Posted by: kualaclipping | October 31, 2008

Sudah Berstandar Internasionalkah Pelabuhan Malahayati?

Opini oleh: Rahhmat RA

www.harian-aceh.com on Friday, 31 October 2008 21:53

Di teluk bersejarah itu, berdiri sebuah terminal armada laut yang katanya standar internasional. Pelabuhan Malahyati namanya. Namun ketika ditinjau lebih dekat, tak ada kesan internasional di sana, yang ada bau aneh dan menyengat. Bau itu ternyata berasal dari aroma plik u atau fatarana alias kelapa busuk yang dibongkar dari kapal barang terbakar saat hendak berlayar menuju India.

Di sudut timur tampak barisan gedung tak layak pakai bekas perusahaan ikan Afaqindo Segara. Di sisi tengah terdapat gudang barang yang berisi pliek u tadi, ditambah seonggok gedung  administrasi peninggalan era 80-an dan pagar pelabuhan itu juga dilengkapi pagar besi sederhana yang sangat jauh ketinggalan dari pelabuhan internasional lainnya di Indonesia.

Pelabuhan yang masih tak beraturan itu terletak di Gampong Lamreh Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Untuk menjangkaunya, harus terlebih dahulu menempuh perjalanan sekitar 38 kilometer dari Banda Aceh. Minimnya rambu lalulintas laut seperti mercusuar di mulut pelabuhan, Pelampung suar, pelampung pengikat kapal dan tali-temali pengikat kapal untuk sandar di dermaga juga membuat suatu hal negatif dalam kesiapan pelayanan terhadap kapal-kapal yang berlabuh. Malah ada dua kapal nelayan yang dikabarkan tenggelam di depan dermaga utama beberapa waktu lalu. Dan anehnya tak ada tanda peringatan adanya kapal tenggelam di sana.

Praktis, Pelabuhan yang dibangun di zaman Gubernur Muzzakir Walad ini, untuk sementara, hanya dapat dipakai oleh kapal motor penumpang dan kapal barang pada siang dan sulit untuk dapat dipergunakan saat malam, kecuali nakhoda kapal tersebut nekat dan memiliki keahlian yang luar biasa. Apalagi di malam jumat, di mana nelayan tak melaut. Palong atau bagan tempat menagkap ikan yang idak beroperasi dicampak begitu saja di sekitar lokasi haluan kapal tanpa diberi penerang lampu.

Walau tak sehebat Lakseumana Malahayati, Kehadiran sebuah pelabuhan yang representatif dengan wajah baru ini yang telah direhab atas bantuan Pemerintah Belanda ini, diharapkan mampu berperan penting sebagai pintu gerbang untuk mengekspor komoditi unggulan Aceh menuju daerah dan negara lain. Hal ini tentu sangat didambakan semua pihak guna menggairahkan kembali perekonomian masyarakat dan mempermudah pasokan logistik untuk pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh yang sedang berlangsung.

Bencana tsunami yang terjadi di penghujung tahun 2004 telah menghempas dan menghancurkan berbagai sarana dan prasarana, termasuk fasilitas pendukung yang menjadi kebutuhan penting pelabuan itu. Darma Ishak, geuchik setempat, mengatakan bahwa pascatsunami, pelabuhan ini tak banyak berubah, kecuali pelebaran, sehingga menjadikan pelabuhan ini sepanjang 250 meter. Perpanjangan badan pelabuhan tersebut didanai oleh pemeritah Kerajaan Belanda. Selain itu juga sebuah Packing Plant atau tempat pengepakan semen curah milik  PT Semen Padang yang didistribusikan Lukman CM atau lebih dikenal dengan Lukman Kayee Adang, sebuah perusahaan distribusi di Aceh Besar. Tempat pengepakan semen tersebut  berbentuk menara menjulang  gagah dan setidaknya telah ikut menyemaraki dermaga ini.

Pelabuhan di Masa Lalu

Sebelum pembenahan, pelabuhan yang pernah jaya di masa lalu itu, hanya memiliki panjang 100 meter. Dengan kapasitas sandar satu kapal ukuran sedang. Dermaga ini diresmikan tahun 1980 oleh Presiden Soeharto dan diberi nama Malahayati. Nama pelabuhan ini diangkat dari nama salah satu sosok pahlawan perempuan Aceh yang sangat terkenal yaitu Lakseumana Malahayati yang merupakan pimpinan Armada Angkatan Laut Aceh di zaman Kerajan Aceh. Mengapa harus nama itu, mungkin karena makamnya Malahayati sendiri terletak hanya beberapa ratus meter ke arah daratan demaga tersebut.

Setelah penutupan pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh tahun 1980, pada tahun yang sama pelabuhan di Teluk Krueng Raya ini resmi menjadi daerah transit barang terbesar di Indonesia yang diresmikan Presiden kedua RI Soeharto dan atas kebijakan menteri Perhubungan yang saat itu dijabat Emil Salim. Berbagai jenis barang yang datang dari berbagai belahan dunia masuk ke daratan Aceh melalui pelabuhan itu, dan sebaliknya berbagai jenis hasil bumi juga diangkut keluar negeri dari pelabuhan itu. Namun sayang seribu sayang, akhirnya pemeritah Jakarta mengalih fungsikan hak kelola pelabuhan ke Pulau Batam. Dengan demikian satu lagi kemakmuran rakyat Aceh direnggut pusat saat itu.

Pelabuhan Malahayati yang menghabiskan 520 juta dana APBN tahun anggaran 1977/1978 itu, semenjak pengalihannya ke Batam, secara otomatis Malahayati tak mampu lagi menyokong perekonomian masyarakat setempat. Ratusan pedagang gulung tikar, buruh kasar terpaksa melirik profesi lain. Kemegahan Pelabuhan Malahayati pun sirna, dan berubah menjadi pelabuhan penyeberangan penumpang dan tempat mancing bila hari libur tiba.

Renovasi dan Peremajaan

Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter diikuti dengan gelombang Tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004 silam telah memporakporandakan hampir seluruh sarana dan prasarana Pelabuhan ini. Setelah setahun terlantar, Pelabuhan Malahayati akhirnya direnovasi kembali. Rehabilitasi tersebut dilaksanakan Pemerintah Aceh atas bantuan Pemerintah Belanda senilai 8,5 juta Euro atau sekitar Rp 97,75 miliar yang bersumber dari multi donor dan masyarakat Belanda. Bantuan dimaksud meliputi perpanjangan dermaga dan pembangunan fasilitas pendukung bongkar muat. Dengan demikian nantinya, pelabuhan yang dikhususkan untuk transit barang dan ekspor-impor itu akan kembali normal serta katanya bertaraf internasional.

Pada Januari dan Februari 2005 lalu, Menteri Perekonomian Belanda atas nama Kerajaan Belanda berkunjungan ke Indonesia dan menawarkan bantuan rekonstruksi Pelabuhan ini melalui Menteri Perhubungan RI. Selanjutnya pada tanggal 4 Juli 2005, sebuah perusahaan konsultan di Belanda, Witteveen+Bos diundang Kerajaan Belanda yang diwakilkan oleh Ecorys untuk mengajukan penawaran untuk paket pekerjaan yang meliputi desain dan konstruksi pada pekerjaan rekonstruksi pelabuhan tersebut. Sebagai realisasinya, Witteveen+Bos dengan PT. Decorient Indonesia bekerjasama dalam sebuah konsorsium melaksanakan tiap tahapan desain dan pekerjaan konstruksi. Konsorsium juga memberikan bantuan alat berat seperti mobile crane kapasitas 45 ton, forklift, dan flat-bed carrier untuk menunjang  pengerjaannya.

Sebuah pabrik di Sumatera Utara, WIKA Beton juga turut andil dalam proyek ini, perusahaan tersebut berperan sebagai penyuplai komponen beton pracetak untuk struktur jetty yang jumlahnya 450 panel dengan bobot 4 sampai dengan 24 ton dan volume total 1.100 m3 beton. Seluruh panelnya diproduksi di Sumut dan dibawa ke Aceh lewat jalan darat. Sistem beton pracetak untuk struktur jetty ini dipilih karena kualitas beton pracetak yang tinggi dan proses instalasi yang lebih cepat dan mudah jika dibandingkan dengan sistem cast in-situ.

Pada peresmian yang berlangsung hari Senin 9 Oktober 2006 sekaligus menyerahkan pengoperasionalan kembali pelabuhan Laut Malahayati kepada pemerintah Aceh, Menteri Kerjasama Pembangunan Belanda, Mrs Agnes Van Ardenne seperti yang dilansir beberapa harian lokal dan nasional saat itu, mengatakan dengan diresmikannya penggunaan pelabuhan laut yang lebih lengkap ini, maka dalam waktu ke depan proses rehabilitasi dan rekontruksi di Aceh akan lebih cepat dan lancar. Selain itu, dengan hadirnya pelabuhan yang lebih representatif tersebut, diharapkan juga akan kembali bisa meningkatkan kehidupan perekonomian masyarakat di Aceh.

Selain merehabilitasi dermaga, beberapa fasilitas baru pelabuhan akan dibangun. Nantinya, pier tempat berlabuhnya kapal akan ditambah sepanjang 20 meter untuk membantu memudahkan masyarakat dalam transportasi laut. Selelah mengalami berbagai peremajaan, panjang dermaga saat ini menjadi 240 x 16 meter, dan yang sedang dalam tahap pengerjaan 136 x 25 meter. Bila pengerjaan tersebut siap, maka total panjang dermaga mencapai 376 x 16 meter dengan kedalaman minus 9 lws, sehingga bisa disandari oleh kapal dengan bobot mati hingga 10 ribu dwt. Pelabuhan ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas cargo pelabuhan seperti crawler crane muatan 70 ton dan 200 ton, serta forklift. Dengan design baru yang katanya bertaraf internasional, dan katanya lagi bisa menstimulasi proses pertumbuhan terutama memacu recoveri ekonomi di nanggroe 1001 rencong ini.

Pembangunan Dermaga dan Trestel Tahap II

Dermaga dan Trestel Pelabuhan Malayati yang panjang sebelumnya hanya 240 M2, akan ditambah lagi sepanjang 136 M2,  dengan demikian, total panjang Dermaga menjadi 376 M2. Program tersebut dilaksanakan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR Aceh-Nias).

Donatur pembangunan Dermaga dan Trestel ini adalah Multi Donor Fund (MDF) dengan biaya sebesar kurang lebih 99 Milyard, diharapkan pada bulan Oktober 2008 ini pekerjaan phisik proyek telah terlaksana.

Dengan selesainya pembangunan Dermaga dan Trestel Tahap II tersebut dapat meningkatkan kapasitas fasilitas tambal kapal di pelabuhan dan antisipasi melonjaknya kunjungan kapal ke Pelabuhan Malahayati karena saat ini telah dibuka rute pelayaran langsung Kapal Barang dari Tanjung Priok ke Pelabuhan Malahayati. Penambahan landasan dermaga tersebut juga dapat meningkatkan kapasitas pelabuhan supaya kapal yang akan bersandar nantinya bisa lebih banyak lagi yakni tiga atau empat unit pada saat bersamaan. (sumber: Gema Pelabuhan)

Pendongkrak Perekonomian Aceh

Dengan beroperasinya kembali Malahayati, banyak pihak termasuk Pemerintah Belanda selaku pendonor berharap, pelabuhan ini mampu mendongkrak perekonomian Aceh.  Roda perekonomian akan bangkit karena didukung oleh hinterland yang sangat baik dan akan menjadi daerah perdagangan modern. Hal ini sudah dibuktikan di masa lalu, di mana Aceh maju dan berkembang berkat perdagangan bebas. Di masa kejayaanya Pelabuhan Malahayati menjadi tulang punggung perekonomian Aceh bahkan Sumatera. Barang impor yang telah terlebih dahulu masuk melalui Pelabuhan Bebas Sabang akan didaratkan di pelabuhan ini, sebelum didistribusi ke daerah lain melalui jalan darat. Sebaliknya, hasil bumi Aceh yang diekspor ke luar negeri, seperti, cengkeh, pala, lada, nilam, karet, kopi, rotan, kopra, pinang, bahkan pliek u atau patarana alias kelapa busuk juga diangkut melalui pelabuhan tersebut.

Di masa mendatang, seluruh komoditi yang dihasilkan di Aceh tadi juga sangat diharapkan dapat diangkut ke luar melalui pelabuhan Internasional ini. Sementara barang yang akan masuk ke pulau Sumatra juga diharapkan dapat masuk lewat pelabuhan ini seperti di masa lalu yang gemilang itu.

Dengan hadirnya dermaga yang lebih panjang dan lebih luas juga dapat memperpendek antrian kapal pengangkut hasil bumi dan logistik rehabilitasi dan rekonstruksi  serta barang keperluan lainya. Apalagi setelah nantinya dilengkapi dengan sebuah mobile crane, forklift berbagai ukuran serta pembangunan alat penanganan kontainer. Tentunya lebih mempermudah kegiatan perekonomian di sana.

Sebagai pintu gerbang utama perekonomian, fasilitas pelabuhan harusnya dipacu terus pengadaannya, apalagi setelah kawasan Pelabuhan Bebas Sabang benar-benar terwujud. Namun apalacur, hingga saat ini berbagai fasilitas yang sangat dibutuhkan sebagai penunjang pelabuahan belum tersedia dan aktivitas bongkar muat barang belum seperti apa yang diharapkan. Fakta di lapangan hingga hari ini pelabuhan Malahayati  masih tetap sepi, belum menampakkan diri sebagai pelabuhan impor, apalagi ekspor sebagai ketika meresmikannya. Satu-satunya kesibukan yang kerap terlihat di Malahayati adalah bongkar-muat beras terigu dan gula milik Dolog.

Dengan disahkannya Undang-undang Pemerintahan Aceh, pemerintah setempat memiliki kewenangan yang cukup besar dalam pengelolaan dan pengoperasian pelabuhan. Padahal pelabuhan ini merupakan aset yang sangat berharga dan diharapkan ke depan akan dapat membawa kemakmuran bersama yang telah lama diimpikan rakyat. (Rahmat RA)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: