Posted by: kualaclipping | November 12, 2008

Harapan Anak Pulau

Opini oleh: Ahmadi (Wartawan Harian Aceh)

www.harian-aceh.com on Wednesday, 12 November 2008 05:40

O, Simeulue di tengah samudra, bilakah nasibmu sejahtera, bilakah perahu, riak dan gelombang laut membantu, bilakah warna warni terumbu karang dan ikan akan membawa warna kemapanan pendudukmu? Mintalah jawaban pada sang pemimpin, buktikan bahwa Simeulue punya pimpinan, jangan biarkan Simeulue hanya mengadu pada angin laut. Angin laut takkan bisa menjawabnya.

bila kita menumpang Feri dari Labuhan Haji, menyebrangi samudra menuju pulau cengkeh ini, 8-9 jam kita baru berlabuh di pelabuhan Simeulu. Bila dari Meulaboh, 12 jam baru mendarat. 70 persen penduduk Kabupaten Kepulauan Simeulue yang dipimpin Drs Darmili ini masih dibalut kemiskinan. Ancaman ada di depan, bila NGO dan BRR hengkang dari pulau cengkeh itu, pengangguran meningkat dan kriminalitas pun menjamur. Urbanisasi penduduk Simeulue ke luar pulau itu pun mungkin tak terelakkan. Sementara akses pendukung loading penjualan hasil bumi Simeulue keluar daerah kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Simeulue.

Sekeping Asa
Dari hari ke hari, nasib 3600 nelayan Simeulue dan pulau kecil sekitarnya kian terpuruk. Mereka hanya mengandalkan mata pancing dan perahu tua. Hasil tangkapan pun tak memadai untuk kehidupan layaknya manusia. Padahal mereka hidup di negara yang lebih 63 tahun merdeka ini. Tanpa fasilitas cukup, mereka terpaksa merelakan ikan laut Simeulue dikuras habis oleh nelayan luar. Ikan-ikan yang seharusnya jatah mereka dijual ke daratan Sumatera atau daerah lainnya.

Di balik itu, ada juga pihak lain seperti pemerintah dan donatur mewacanakan bantuan untuk nelayan. Namun wacana yang dilanjutkan dengan menyalurkan bantuan itu, tanpa disertai solusi pemasaran akhir. Sehingga tersebutlah ungkapan, “Prospek perikanan di Simeulue hanya jalan di tempat.”

“Kami tidak sering dapat ikan, karena hanya mengandalkan alat tangkap tradisional. Kami pun masih menjual ikan secara tradisional, yakni menjual ikan hasil pancingan pada tetangga rumah atau tetangga kampong. Bagaimana nasib kami, kapan nelayan ini bisa bangkit. Kami hanya dapat ikan banyak saat musim ikan, namun ketika banyak begitu, tak tahu ke mana kami jual,” keluh Kaharaman, (52) warga Gampong Tanjung Raya, Kecamatan Teluk Dalam.

Lelaki itu mengaku tidak tamat Sekolah Dasar. Putra pertamanya menjadi korban keganasan gelombang Tsunami 26 Desember 2004 di Ibu Kota Aceh. Selain memancing setiap harinya, ia mengadu nasib dengan menjadi sopir becak mesin. Ia tidak mendapat perahu bantuan maupun rumah bantuan. Ia pikir, bagaimana kalau uang dana takziah yang dihamburkan BRR untuk seminar atau membuat tsunami pura-pura untuk beli perahu untuknya. Namun, ia sadar, ia tak punya saudara dalam jajaran pengurus dana sedekah itu.

Ia mengenang masa kecilnya. Dulu, ia keluar sekolah karena tak memiliki biaya. Kalau sekolah, ia tak punya uang untuk beli makanan. Ia memilih memancing untuk menyabung hidupnya. Namun, setelah sekian tahun menggeluti dunia memancing, ia belum bisa memakmurkan dirinya. Bahkan, sampai kini, ia telah mememiliki cucu. Tapi taraf hidupnya tak juga naik. Ternyata hasil memancingnya dengan alat tangkap pancing tradisional hanya menuai untung-untungan.

Di antara 3000 nelayan tetap di pulau Samudra Hindia itu, ada M Kusai, Warga Labuhan Bakti, Kecamatan Teupah Selatan yang berjuang mengarungi ombak, mengandalkan perahu untuk mengasapi dapurnya setiap hari.

“Sebelum ke laut atau memancing, kami mesti mengutang dulu di kios-kios. Mengharapkan Tuhan mengirimkan rezeki untuk kami di laut. Kami gak mengharap banyak, asal bisa tertutup hutang aja. Kalau untuk hasil lebih, jangan harap,” desah Kusai, yang beruntung mendapat rumah bantuan. Namun untuk bantuan perlengkapan memancing, ia hanya tercatat dalam daftar tunggu yang entah kapan mendapat bagian.

Kedua nelayan tadi masih beruntung ada perahu tradisional, sedangkan Saharuddin,60, warga Suka Maju, Kota Sinabang, Kecamatan Simeulue Timur, bernasib lebih sengsara dari kedua temannya tadi. Lelaki bertubuh kurus yang kulitnya hitam legam itu, setiap hari bergelut dengan terik matahari, air asin, dan ganasnya gelombang laut.

Ia potret nelayan yang terpaksa meminjam perahu dayung temannya yang kebetulan tidak melaut. “Saya sudah tua, jadi tidak sanggup lagi membuat perahu yang baru. Terpaksa saya pinjam parahu dayung teman. Sebenarnya saya ingin sekali mendapatkan bantuan alat memancing, tapi karena saya tidak mengerti urusan proposal, maka tidak pernah dapat. Jadi beginilah nasib saya,” keluh lelaki yang tidak memiliki anak tersebut.

Program bidang Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Simeulue hanya berjalan di tempat, hanya sebatas wacana atau serahkan bantuan tidak tepat sasaran. Masaalah nelayan ditambah lagi kala hasil tangkapan ikan mereka membludak, tidak dapat dipasarkan atau ditampung oleh pemerintah setempat. Ternyata, melimpahnya potensi Perikanan dan sumber daya alam lainnya tanpa disertai solusi akhir. Sumber Daya Manusia dan Sumber daya alam di sana sedang disia-siakan.

Geografis dan Perkembangan Ekonomi
Laut Simeulue berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, Hindia dan perairan dunia yang menjadi lintasan jalur pelayaran internasional, 105 mil dari Meulaboh Aceh Barat, 85 mil dari Tapak Tuan Aceh Selatan. Pulau Simeulue memiliki panjang 100,2 km, lebar 8-12 km dan 212.512 ha. Sedangkan 14.491 ha lagi tersebar pada pulau-pulau lain, yakni: Siumat, Panjang, Batu Berlayar, Teupah, Tepi, Ina, Alafalu, Mincau, Simeulue Cut, Pinang, Dara, Langgeni, Linggam, Lekon, Selaut, Silauik, Penyu, Tinggi, Kecil, Khala-khala, Asu, Babi, dan Lasia serta pulau-pulau kecil lainnya.

Pertumbuhan dan perkembangan Ekonomi Sektor Perikanan di Kabupaten Simeulue yang dikelilingi laut nan dalam kian meningkat. Kabupaten yang memiliki beberapa pulau dengan ekosistem biota laut yang sangat banyak itu pun mempunyai potensi bahari lain. Ragam potensinya bisa mendongkrak Pendapatan Asli Daerah maupun ekonomi masyarakat, khususnya bagi nelayan pulau yang berjuluk pulau penghasil cengkeh terbesar di Tanah Rencong ini.

Luas areal perikanan tangkap di laut yang hampir mencakup seluruh laut yang menggelilingi pulau Simeulue hingga ke perbatasan jalur pelayaran internasional. Areal produktif budidaya ikan tawar mencakup 3384.7 ha dan budidaya rumput laut, sampai saat ini belum membawakan hasil yang maksimal bisa mendongkrak taraf hidup Nelayan.

Nelayan dan Ikan
Nelayan tetap di Simeulu ada 3000 orang, dan nelayan tidak tetap 600 orang. Nelayan tak tetap itu berdomisili di delapan kecamatan, yakni: Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Simeulue Barat, Teluk Dalam, Salang, Teupah Barat, Teupah Selatan dan Kecamatan Alafan. Hasil tangkapan ikan basah, lobster dan tripang para nelayan itu baru mencapai 6.572.5 ton pertahun. Sedangkan produksi budidaya ikan tawar mencapai 9 ton pertahun. Untuk ikan laut maupun ikan tawar yang diolah dan dipasarkan dalam Kabupaten Simeulue mencapai 48.715 kg pertahun.

Dari 3000 lebih nelayan Simeulue, yang memiliki armada tangkap unit perahu dayung 1.711 orang, perahu jenis robin atau Honda 1.700 unit, Boat 1-5 GT 162 unit, Boat 5-10 GT 9 unit. Alat tangkap 10-15 GT belum dimiliki oleh nelayan. Namun, dengan alat tangkap dan luasnya areal penangkapan ikan yang tersedia di perairan Pulau Simeulue, ternyata penghasilan nelayannya tidak maksimal seperti yang diharapakan. Peningkatan taraf ekonomi para nelayan itu masih jalan di tempat.

Miss Komunikasi Bantuan
Factor lain jalan ditempatnya sector perikanan di Kabupaten Simeulue, dipicu setelah Pemda atau NGO. Mereka menyerahkan berbagai bantuan untuk nelayan, namun tidak dibina dan dibimbing hingga membawa kesejahteraan. Malahan indikasi bantuan tersebut, hanya dinikmati oleh orang yang ‘dekat’ dengan pemberi bantuan. Inilah yang menimbulkan kesenjangan atau api dalam sekam di pulau tengah samudra sana.

Mohammad Azis, Koordinator Solidaritas Anti Korupsi Simeulue (SAKSI) mengaku, “Kita sangat bersyukur dengan mengalirnya setiap bantuan, tapi sampai saat ini, saya melihat bantuan hanya sebatas wacana, lalu diserahkan, kemudian tinggalkan. Bantuan itu tanpa didampingi oleh pihak terkait sampai unsaha berkat fasilitas bantuan mereka berhasil dan meningkatkan income para nelayan. Jangankan mengurus sampai nelayan itu sejahtra, malahan yang kebagian bantuan tersebut hanya orang dekat pengelola dana itu, yang dinilai mampu hidup layak tanpa bantuaan itu. Jadi tidak salah kita menilai perikanan di Simeulue hanya jalan dtempat” ungkap Azis.

Firdi Yuni Puji ST, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Simeulue mengaku, “Kita tetap mendampingi dan mesosialisasikan setiap bantuan dan potensi Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia terutama Nelayan Tetap. Tapi di lapangan, kita sering berbenturan dengan mekanisme masyarakat setempat. Seringnya donatur lain menyerahkan bantuan tanpa kordinasi dengan pihak kita. Maka bila sudah timbul masaalah, kita dijadikan kambing hitam oleh nelayan, sementara pihak donatur telah pergi entah kemana,” ungkap Firdi.

Lahok Sang Primadona
Lobster (lahok) merupakan hasil laut primadona kebanggaan Simeulue yang mempunyai nilai jual ekonomis tinggi. Kini lahok hanya dikelola olehg orang yang mempunyai modal besar. Sementara nelayan hanya sebagai penggarap biasa. Harga lobster mengikuti mata uang Dolar Amerika Serikat. Mulai dari harga Rp 100.000-400.000/kg, dengan pangsa pasar Jakarta dan Luar Negeri. Lahok pun menjadi cenderamata atau menu makanan utama bagi tamu dan pejabat dalam Negeri maupun Luar Negeri yang datang ke pulau itu.

“Lahok adalah tanda Pulau Simeulue, jadi, jika ke Simeulue, namun belum makan lobster, artinya belum diakui pernah ke Simeulue.” Ungkapan tersebut adalah sapaan warga Simeulue kepada setiap orang luar yang berkunjung ke Pulau di tengah Samudra hindia itu.

Ungkapan ibu bukan sekedar basa-basi, namun dibuktikan dalam Rekapitulasi PAD Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Simeulue per tahun 2007. Lobster hidup 9.8895 ton, lobster mati 1.536 ton, ikan segar 21.095 ton, tripang 7.455 ton, lolak 1.789 ton, ikan hidup 3.499 ton, dan sirip hiu 0.02 ton. Total PAD dari sktor perikanan mencapai Rp 52.071.500. hasil itu, bila dibandingkan dengan PAD dan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang tersedia pada Pulau di Tengah Samudera Hindia tersebut, baru mencapai 37,71 persen. Bayangkan bila mencapai seratus persen!

Jumlah Penduduk dan Tapal Batas
Menurut data tahun 1996 populasi penduduk mencapai 81.596 jiwa atau 18.152 KK. Kini, bisa diprediksikan bertambah sepuluh persen, yakni, di atas 90.000 jiwa. Penganut agama Islam mencapai 78.189 persen, selebihnya Kristen dan

Penghasilan unggulan masyarakat seperti, cengkeh, kelapa, kakao, karet, pinang, pala. Buah sawit masih dikelola oleh Pemerintah Daerah, namun belum maksimal.

Sedangkan sektor perikanan masih jalan di tempat, belum bisa mendongkrak perekonomian nelayan, kendati hanya untuk kebutuhan sehari-hari.

Sector Industri konvensional dan rumah tangga masih sangat minim, hanya untuk keperluan sehari-hari. Bidang pertanian, seperti padi sawah masih mengandalkan sistim tadah hujan, dan swasembada pangan masih sebatas wacana. Beras masih didatangkan dari luar Kabupaten Simeulue.

Batas wilayah 105 mil laut dari Meulaboh kabupaten Aceh Barat, 85 mil dari Tapak Tuan Aceh Selatan. Panjang pulau simeulue 100,2 km, lebar 8-28 km, luas secara keseluruhan mencapai 198.021 ha. 135 Gampong, 8 Kecamatan, Simeulue Timur, Simeulue Barat, Simeulue Tengah, Teupah Barat, Teupah Selatan, Salang, Teluk Dalam dan Alafan.

Suku asli yang mendiami pulau penghasil cengkeh terbesar di provinsi Aceh tersebut adalah, Dagang, Pamuncak, Abon, Lanteng dan Painang. Sedangkan suku lain yang berbaur seperti Aceh, Batak, Minang, Bugis dan Jawa. Bahasa yang dipakai adalah bahasa induk seperti Bahasa Simolol, Devayan, Sigulai, Leukon, Aneuk Jame, dan bahasa pengantar resmi bahasa Indonesia.

Jumlah kenderaan roda dua 5.150 unit, roda tiga 260 unit, roda empat 399 unit, roda 6 168 unit, roda sepuluh 97 unit, mobil dinas 83 unit, bus pelajar 5 unit dan angkutan umum 25 unit.

Bisakah Diandalkan?
Bila diberdayakan secara maksimal SDA dan SDM yang ada, bukan tidak mungkin sector Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Simeulue bisa setara dengan Negeri Matahari (Jepang), tapi sayangnya Pemerintah pulau itu hanya berorientasi pada sector perkebunan. Seandainya pemerintah Simeulue bersandar pada riaknya gelombang. Seandainya memfokus pada indahnya terumbu karang, seandainya dimamfaatkan SDA dan SDM yang berpotensi menyejahterakan rakyat pulau yang berjulukan Simeulue Ate Fulawan itu, tentu saja ceritanya lain.

Laut yang sudah menjajikan kesejahteraan saja tak dikelola, bagaimana mengembangkan yang lain. O, Simeulue di tengah samudra, bilakah nasibmu sejahtera, bilakah perahu, riak dan gelombang laut, bilakah warna warni terumbu karang dan ikan akan membawa warna kemapaman nelayan-nelayanmu…? Mintalah jawaban pada pemerintahmu, buktikan bahwa Simeulu punya pimpinan, jangan biarkan Simeulue hanya mengadu pada angin laut. Angin laut takkan bisa menjawabnya. [Oleh Ahmadi Ahmadi, Wartawan Harian Aceh]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: