Posted by: kualaclipping | October 19, 2008

Selamatkan Hutan Aceh!

Opini oleh: Pang Yatim OC

www.harian-aceh.com on Sunday, 19 October 2008 22:49

Hiruk pikuk hingar bingar suasana malam di beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh mulai terasa. Pasca Perdamaian suasana ketenagan semakin terasa bagi masyarakat Aceh. Memang damai itu indah, sangat indah. Namun nun-jauh di hutan pedalaman Aceh di beberapa Kabupaten/Kota seperti Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Besar, Aceh Singkil, Aceh Timur dan beberapa Kabupaten lainnya “Genderang Perang” mulai ditabuh.
Maraknya aksi Ilegal logging di Aceh telah membuat “Berang dan Gerah” orang No.1 di Aceh. Bang Irwandi selaku Gubernur Provinsi Aceh dengan gaya “Cowboy-nya” sering mencak-mencak dan terjun langsung ke lokasi hutan-hutan yang telah gundul akibat maraknya aksi Pembalakan liar. Ini semua terjadi akibat ulah segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab dan tak memiliki hati nurani yang juga telah melibatkan warga masyarakat di sekitar hutan yang mungkin mereka kurang memahami betapa pentingnya fungsi dan manfaat hutan sebagai penyangga kehidupan dan juga karena himpitan ekonomi alias kelaparan.
Provinsi Aceh mempunyai luas wilayah kawasan hutan seluas lebih kurang 5.356.557 Ha. Terindikasi luas lahan kritis lebih kurang 1.626.800 Ha yang berada dalam kawasan hutan seluas 788.600 Ha dan luar kawasan hutan dengan luas 738.200 Ha. (Data Dishut Prov Aceh,2007). Pasca Tsunami luas lahan kritis menjadi bertambah khususnya pada daerah pesisir serta pembalakan liar dan kebakaran hutan juga telah menyebabkan penyebaran benih serta jumlah tumbuhan yang hidup berkembang menjadi sangat terbatas.
Aksi Ilegal Logging telah membuat ekosistem hutan terganggu. Akibat dari itu, kini munculah konflik baru antara manusia dengan satwa. Banyaknya satwa liar yang turun ke kampong-kampung seperti Harimau dan Gajah, yang telah merusak kebun dan lahan para petani. Tentu hal ini apabila tidak ditangani secara serius, akan mengakibatkan problem baru. Perlu adanya Kordinasi antara BKSDA dengan Dishut dalam hal penanganan masalah konflik manusia dengan satwa. Hendaknya Pemerintah Aceh segera membentuk “Tim khusus” Satgas PKMS (Penanggulangan Konflik Manusia dengan Satwa) untuk menanggulangi masalah tersebut, yang terdiri dari : Dinas Kehutanan Prov.NAD dan Dishut Kabupaten/Kota, Balai Konservasi SDA dan Balai Taman Nasional Gunung Lauser dan perlu juga kiranya melibatkan peran dan fungsi LSM, Satkorlak dan masyarakat sebagai partisipasi.
Masalah konflik manusia dengan satwa sangatlah jarang dibahas, lebih sering dibahas masalah Ilegal Logging. Padahal konflik tersebut muncul akibat maraknya aksi pembalakan liar dan pembukaan lahan yang secara liar, serampangan, brutal dan membabi buta. Diharapkan Pemerintah Aceh melalui Dinas terkait lebih menigkatkan pengawasan dan patroli dan harus didukung oleh semua pihak juga harus adanya ketersediaan dana yang memadai. Pengawasan kedalam Institusi terkait harus lebih diutamakan mengingat masih banyak oknum yang “bermain mata” namun harus diiringi dengan peningkatan kesejahteraan bagi mereka.

Solusi Melestarikan Hutan Aceh
1. Polhut yang telah direkrut harus diperhatikan kesejahteraannya. Apabila kesejahteraan mereka sering terlambat atau terabaikan, akan sangat mungkin terjadinya penyimpangan di lapangan. Pemerintah Aceh diharapkan dapat mensosialisasikan kepada masyarakat tentang fungsi dan makna hutan sebagai penyangga kehidupan, dan dalam mensosialisasikan ada beberapa cara yang mungkin dapat lebih efektif dan tidak salahnya kita mencobanya yaitu dengan melibatkan peran serta masyarakat atau LSM baik lokal maupun dari luar yang komit dan peduli akan lingkungan secara komprehensif.
2. Pemerintah juga dapat mengajak atau merekrut Pawang Uteuen dan juga Para Ulama serta ahli komunikasi yang dapat menjembatani masalah lingkungan, terutama terkait dengan masalah Illegal logging dan konflik manusia dengan satwa liar.
Peran para Ulama dalam hal ini janganlah disepelekan, karena mereka punya cara tersendiri untuk memberikan gambaran dan masukan kepada masyarakat tentang fungsi dan makna hutan melalui kegiatan pengajian, dan ceramah-ceramah yang diadakan baik selepas shalat magrib atau bertepatan dengan ceramah Jumat dan Hari Besar Islam, yang dapat diselingi di antara ceramah agama. Kebiasaannya pesan dari ulama untuk masyarakat lebih efektif, dapat dipercaya dan lebih didengar oleh masyarakat Aceh.
3. Melalui kegiatan seni juga dapat disosialisakan tentang fungsi dan makna hutan, yaitu dengan cara membentuk Tim sosialisasi Safari “Sligkuh Sedini” (Sadar Lingkungan Hidup sejak dini) yang diselingi dengan kegiatan atau acara pentas Drama, Syair dan Lagu, serta pemutaran film Dokumenter dilapangan terbuka yang bertemakan tentang lingkungan, seperti film yang berjudul “Masa Depan yang Hilang” yang menceritakan kisah tentang akibat pembalakan liar.

Tentu hal ini semua membutuhkan biaya, namun diprediksikan hal ini lebih efektif dapat menyentuh hati nurani masyarakat yang secara langsung dapat mendengarnya dan meresapinya, dibandingkan dengan dana yang harus dikeluarkan begitu besar untuk mengadakan patroli pengawasan hutan secara rutin selama 24 jam. Ironisnya lagi untuk kepentingan Kampanye “Politik”, kita berani menghamburkan dana sampai ratusan juta bahkan lebih, seharusnya untuk menangani masalah lingkungan kita juga harus berani mengadakan kampanye sosialisai tentang fungsi dan makan hutan serta akibat yang timbul dari pembabatan hutan secara liar tanpa aturan.
Hal ini juga penting, karena menyangkut masalah hajad hidup kepentingan orang banyak. Juga perlu dibangun kerjasama dengan media cetak dan elektronik dalam hal sosialisasi tersebut, jangan cuma berani buat pengumuman “Tender proyek” saja atau sekedar “Iklan bisnis”.
Namun di lain pihak juga harus dipikirkan bagaimana caranya untuk Pemberdayaan Ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan, agar tidak dimanfaatkan oleh oknum cukong kayu. Seperti dengan melaksanakan program eko wisata/wisata alam sebagai daerah tujuan wisata, membangun hutan biologi (Pengembangan tanaman obat-obatan), Laboratorium Botani (Untuk penelitian) dan program lainnya sejauh tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku dan dapat melibatkan masyarakat di sekitar hutan tersebut.
Pada akhirnya kita semua harus sadar, bahwa hutan Aceh adalah “Paru-paru dunia” sebagai penyumbang oxygen terbesar. Ibarat tubuh apabila paru-parunya rusak, maka kita hanya tinggal menunggu waktu untuk mati dan akan menuai musibah bencana alam yang begitu dahsyat. Kita semua berharap semoga mendapat hidayah dari Yang Maha Kuasa agar dapat sadar untuk melindungi dan menjaga kelestarian hutan, karena yakinlah, dengan Hutan Lestari rakyat akan sejahtera.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: