Aye. Dalam perjalanan ke pantai, saat malam tiba, perompak meminta Way San untuk mematikan semua lampu dan memacu bot dengan kecepatan tinggi sampai 10 Knot.

“Saya kira perompak itu bodoh, dalam perjalanan mereka ketakutan sampai memaksa mematikan semua lampu termasuk lampu kompas dan satelit, padahal itu akan memicu kecurigaan nelayan lain, bahkan aparat yang berpatroli. Malah ada sebuah kapal barang yang berpapasan, perompak itu ketakutan sambil berteriak patroli…patroli… , kanlpot kapal sampai mengeluarkan percikan api karena terlalu cepat,” jelasnya.

Dalam perjalanan itu pula, lanjut Way San, kawanan perompak beraksi mengumpulkan sejumlah barang berharga miliknya dan seluruh pekerja. Uang tunai miliknya Rp300 ribu, cincin emas seharga Rp4 juta, tujuh Hp milik pekerja. Semua tas dan pakaian dikumpulkan perompak. Way San mengaku sempat beberapa kali mendapat pukulan dari perompak, karena banyak tanya.

Kata Way San, beberapa jam kemudian kapal motor yang dikemudikan sampai di kawasan pantai Jambo Aye, Kamis (27/11) sekira pukul 01.00 WIB dinihari. Kira-kira seratus meter dari tepi pantai, perompak kembali mengumpulkan anak buahnya dan satu persatu ditendang ke laut.

“Saya tidak faham mengapa saya ditinggalkan dan tidak ditendang ke laut, perompak itu akhirnya melarikan diri ke kawasan hutan dengan barang rampasan, tapi satu senjata milik perompak malah tertinggal di dalam bot kami,” katanya.

Sementara menunggu pagi mesin bot dimatikan, Way San sendirian dalam ketakutan, takut perompak itu kembali. Lantas Kamis paginya, kata Way San, sekira pukul 08.00 WIB, ia menghidupkan kembali mesin kapal. Saat itu lima dari tujuh pekerjanya berdatangan dari dalam hutan dekat pantai dan kembali naik ke dalam bot. Dua di antaranya, Daniel dan Raman tidak kembali.

“Daniel menurut kabar sudah ketemu dan dalam perjalanan ke sini (Peudada). Raman itu yang saya tidak tahu kemana sampai sekarang, apa tenggelam atau selamat, karena saya tahu dia tidak bisa berenang,” jelasnya.

Dengan lima awak tersebut, kata Way San, bot berangkat dari pantai Jambo Aye menuju Peudada selama sepuluh jam perjalanan. Sampai di PPI Peudada Kamis (27/11) pukul 19.30 WIB, mereka melapor ke Pos TNI-AL Peudada dan satu senjata jenis pelontar milik perompak yang tertinggal sudah diamankan personil TNI-AL.

Kapolres Bireuen AKBP Teuku Saladin SH melalui telepon seluler, Jumat (28/11), mengatakan berdasarkan laporan seluruh awak kapal motor korban perompakan telah dibawa oleh TNI AL ke Lantamal Lhokseumawe untuk dimintai keterangan.

Kata Kapolres, personil TNI dan kepolisian sedang melakukan pencarian terhadap satu nelayan yang dilaporkan masih hilang. Para nelayan di perairan Malaka juga telah diimbau untuk ikut mencarinya. Selain itu, personil TNI dan polisi sedang menyelidiki dan menelusuri keberadaan para perompak.(del)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: